• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Friday, January 16, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Membuat Warna-warni Jajan Suci Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
26 November 2012
in Berita Utama, Budaya, Kabar Baru
0
1

Bagi orang Bali pada umumnya, upacara agama menjadi semacam perayaan.

 

Oleh karena itu, tak hanya ritual yang meriah, sarana upacara itu sendiri selalu menarik untuk dilihat. Tak hanya bentuknya yang beraneka rupa tapi juga warna sarana upacara itu. Salah satu bagian menarik dari sarana upacara tersebut adalah jajan suci.

Menariknya jajan suci ini karena warnanya yang cerah, seperti merah muda, kuning, oranye, dan seterusnya. Bentuknya juga unik. Ada yang serupa naga, kepala harimau, dan lain-lain yang cenderung agak surealis, nyata tapi bentuknya tidak jelas. Karena pembuatannya agak rumit, makin sedikit orang Bali yang membuat jajan suci ini sendiri. Sebagian orang, dengan alasan lebih praktis, membelinya dari pendeta atau griya, tempat pendeta tinggal.

Salah satu tempat membuat jajan suci tersebut berada di griya Ida Resi Bujangga Wesnawa Ganda Kesuma di daerah Penatih, Denpasar Timur.

Sehari-hari tiga perempuan sedang membuat jajan-jajan untuk sarana upacara ini. Ni Ketut Candri, 60 tahun, perempuan tertua yang sedang bekerja sore itu. Dia bekerja bersama anaknya, Ni Wayan Metri, dan pekerja lain Ni Wayan Marni.

Pembuatan jajan suci ini seperti kue pada umumnya. Bahan bakunya tepung beras. Setelah direbus sehingga teksturnya serupa plastisin, bahan ini diberi pewarna buatan. “Agar warna lebih bungah (cerah),” kata Candri. Dia melanjutkan, karena menjadi sarana upacara, maka warna jaja suci haruslah cerah, sesuatu yang memberikan semangat.

“Kalau pewarna alami tidak terlalu cerah,” tambahnya.

Setelah diberi warna, bahan serupa plastisin tersebut kemudian dibentuk sesuai bentuk yang diinginkan. Salah satu bentuk yang dibuat sore itu adalah palegembal yang serupa krupuk. Candri dan anaknya membuat aneka bentuk dengan tangan mereka. Adukan tepung dipilin memanjang seperti mie mentah lalu dipotong dan dibentuk sesuai keinginan.

Jajan yang sudah terbentuk ini kemudian langsung digoreng tanpa dijemur sama sekali. Oleh karena itu bentuknya tidak mengembang seperti krupuk yang digoreng setelah dijemur lebih dulu. Warnanya juga tetap cerah. “Setelah digoreng, jajannya bisa awet berhari-hari,” ujar Marni yang tiap hari bertugas menggoreng jajan suci tersebut.

Proses pembuatan dari pengadukan tepung hingga penggorengan jajan suci ini tak sampai 30 menit. Termasuk cepat.

Menurut Metri, jajan suci merupakan salah satu perlengkapan wajib bagi umat Hindu ketika upacara agama. Berbeda dengan gebogan, sarana dari buah-buahan yang biasa diusung di atas kepala, yang bisa tidak ada, maka jajan suci justru harus ada ketika upacara yadnya, baik itu manusa yadnya, dewa yadnya, dan seterusnya. “Jajan suci itu jantungnya yadnya,” tambah Metri.

Sebagai perlengkapan upacara, minimal ada 21 jenis jaja suci ini dalam sebuah upacara. Tapi, menurut Metri, saat ini sebagian besar orang (perempuan) Bali hanya bisa membuat tiga jenis jaja suci tersebut. Karena itu, jajan suci yang diproduksi di Griya Ida Resi Bujangga Wesnawa Ganda Kesuma pun laris.

Mereka menjual satu paket sarana upacara, termasuk batan surya, pejati, isi caru, beras pemangku, dan lain-lain seharga Rp 4,5 juta. Pelanggannya tak hanya di sekitar Penatih tapi juga hingga Kerobokan, Kuta, Tabanan, dan lain-lain.

Terlalu sibuk membuat sarana upacara sendiri? Silakan pesan jajan suci berwarna-warni ini. [b]

Tags: AgamaBaliBudayaKuliner
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Next Post
Mana yang Lebih Penting: Kebudayaan atau Pariwisata?

Mana yang Lebih Penting: Kebudayaan atau Pariwisata?

Comments 1

  1. imadewira says:
    13 years ago

    Orang tua saya kebetulan penjual banten upacara2 besar. Jadi hampir tiap hari juga membuat jajan suci ini, kami menyebutnya jaje cacal. Istri saya juga paling senang kalau disuruh membantu membuat jajan ini.

    Oya, berbeda dengan jajan lainnya pada sarana banten, jajan ini tidak dimakan lho, karena tidak ada rasanya dan juga jaman sekarang sebagian besar menggunakan bahan yang tidak boleh dimakan.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia