Memaknai Simbol di Balik Jamuan Jokowi – Prabowo

Pertemuan Presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto Sabtu (13/7/2019). Foto ANTARA via alinea.

Bagaimana memahami pertemuan Jokowi – Prabowo dari sudut pandang kepunakawanan?

Menjelang Joko Widodo dilantik (kembali) sebagai Presiden RI ke-8 untuk periode 2019-2024, di kolom ini saya menulis catatan dengan judul “Ke-punakawan-an”. Hal ini mengacu pada pertemuan di stasiun MRT dan gambar latarbelakang saat pertemuan.

Pertemuan itu berlatar belakang Gunungan dengan empat Punakawan: Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Lokasunya di sebuah restoran mall.

Jamuan Jokowi-Prabowo tersebut sebagai rekonsiliasi setelah pemilu 2019. Pertemuan dan lokasinya itu amat simbolik. Berlatar cerita wayang dan didukung sejumlah faktor paralel, pertemuan itu pun mudah dipahami.

Pertama, sebagaimana Petruk yang Punakawan, Jokowi adalah representasi “pemerintah dari, oleh dan untuk rakyat”. Petruk dadi ratu. Ditandai dengan peran besar relawan dalam membalikkan perolehan suara.

Kedua, Punakawan yang mengambil alih kekuasaan para kesatria karena situasi krisis. Memang bukan krisis kekuasaan yang mesti berlaku atas naiknya Jokowi, melainkan apa yang anak zaman-now sebut “krisis kreativitas”, khususnya dalam pemerintahan.

Perbedaan lain, jika ingin bermain wayang dengan sistem kasta di mana Punakawan dianggap sebagai rakyat berkasta sudra, maka terjadi pengambil alih kekuasaan dari para kesatria secara demokratis. Mengingat, Jokowi adalah pedagang meubel cum “tukang insinyur”, atau weisya.

Maka rakyat dari kasta weisya, atau pedagang yang berkuasa. Terlebih dengan anak-anaknya, yang mewarisi bakatnya, sebagai pedagang martabak, pisang goreng, atau kopi. Bukan batubara, minyak atau emas-berlian.

Pemilihan presiden sebelum-sebelumnya, dalam konteks wayang adalah pertarungan antar kesatria. Masuknya Jokowi ke gelanggang adalah fenomena yang sama sekali baru dan berbeda.

Sebagai presiden, Jokowi sudah menunjukkan kreativitasnya saat memerintah pada 2014-2019. Mulai dari pembangunan infrastruktur sampai menjinakkan. Berdamai dengan para naga melalui pengampunan pajak atau 51 persen saham Freeport. Mirip kisah bayi Parikesit, menjadi raja Hastina dalam cerita wayang paska Bratayuda

Situasi sedikit beda saat Jokowi memasuki pemilihan presiden 2019-2024. Ketika memasuki gelanggang pada 2014, Jokowi dianggap sebagai media darling. Dia dicitrakan sebagai Petruk atau Punakawan/wong cilik, yang (mungkin?) “melawan kemapanan”.

Sasaran Naga

Namun, kini, sebagai “calon presiden, yang sedang menjabat presiden”. Raja balita, atau “kere munggah bale”, yang punya kuasa. Sudah dilihat sebagai penguasa, setidaknya oleh sesama penguasa..

Sebagai (calon) presiden, menghadapi calon presiden lain, yang bukan wong cilik. Dalam arti pemilihan presiden 2019 kembali terjadi pertarungan antarkesatria. Relawan pendukung Jokowi masih ada dan sedikit-banyak tetap menentukan, tapi faktor koalisi antarpartai jauh lebih berperan ketimbang sebelumnya.

Jokowi saat ini dijagokan “Partai Koalisi Jokowi” dengan segenap visi, misi dan isi-nya. Pencitraan Ke-punakawan-an, atau wakil wong cilik tetap berlangsung. Tapi massa mengambang, atau wong cilik itu sendiri sudah terbagi dua: Cebong vs Kampret.

Artinya, personifikasi Jokowi sebagai Punakawan sudah tidak cocok lagi. Sebagai gantinya: Wong gede/agung.

Dalam konteks budaya politik wayang (baca: Mahabharata) yang sudah terbumikan begitu rupa, dan tetap diikuti bayang-bayang ceritanya. Posisi wong gede/agung baru, atau New Kids on The Block, menjadikan Jokowi sasaran para naga, terutama naga Tatmala/Tatsaka.

Karenanya, demo dan kerusuhan Mei 2019, bisa dilihat sebagai upaya Jokowi membentingi diri dari serangan para naga -seperti Parikesit. Dan sidang Mahkamah Konstitusi pun menjadi semacam upacara “Sarpahoma”, atau yadnya Sarpha, dalam menjinakkan para naga.

Kini, setelah pertemuan dan jamuan makan “rekonsiliasi”, Jokowi lanjutkan dengan pidato politik: “Visi Indonesia”, dengan tempatkan Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai prioritas pembangunan. Mungkin terinspirasi dari Janamejaya, anak Parikesit, yang berkuasa setelah suksesnya upacara Sarpahoma, dan mensejahterakan rakyat Hastina. Menempatkan Jana/jnana, atau ilmu pengetahuan sebagai kunci mencapai kemakmuran semesta raya.

Mudah-mudahan tidak terpleset selamatkan diri masing-masing, dan rakyat/punakawan sebagai tapak latar seperti rezim sebelumnya. [b]