Mari Belajar dari Media

Oleh Pande Baik

Saban hari ada saja hal yang dapat dilihat dibaca maupun dirasakan. Ada rasa pedih karena kebenaran tak jua dimunculkan ke permukaan. Ada rasa sakit karena merasakan hal senasib. Ada kegembiraan lantaran apa yang disukai akhirnya datang. Ada pula renungan yang mampu kerutkan kening usai menelan informasi yang dilemparkan ke dunia nyata.

Namun, herannya, ada saja pengulangan-pengulangan kisah yang mungkin seharusnya tak terjadi lagi.

Mungkin saja orang-orang seperti ini tak mampu tahankan rasa inginnya akan sesuatu, namun malas mendapatkan dengan usaha keras, so shortcut jadi pilihan. Seperti kata Bang Iwan Fals ‘Ingin adalah sumber Derita’.

Apa yang dituliskan setiap hari oleh puluhan media cetak adalah berbagai macam kepentingan dan hobi. Kehidupan sosial hingga pemberitaan visual beserta segala macam kekerasan penindasan luapan jiwa tertuang begitu gamblang sejak dibukanya keran kebebasan pers dalam menyuarakan isi hati rakyatnya.

Korupsi makin menjadi. Segala anggaran dipotong sana sini demi kepentingan segelintir anggota Dewan yang Terhormat untuk alasan kunjungan kerja sampe studi banding. Ironisnya mereka tak merelakan segepok duit yang disodorkan untuk digunakan menekan harga bahan pokok yang kian hari makin menanjak saja.

Kehidupan sosial pun tak lagi nyaman tentram. Segala daya upaya untuk memenangkan persaingan hingga rela menjual harga diri demi menaikkan rating sang pecundang ke tampuk paling tinggi, makin mengubah perwajahan keseharian yang bagi sebagian orang dengan sangat terpaksa harus dilewati.

Hey, no body cares…

Sebegitunya media sudah mencoba menampilkan segala kebobrokan mental figur yang ada di dalamnya tak jua membuat satu perubahan kecil untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, nrimo kata orang Jawa. Yang ada dalam pikiran bagaimana agar keinginan bisa seperti makan cabe. Langsung terasa pedasnya.

Yah, kata orang Hindu Bali, inilah Rwa Bhineda. Ada yang baik dan berusaha untuk selalu jujur dan ada juga yang tidak peduli dengan tetangga sebelah maupun orang-orang yang tak beruntung masih bergelut dengan sampah demi masa depan mereka.

Sesungguhnya pembelajaran dari media cetak maupun visual sudah mampu gantikan segala ajaran norma sekaligus aturan tak tertulis dalam bermasyarakat, karir maupun tujuan lahir ke dunia ini. Satu perubahan kecil pada hati nurani setiap orang yang berjalan di bumi ini sungguh dinanti. Namun lagi-lagi beralasan akan kemajuan teknologi, waktu semakin sempit lantas melupakan arti saling hormat menghormati dan toleransi antar umat beragama.

Padahal semakin banyak pula media hingga perseorangan yang berusaha untuk menyadarkan betapa indahnya hidup tanpa hal-hal yang membebani pikiran setiap malam. Hidup bukan lagi untuk memperbaiki citra diri yang semakin memburuk saja. Semua seakan sirna oleh kemewahan dan kepuasan.

* * *

Untuk orang-orang yang aku cintai dan kupikirkan setiap malam menjelang tidur. Semoga kalian mengerti kegelisahan ini. [b]