Mualaf Foundation, Ruang Persaudaraan Mualaf Bali

Pada saat Ramadhan ratusan orang berkumpul untuk buka puasa merupakan hal lumrah.

Tapi, kegiatan serupa di Aula Taman Pendidikan Quran (TPQ) Masjid Agung Sudirman, Denpasar akhir September lalu tergolong istimewa. Pesertanya para mualaf, yaitu orang yang baru menganut Islam.

Selepas pukul 16.00 Wita, undangan dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat, mulai berdatangan. Sesuai ajaran Islam, panitia mengatur jarak antara undangan wanita dan pria. Satu sama lain saling bertegur sapa penuh keakraban. Sesama wanita atau pria, bersalam-salaman dan berpelukan sebagai tanda persaudaraan. Seiring bertambahnya waktu, suasana semakin riuh karena semakin banyak undangan yang datang dengan membawa suami atau istri, serta anak-anaknya.

Seketika keramaian mereda, ketika panitia memutar film yang mengisahkan akhir kehidupan manusia yaitu kematian. Dikisahkan bahwa tempat kembali dan imbalan bagi orang beriman sangat jelas. Pun sebaliknya. Para undangan sampai terharu, sedih, dan sesekali menghela nafas.

“Beginilah kalau kami sedang berkumpul, ramai dan penuh keakraban. Materi pun kami berikan dengan berbagai cara diantaranya melalui pemutaran film seperti sekarang ini,” kata Elvi Novia K Budi, salah seorang pendiri dan pengurus Muallaffoundation (MF).

MF merupakan lembaga yang diperuntukkan bagi para mualaf di Bali, khususnya Denpasar. Berdiri 30 Mei 2002, MF kini mempunyai anggota pembinaan lebih dari 100 orang. Disamping itu, terdapat anggota tidak aktif atau partisipan yang jumlahnya puluhan orang. Beberapa orang dari dua kelompok keanggotaan itu, sekaligus sebagai donatur MF. Menurut Novia, pendanaan MF selama ini masih mengandalkan donatur baik di kalangan MF maupun diluar organisasi. Pun pelaksanaan buka puasa di hari itu, sebagian pengeluaran berasal dari bantuan para budiman tersebut.

Soal dana lagi, masih menurut Novia, terkadang pengurus dan anggota bekerjasama mengadakan bazar dan pengumpulan zakat, baik zakat profesi, zakat mal (harta), zakat penghasilan, maupun zakat fitrah. Alhamdulillah, lanjutnya, dana yang terkumpul bisa untuk menjalankan agenda MF selama ini.

Ke dapan, MF mempunyai target untuk mempunyai sumber penghasilan dari usaha sendiri. MF sempat membuka usaha jasa pengetikan dan penyewaan komputer. Tapi karena suatu hal akhirnya terhenti. Novia menambahkan, ”Rencana usaha ada, termasuk mungkin membuat koperasi. Tapi kami masih ada keterbatasan orang yang mampu dan luang untuk ditempatkan sebagai pengurus atau pengelola.”

MF dibentuk karena keprihatinan sejumlah orang yang mengetahui banyak mualaf di Bali tanpa mendapat pembinaan aqidah maupun ibadah. Untuk itu, program utama MF adalah memberi pembinaan keislaman secara menyeluruh dan berkesinambungan. Selain memperkenalkan indahnya Islam serta menyadarkan pentingnya pengkajian secara berkelanjutan, masih kata Novia, melalui MF diharapkan terwujud komunitas atau masyarakat yang madani.

Diakui Halimah, salah seorang mualaf dan aktif di MF, berpindah agama merupakan proses yang mudah termasuk ketika masuk Islam. Namun, awalnya akan merasa hampa ketika memeluk Islam tapi tidak mengetahui ajaran dan tata cara beribadah. Tak jarang, rasa mindernya muncul ketika berkumpul dengan sesama muslim. Termasuk ketika ke masjid, lanjut Halimah, “Malu, kalau gerakan sholatnya salahlah, tidak bisa baca Alquran dan sebagainya.”

Secara bertahap, ia mempelajari sendiri tentang Islam. Halimah masuk Islam karena menikah. Sayangnya, sang suami terlalu sibuk bekerja sehingga kurang waktu untuk membantu Halimah mengenal Islam. Ketika diajak mengikuti pembinaan di MF, Halimah mengaku setengah enggan. Tapi rasa penasaran, akhirnya membawa Halimah terlibat aktif di MF sampai sekarang. Ia bersyukur, ada MF yang mengajari baca dan tulis Alquran, atau memberikan kajian tentang berbagai hal seputar Islam.

Khusus bidang pembinaan dan pelayanan umat, Novia menjelaskan, MF memang mempunyai sejumlah program. Bagi para mualaf yang berminat, bisa mengikuti pembinaan secara berkala khususnya untuk menyelami makna Islam, makna syahadat, Rukun Islam, persaudaraan dan kehidupan bermasyarakat dalam Islam, pengenalan pada sifat-sifat Allah berikut maknanya, dan sebagainya.

“Kami tekankan bahwa Islam itu agama yang mudah dalam pelaksanaan ibadahnya, dan menjunjung tinggi persaudaraan baik sesama muslim maupun nonmuslim,” tambahnya. Secara bertahap, dibentuk pula kegiatan belajar membaca dan menulis Alquran. Hal tersebut diawali dengan pengenalan huruf-huruf hijaiyah, tentang harokat (tanda baca dalam Alquran), tajwid (cara baca) dan sebagainya. “Tidak beda dengan ketika kita belajar huruf abjad-lah, harus sabar dan benar pengucapannya.” Pembekalan tentang tata cara dan bacaan sholat juga diberikan. Sebab, lanjut Novia lagi, sholat adalah ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim.

Pembinaan rutin MF dilaksanakan sepekan sekali, di tiga tempat yakni Masjid Sudirman Agung, Canggu dan Monang-Maning. Pemilihan tempat disesuaikan dengan domisili mayoritas anggota. Pembinaan bagi pasangan suami istri (pasutri) juga diagendakan dua kali dalam sebulan. Namanya Pondok Sehati. Menurut Novia, acara Pondok Sehati khusus membahas tata cara pergaulan pasutri dalam Islam, dan aneka masalahnya.

Sedangkan pertemuan tiga bulanan yang diperkenalkan dengan nama TAMU (temu muka mualaf), biasanya ada taujih atau ceramah tentang Islam secara umum. Terkadang pula, diisi dengan bedah buku seperti yang berjudul ‘Wisata ke Surga’. Acara ini, kata Novia, sekarang dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari besar Islam seperti Maulud Nabi, Tahun Baru Hijriah, dan lainnya.

MF melayani pula permintaan pembinaan bagi calon mualaf. Sebenarnya, tegas Novia, sebelum memutuskan memeluk Islam seseorang sebaiknya mengenalinya terlebih dahulu. Bila memungkinkan, mempelajarinya secara matang. “Ya ibaratkan biar tidak seperti membeli kucing dalam karung. Ber-Sahadat kan sangat gampamg dan bisa dilakukan siapa saja. Tapi konsekuensi setelahnya juga harus diikuti,” tuturnya. Ia juga menambahkan,”Banyak mualaf yang masuk Islam tanpa berbekal banyak pengetahuan tentang Islam, lalu tidak ada yang membantu membina, akhirnya sempat bingung manakala tahu ajaran Islam hanya secara sepotong-sepotong.”

Serangkaian dengan itu, MF juga sebagai media proses pengislaman sesorang. Hal ini sudah dikoordinasikan dengan Kantor Urusan Agama (KUA) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain mendapatkan sertifikat bahwa yang bersangkutan telah memeluk Islam, MF secara moril bertanggung jawab pada pembinaannya. Jadi, tegas Novia, “Bagi yang berkeinginan proses masuk Islam-nya oleh MF, harus bersedia mengikuti pembinaan. Kasihan kan kalau dilepas begitu saja.”

MF juga siap memberikan surat keterangan tentang kebenaran bahwa yang bersangkutan telah memeluk Islam untuk keperluan tertentu. Lalu Novia mengisahkan, belum lama ini terdapat sepasang mualaf asli Bali yang awalnya beragama Hindu, meminta surat keterangan telah beragama Islam untuk penggantian kartu tanda penduduk (KTP). Sang istri, tambahnya, foto dalam KTP lama sudah berkerudung namun tetap ditulis beragama Hindu. Nah, untuk merubahnya pengurus desa setempat meminta surat keterangan. ”Karena kami memang tahu persis beliau memang sudah Islam, ya kami membantu membuatkan. Termasuk mencarikan saksi-saksinya,” urai Novia.

Khusus Ramadhan, menurut Novia lagi, selain buka bersama ada acara lain semisal pemilihan mualaf teladan. Parameternya, mualaf harus aktif dalam pembinaan maupun kegiatan baik yang digelar MF dan lembaga lain, rajin silaturahim dan paling banyak mencari teman, rutin melaksanakan sholat dan mengaji. Kegiatan ini bertujuan memacu semangat anggota untuk beribadah. Pengumuman mualaf teladan, biasanya dilakukan bersamaan dengan acara halal bihalal, yang pada tahun ini rencananya diselenggarakan November mendatang.

Slamet Adi Priyatna selaku ketua MF menambahkan, anggota pembinaannya sebagian besar mualaf karena pernikahan. Didominasi profesi ibu rumah tangga, kebanyakan termasuk golongan menengah ke bawah. Ke depan, tambahnya, MF berniat mengembangkan kegiatan serupa di kabupaten lain di Bali. Tapi sejauh ini masih terkendala sumber daya manusia (SDM) atau pelaksana dan pendanaan. Bagi yang berminat membantu pendanaan, Slamet menyilakan untuk mengirimkannya melalui rekening BCA 767.01360.56 atau BMI 751.00030.22.

Pada awal pendirian MF, Slamet mengakui banyaknya hambatan. Dulu, ucapnya bersemangat, mengajak mualaf untuk kajian rutin saja terasa berat. Rata-rata, para mualaf datang ketika sempat, dan katanya, “Lebih banyak yang tidak sempat, silih berganti sehingga menyulitkan pula pendataan dan pemberian materi kajian pun kurang runtut.”

Pendekatan personal pun akhirnya dilakukan. Tak jarang, pengurus menyempatkan silaturahim ke rumah yang bersangkutan. Lalu meniru kegiatan marketing level marketing (MLM), setiap anggota khususnya yang sudah aktif di pembinaan supaya mengajak teman mualaf lainnya agar bersedia mengikuti kegiatan MF. Hasilnya setelah lima tahun berjalan, justru sekarang MF yang kekurangan SDM khususnya untuk tenaga pembina. Pembinaan bagi mualaf di Negara yang sempat berjalan di tahun kedua, terpaksa terhenti karena kendala serupa. Saat sekarang, Slamet dan pengurus lain sedang gencar mencari tenaga pembina yang bersedia bekerja sukarela. [b]