• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, June 10, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Lembaga Adat Perkuat Pertanian Organik di Bali

Anton Muhajir by Anton Muhajir
13 August 2010
in Kabar Baru
0
0

Teks dan Foto Anton Muhajir

Lembaga adat di Bali berperan penting dalam mendukung penerapan pertanian organik.

Demikian salah satu pelajaran dari kunjungan lapangan petani ke Subak Abian Pule Sari, Banjar Muntig, Desa Tulamben, Karangasem, Bali Kamis pekan lalu. Kunjungan diikuti sekitar 60 petani dari 11 organisasi petani dari Flores, Timor, Boyolali, Tana Toraja, Polewali Mandar, dan Kalimantan.

Selama satu hari, petani belajar tentang peran organisasi petani termasuk sistem kontrol internal (internal control system), pengolahan mete organik, pembuatan arak berbahan mete, sampai pemanfaataan limbah mete organik menjadi pakan ternak.

Selain berdiskusi di kantor koperasi, petani peserta kunjungan lapangan juga melihat langsung pembuatan bioethanol dari biji mete organik serta pengupasan kulit kacang mete dari bijinya. “Kami salut dengan peran lembaga adat dalam organisasi petani di sini,” kata Baselius Kolo, petani dari Bituna, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Subak Abian Pule Sari merupakan organisasi petani di perkebunan kering (abian) di daerah timur Bali. Petani setempat membudidayakan mete organik sejak sekitar tahun 1976.

Menurut I Nengah Sudarma, Ketua Subak Abian Pule Sari, petani di dusun Muntig mengunakan aturan adat (awig-awig) untuk menerapkan pertanian organik. Misalnya, petani tak boleh menggunakan pupuk kimia untuk menyuburkan pohon mete di kebun mereka. “Kami menggunakan pupuk dari kotoran sapi,” kata Sudarma.

Saat ini ada 62 anggota subak abian yang menerapkan pertanian organik. Mereka menerapkan ICS, di mana pengawasan praktik pertanian organik, dilakukan sendiri oleh sesama anggota. Seluruh anggota subak, kata Sudarma, sudah mendapatkan sertifikasi organik dari Institute of Marketology (IMO) Swiss sejak tahun 2008.

Dengan sertifikasi ini, mete produksi petani subak abian Pule Sari bisa mendapat kepercayan dari pembeli bahwa produk mereka memang organik.  “Sertifikasi juga membuat harga produk kami meningkat,” kata I Kadek Suparta, Ketua ICS.

Mete merupakan produk utama petani setempat. Dengan lahan luas sekitar 97,5 hektar, mereka memproduksi 50 ton mete organik per tahun. Mete organik itu dijual dengan harga antara Rp 70.000 hingga Rp 75.000 per kilogram biji kering yang sudah dikupas kulitnya. Pemasarannya, antara lain, ke Jerman.

Praktik pertanian organik oleh petani ini didukung pula oleh sistem adat di Bali di mana setiap warga ikut desa adat. Menurut Suparta, sistem banjar memudahkan petani untuk saling mengawasi sesama anggota. Apalagi aturan itu sudah dibuat dalam bentuk awig-awig.

Salah satu mekanisme yang digunakan adalah adanya denda bagi warga adat yang melanggar awig-awig. “Kalau ada yang melanggar, dia akan didenda secara adat dengan membayar beras pada banjar,” kata Suparta.

Efektifnya aturan adat ini yang menarik bagi petani peserta kunjungan lapangan. “Kalau kami bisa menerapkannya di tempat kami, saya yakin kami akan bisa seperti mereka,” kata Baselius Kolo. [b]

Tags: KarangasemMetepertanian organik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Transformasi Digital dan Jejak Ritual di Subak Kedisan Kaja

Transformasi Digital dan Jejak Ritual di Subak Kedisan Kaja

9 September 2025
The Waves Upon a Trance

The Waves Upon a Trance

7 June 2025
Kegigihan Hampir 40 Tahun dalam Mempertahankan Kerajinan Lontar 

Kegigihan Hampir 40 Tahun dalam Mempertahankan Kerajinan Lontar 

14 November 2024
Ketika Musim Panen Segera Tiba

Pertanian Organik, Denyut Baru Penghidupan Geriana Kauh

13 November 2023
Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

Napak Tilas Konflik Tanah Desa Adat Bugbug

23 October 2023
Next Post

Waspada Virus Menghabiskan Penyimpanan Anda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Plastik di lautan

Festival Laut 2026: Mengenali Berbagai Masalah di Laut termasuk Perdagangan ABK

9 June 2026

Warisan Kuliner Peranakan Kian Tergerus di tengah Hidup Serba Instan

9 June 2026
Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Hindari Penggunaan Bahan Ini dalam Banten

8 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia