• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, April 18, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Lemah Gemulai Penari Legong Laki-laki

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
28 November 2016
in Budaya
0
0
Penari Legong Muani ketika tampil di Pesta Kesenian Bali 2016. Foto Luh De Suriyani.
Penari Legong Muani ketika tampil di Pesta Kesenian Bali 2016. Foto Luh De Suriyani.

Lirik lagu dalam bahasa Bali mengalun diiringi lentur gerak penari.

Ngalap wani mejuan beten, ngalap tuung ampeg-ampegang. Lamun bani ngalih kemeten, sedek suung injeg-injegan. Ada biu jaja mewadah dulang, sisan jaje kotang. Kaden jegeg mengayang, mare kebitang ngadut pentong.

Nyoman Wija, juru tandak atau dalang dalam pertunjukkan Legong Muani (penari legong laki-laki) menyanyikan lirik di atas dengan lentur. Saat itu adegannya adalah dua penari yang bertransformasi menjadi Barong Landung. Penonton tertawa dan bertepuk tangan.

Gaya penarinya bak ondel-ondel, terhuyung ke kiri dan kanan. Karena dikutuk menjadi barong Landung oleh Dewi Danu (penguasa danau Batur). Lirik di atas menyiratkan bahwa para penari wajah dan pakaiannya perempuan tapi alat kelaminnya laki-laki.

“Memang ada yang waria,” kata Wija. Sebagian besar tidak.

Inilah para penari Legong Muani dari Sanggar Ardhanareswari. Sebuah bentuk kesenian lintas gender sekaligus mengapresiasi bakat transgender.

Ada beberapa judul legong yang biasa ditarikan penari Legong Muani, terutama pada ajang Pesta Kesenian Bali 2016. Legong klasik ini diiringi gamelan Semara Pegulingan dari Sekaa Gong Punia Bhakti.

Dimulai dengan Legong Condong sebagai pembuka kemudian dilanjutkakan Legong Kupu-kupu Tarum, mengisahkan perubahan kepompong menjadi kupu-kupu cantik.

Pada babak inti, Legong Raja Cina yang memaparkan asal muasal legenda barong landing. Diawali pertemuan raja Bali bernama Jaya Pangus dengan seorang putri Cina Kang Chi Wie. Mereka menikah namun tak diberi anak, Jaya Pangus bertapa meminta keturunan di Gunung Batur dan bertemu Dewi Danu.

Ia menikahi Dewi Danu dan memiliki seorang anak. Alkisah Sri Jaya Pangus kembali ke kerajaan dan disambut Kang Chi Wie. Suatu hari, Dewi Danu melihat kemesraan mereka berdua dan murka. Ia membakar keduanya secara mistis. Rakyat berduka dan minta Dewi Danu menghidupkan kembali. Sang Dewi menghidupkan keduanya dalam sosok barong Landung agar bisa dipuja masyarakat.

Selanjutnya beberapa penari melanjutkan dengan Legong Bramara, tentang bidadari turun ke kayangan berwujud kumbang tamulilingan yang diberi tugas menyemai benih tanaman.

Sebagai penutup adalah legong Sudarsana. Tentang seorang patih Sudarsana abdi setia raja Widarsa. Ada adegan perkelahian antara penari yang membuat beberapa penari trance saat selesai menari. Mereka tiba-tiba lunglai lalu dibopong ke belakang panggung dan diperciki tirta.

“Ini 30 menit dengan pakaian seperti ini saja susahnya minta ampun. Dicekek pinggang. Panas minta ampun,” seru penari legong laki-laki paling tua Nyoman Sukama.

Pria berusia sekitar 50 tahun ini menyebut ini salah satu caranya melestarikan tradisi di tengah diskriminasi sekitarnya. “Sering diejek banci,” ia tertawa.

Sukama dan belasan rekannya berlatih intensif beberapa bulan untuk menguasai beberapa tari legong dengan durasi utuh. Tak heran, penampilan Ardhanareswari ini hampir dua jam di arena PKB.

Sukama senang bisa menarikan tarian dengan langgam perempuan ini karena sejak usia lima tahun ia hanya diperbolehkan menarikan tari laki-laki seperti Gopala.

Gusti Made Agus Wira Aditama, manajer sanggar memaparkan misi grup ini sangat jelas sesuai arti nama sanggarnya. Didirikan oleh alm I Nengah Suarca dari Sading. Tempat latihannya di pura Dalem Kediri, banjar Negari, Sading. Namun diberi sekretariat di Jl Raya Sesetan, Denpasar oleh Pemerintah Kota Denpasar.

Legong awalnya juga ditarikan laki-laki yang dihidupkan kembali sanggar ini. “Kami menampilkan legong utuh, yang klasik,” kata Agus. Selama beberapa tahun berkegiatan jumlah anggotanya sekitar 20 orang berusia 15-50 tahun.

Agus mengatakan sanggar ini mendorong ekspresi dan jati diri penarinya di kesenian tradisional. Ia terlihat sangat bahagia karena dua kali penampilan di PKB, panggung selalu tak bisa menampung penonton yang setiap menikmati sampai akhir. [b]

Tags: BaliBudayaLegong MuaniTari Bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Melestarikan Lingkungan melalui Literasi Bahasa

Melestarikan Lingkungan melalui Literasi Bahasa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

15 April 2026
Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

Sabtu Sketsa Merefleksikan Kejujuran Aku Kembali Pulang Dayu Sartika

14 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia