
Tidak asing dengan gerobak kopi seperti gambar di atas?
Akhir-akhir ini gerobak kopi keliling bertebaran di berbagai daerah. Ada di taman kota, pantai, hingga pinggir jalan. Bagi pecinta kopi, gerobak kopi ini cukup menarik perhatian.
Motor pun berhenti di sebelah gerobak kopi. Saat melirik daftar harga kopi yang tertempel, ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan kopi di cafe. Lumayan menghemat pengeluaran. Kopi di cafe yang biasanya dibeli Rp30.000 per gelas, kini hanya perlu mengeluarkan Rp8.000 untuk segelas es kopi hitam.

Kopi keliling yang saya datangi bernama Gopi dengan gerobak berwarna hijau menggunakan sepeda listrik. Ada dua jenis minuman, minuman dengan kopi dan minuman tanpa kopi. Bagi yang ingin mengurangi gula, ada pilihan kopi tanpa gula.
“Ini kopi pahit ya,” penjual itu mengingatkan lagi ketika saya memilih black coffee. Rasanya memang pahit seperti americano pada umumnya. Gopi yang saya beli berlokasi di depan Pasar Penatih. Lokasinya sangat strategis, jalanan di sana sering macet. Selain itu, ada sekolah di sebelah Pasar Penatih.
Tak sampai lima menit, pesanan sudah jadi. Ternyata minuman yang dijual sudah dikemas dengan gelas plastik. Saat ada yang membeli, penjual hanya perlu menambahkan es dan tutup gelas. “Kalau mau beli matcha itu harus pagi-pagi. Kalau siang udah habis,” kata penjual Gopi. Sehari-hari ia mangkal di depan Pasar Penatih mulai dari pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA.
Selain di depan Pasar Penatih, beberapa kopi keliling juga mangkal di Taman Kota Lumintang. Di sana, gerobak kopi berjejer menanti pelanggan datang. Saat ini, para penjual kopi keliling di Taman Kota Lumintang harus sembunyi-sembunyi karena area tersebut bukan area berjualan.
Kopi keliling juga banyak tersebar di pantai, salah satunya Pantai Sanur. Pengunjung yang enggan mengeluarkan Rp40.000 untuk segelas kopi di Pantai Sanur bisa membeli kopi di gerobak kopi keliling ini. Seperti penjual lain di Pantai Sanur, mereka juga membayar biaya berjualan kepada pihak desa.

Starbike keliling atau starling, begitu sebutan untuk para penjual kopi ini. Istilah starling merujuk pada penjual kopi yang menjajakan dagangannya menggunakan sepeda, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Penjual kopi keliling sendiri sudah ada sejak lama, biasanya menjual kopi sachet dengan gelas plastik. Kopi yang dijual biasanya kopi hangat, bukan dingin. Seiring berjalannya waktu, starling semakin berkembang.
Brand-brand kopi mulai bermunculan, melakukan diversifikasi produk. Mengikuti kemasan kopi-kopi di cafe, starling menawarkan harga yang lebih murah. Pembeli juga bisa dengan praktis memesan kopi, tidak perlu turun dari kendaraan, dan tidak perlu berkendara jauh-jauh.

Salah satu brand kopi keliling di Bali menawarkan kemitraan dengan nilai investasi Rp35 juta. Perkiraan balik modal dalam waktu 4,5 bulan. Penjualan satu gelas minuman meraup untung antara Rp2.500 hingga Rp4.500.
Dengan Rp35 juta, mereka menyediakan sepeda listrik, payung, tas selempang, ice scoop, lap, helm, jaket, menu, banner, chiller, pisau kecil, dan 100 kopi gratis untuk penjualan pertama.
Kopi keliling menjadi alternatif di tengah mahalnya harga kopi saat ini. Rasanya tak jauh beda dari kopi di cafe. Menemukannya pun cukup mudah.
Apakah kamu sudah pernah mencoba kopi keliling atau malah sudah berlangganan kopi keliling?
bandungpafi sangkarbet sangkarbet



![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
