Sanur Archive, sebuah akun Instagram yang membawa pengikutnya ke masa lalu melalui foto-foto lama. Dalam akun Instagram tersebut terdapat ratusan gambar yang menunjukkan kehidupan Sanur di masa lalu, mulai dari aktivitas masyarakat, perkembangan pariwisata, hingga perkembangan seni di Sanur.

Berselancar di Sanur Archive seolah membuka mata dan menyadari begitu banyak perubahan yang terjadi di Sanur. Dalam salah satu unggahannya, Sanur Archive menampilkan gambar Pantai Sanur tahun 1970-an. Tampak sebuah perahu yang bersandar di tepian pantai.
Kawasan pesisir saat itu jauh dari masalah abrasi dan erosi. Nyiur pohon kelapa seolah terasa menembus layar. Dalam salah satu unggahannya, Sanur Archive menuliskan Sanur di era 1970-an yang masih sederhana. Ketenangan pantainya menunjukkan Sanur yang belum tersentuh modernitas.
Nanik, salah satu warga asal Sanur pun mengakui banyak perubahan yang terjadi pada Sanur. Seingatnya, di tahun 1980-an, garis Pantai Sanur tidak sempit seperti sekarang ini. “Dulu tu pasirnya sampai ke sini,” kata Nanik menunjuk warungnya yang berada di belakang bus stop Pantai Mertasari.

Namun, ancaman abrasi mendatangi Sanur. Akibatnya, garis pantai menyempit, pemecah ombak pun dibangun. Ketika gelombang besar menghampiri, pasir putih tak lagi terlihat.
Perubahan Sanur tidak hanya terjadi pada ekosistem alaminya. Ketenangan Sanur perlahan memudar sejak pembangunan hotel tertinggi di Bali pada tahun 1963 dan mulai beroperasi pada tahun 1966.
Tahun 1990-an, Sanur telah berubah sepenuhnya menjadi kawasan pariwisata. Masyarakat Sanur dan pariwisata pun hidup berdampingan.
Dampak paling besar yang dirasakan masyarakat Sanur akibat masifnya perkembangan pariwisata adalah kemacetan. Sanur tak lagi mengenal kata tenang. Riuh pariwisata membawa kendaraan keluar masuk Sanur.
Saat ini Sanur tak jauh dari kata macet. Kania, salah satu warga Sanur, mengeluhkan parkir liar dan taksi yang berhamburan di jalanan. “Parkir-parkir di pinggir jalan itu lo super ganggu. Mereka nggak punya garasi, tapi punya mobil, jadinya parkir di pinggir jalan… Taksi-taksi juga tolong dong kalau jalan jangan lambat-lambat, orang yang cepat-cepat jadinya terhambat,” keluhnya.
Nanik juga mengeluhkan hal serupa. Ia berjualan di Pantai Mertasari yang saat ini juga semakin ramai dikunjungi wisatawan. Ia masih ingat betul acara besar di Pantai Mertasari yang membuat jalanan membludak. Sistem e-parkir baru yang diterapkan di Pantai Mertasari membuat kendaraan mengantre untuk keluar. “Ada dua atau tiga jam itu macetnya,” ujar Nanik.

Perkembangan Sanur menjadi kawasan pariwisata juga mengubah hidup masyarakatnya. Nyoman Sani, penduduk Sanur yang menyaksikan perubahan Sanur secara perlahan menjelaskan bahwa Sanur adalah desa yang lengkap. Ada pesisir, sawah, bahari, agrikultur, hingga seni. “Lambat laun (Sanur) mulai berubah dan dampak pariwisata jauh lebih banyak sebagai sumber pendapatan masyarakat,” ujar Sani.
Perahu-perahu nelayan digantikan oleh kursi berjemur yang lebih menggoda. Tata ruang pun berubah, sempadan pantai lebih menarik dijadikan area berjualan. Sani menceritakan lahan tanam di Sanur yang digantikan villa, penginapan, restoran, mini market, dan menjamur laundry.
“Sanur bukan daerah yang luas, apabila dikelola dengan baik tentu perubahan akan membawa dampak yang baik pula. Membatasi supermarket yang semakin banyak di daerah Sanur, tentu harus menjadi perhatian pengampu Desa Sanur. Karena berpengaruh juga pada pengelolaan ekonomi setempat,” tutur Sani.
Tidak sedikit masyarakat Sanur yang memfokuskan sumber mata pencahariannya pada pariwisata. Warung-warung lokal berjejer sepanjang kawasan Sanur. Awalnya terlihat menjanjikan bagi mereka, tetapi kini warung lokal itu harus bersaing dengan warung-warung besar.
Sani mengharapkan Sanur tetap memiliki identitas slow life. Sebagai pegiat seni, ia juga mengharapkan banyaknya tumbuh komunitas seni rupa dan sastra di Sanur. Harapan lain pun datang dari Kania. “Semoga Sanur sampahnya tidak membludak karena mengganggu banget. Terus jalan-jalanan yang bolong semoga secepatnya di aspal,” ungkap Kania.
Sanur tak sepenuhnya diperuntukkan sebagai kawasan pariwisata. Sanur masih memiliki masyarakat lokal yang diam-diam mengharapkan perubahan yang lebih baik di tengah hiruk pikuk pariwisata.
bandungpafi sangkarbet sangkarbet








![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)

