• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, May 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kongres Pancasila XII UGM Angkat Isu Penurunan Moral Pejabat

Tjokorda Sri Maya by Tjokorda Sri Maya
30 September 2024
in Kabar Baru, Pendidikan, Politik
0
0

Penulis: Nia Nur Pratiwi (Aktivis sosial Ubud, Bali)

Yogyakarta, 26 September — Kongres Pancasila XII yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti masalah kemerosotan moral di kalangan pejabat negara serta pentingnya pendidikan karakter yang kuat sebagai solusi jangka panjang.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) RI, Prof. Mahfud MD., mengungkapkan bahwa saat ini banyak pejabat di eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang tidak lagi merasa malu ketika terlibat dalam pelanggaran hukum. Ia menilai bahwa ada kecenderungan hipokrisi, di mana pejabat yang melakukan pelanggaran moral dan hukum justru merasa tidak bersalah selama belum ada keputusan pengadilan.

“Ternyata banyak pejabat kita yang bersikap munafik. Mereka tahu telah melakukan kesalahan, tetapi tidak merasa bersalah hanya karena belum ada keputusan pengadilan. Ini menunjukkan bahwa nilai moral di kalangan pejabat mulai pudar,” jelas Mahfud dalam panel diskusi bertajuk “Refleksi Moral dan Aktualisasi Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”. 

Kongres yang berhasil mengumpulkan sebanyak 60 lebih artikel dengan penyertaan beberapa penulis asal Bali ini  juga  menghadirkan Dr. Sukidi, cendekiawan dari PP Muhammadiyah, yang menekankan pentingnya memperbaiki moral bangsa melalui pendidikan karakter. Menurutnya, pendidikan karakter yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila sangat penting untuk membentuk masyarakat yang berintegritas dan bermoral. “Upaya membangun kembali negeri ini dengan semangat Pancasila harus dimulai dari pendidikan karakter, karena karakterlah yang menentukan kualitas kita sebagai manusia dan warga negara,” tandasnya.

Sesi tanya jawab juga membahas persoalan minimnya pendanaan untuk sektor pendidikan, yang dianggap belum menjadi prioritas oleh pemerintah. Beberapa peserta diskusi mengungkapkan kekhawatiran bahwa pendidikan, terutama untuk masyarakat miskin, masih belum mendapatkan perhatian yang memadai. Menanggapi hal ini, Sukidi mendorong adanya dialog antara pemerintah dan berbagai pihak untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih berkualitas dan inklusif. “Semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan pendidikan berkualitas dapat diakses oleh semua kalangan, terutama masyarakat yang kurang mampu,” ucapnya.

Selain itu, isu meritokrasi juga turut menjadi topik diskusi. Sukidi menyatakan bahwa meskipun budaya feodalisme dan senioritas masih kuat di Indonesia, penerapan meritokrasi adalah sesuatu yang mungkin dan penting untuk mencapai kemajuan. Ia mencontohkan Singapura, yang sukses menerapkan meritokrasi di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, yang asal-usulnya berasal dari Semarang. “Meritokrasi bisa diterapkan di Indonesia, meskipun kita memiliki budaya feodalisme. Contohnya adalah Singapura, yang dibangun oleh Lee Kuan Yew dengan mengutamakan meritokrasi sebagai kunci keberhasilan negara tersebut,” ungkap Sukidi.

Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk moralitas pejabat dan sistem pendidikan. Kongres Pancasila XII berharap agar hasil dari diskusi ini bisa menjadi masukan yang berharga bagi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan moral serta membangun sistem pendidikan yang lebih baik dan merata di masa depan.

kampungbet
Tags: kongres pancasilaUGM
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Tjokorda Sri Maya

Tjokorda Sri Maya

Related Posts

No Content Available
Next Post
Perlukah TPS Disabilitas?

Perlukah TPS Disabilitas?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

Satu Abad Rarud Batur 1926: Ingatan jadi Mitigasi Bencana di Masa Depan

13 May 2026
Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

Kerusakan Alam karena Food Estate di Film Pesta Babi

12 May 2026
Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

Aksi Kamisan Bali ke-66: Reaktivasi Berjuang tak Gentar

11 May 2026
Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

Film Pendek Menapak di Sesi Cinéma de Demain, Festival de Cannes 2026

10 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia