• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, January 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Kolaborasi Bali Serukan Hari Hening Sedunia

Anton Muhajir by Anton Muhajir
17 March 2009
in Agenda, Lingkungan
0
0

Oleh Anton Muhajir

Kolaborasi Bali untuk Perubahan Iklim (KBPI) terus mengampanyekan World Silent Day (WSD). Senin (16/3) lalu mereka kembali menyerukan agar penghuni bumi melakukan hening selama empat jam pada 21 Maret nanti.

Aksi tersebut diikuti sekitar 20 orang berasal dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam KBPI. LSM tersebut antara lain Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bali, Yayasan Wisnu, Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Bali Organic Association (BOA), dan Third World Network (TWN).

Mereka membagi brosur kampanye dan menjelaskan bentuk kampanye WSD itu pada pengguna jalan di pusat Kota, perempatan Jalan Gajah Mada dan Veteran, Denpasar. Selain itu para aktivis KBPI juga membentangkan spanduk besar berisi himbauan untuk hening selama empat jam, dari jam 10-14.00 Wita. Hening, di antaranya bisa dilakukan dengan tidak menggunakan alat elektronik dan kendaraan bermotor.

“Hening selama empat jam saja, terinspirasi dari kearifan lokal, Nyepi. Kami mengharapkan warga untuk menghentikan aktivitasnya agar bumi dapat bernafas sejenak,” ujar Agung Wardana, Direktur Walhi Bali. Namun, lanjutnya, WSD berbeda dengan Nyepi karena perspektifnya ekologi, penyelamatan lingkungan, bukan agama. Menurut Agung persepktif ini perlu dipahami agar orang tidak mengasosiasikan WSD pada agama Hindu tapi bersifat universal.

Untuk mengampanyekan WSD ini, Kolaborasi menggalang dukungan publik untuk berpartisipasi untuk hening selama empat jam. Di antaranya dengan penggalangan dukungan tanda tangan ikut berpartisipasi, melalui online, dan kampanye terbuka.

“Kami terus melakukan advokasi agar WSD diterima PBB sebagai salah satu kampanye alternatif untuk pengurangan emisi,” tambah Agung.

I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu, menambahkan gerakan ini bentuk kedaulatan kampanye penyelamatan bumi dari Bali. Implikasi sosial gerakan ini dengan Bali, misalnya mengurangi alih fungsi lahan yang sangat berpengaruh pada climate change.

“Gaya hidup pertanian dari kimia ke organik juga mampu memberikan input dalam pengurangan pemanasan iklim,” ujar Suarnatha.

KBPI juga menghindari upaya-upaya yang akan memanfaatkan WSD dalam skema carbon trading, jual beli emisi antara negara maju dan berkembang.

“Yang kita perjuangkan climate justice. Kami tidak mau Bali tenggelam. Ini social movement penyelamatan pulau-pulau kecil di dunia dari Bali,” tambahnya.

Ancaman tenggelamnya pulau-pulau kecil di Bali, dimulai KBPI dengan melakukan sejumlah penelitian yang dilakukan pelajar di Pulau Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

KBPI juga menggalang dukungan anak muda, mereka yang menjadi aktor mengatasi perubahan iklim.

Prelimenary assesment di Pulau Nusa Ceningan saat ini disebut masih dianalisis untuk menjadi action plan penyelamatkan pulau-pulau kecil di Bali. “Pemerintah Bali saya harapkan melakukan hal yang sama,” kata Hira Jhamtani, aktivis TWN.

“Pada 21 Maret nanti kita lihat apakah partai politik dan caleg-caleg yang mendapat jadwal kampanye saat itu membuat program atraktif hari hening,” kata Hira.

Sementara Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bali I Gede Putu Wardana menyebut dukungan pada WSD dilakukan dengan himbauan mematikan alat elektronik di kantor pemerintah selama empat jam. “Diharapkan sejumlah jalan protokol juga ditutup saat itu,” ujarnya.

Kampanye WSD sendiri sudah dilakukan oleh KBPI sejak pertemuan PBB untuk Perubahan Iklim di Bali Desember 2007 lalu. Inspirasi WSD datang hari Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu di Bali setiap tahun sekali. Pada saat Nyepi, semua orang di Bali tidak melakukan empat kegiatan utama yaitu tidak bekerja, tidak makan minum, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang.

Menurut perhitungan KBPI, matinya aktivitas di Bali selama 24 jam pada saat Nyepi ini bisa mengurangi emisi gas rumah kaca setara 20.000 ton CO2. Angka ini diperoleh dari banyaknya jumlah kendaraan yang tidak beroperasi di Bali, antara lain kendaraan bermotor dan pesawat terbang, dikalikan jumlah konsumsi energi mereka. [b]

Tags: AgendaBaliLingkunganLSMNGO
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Next Post

Hari Raya Alihkan Perhatian Warga dari Pemilu

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Menghitung Konversi Tutupan Lahan Bali Menjadi Lahan Terbangun

21 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia