• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, January 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

KJW Jembrana: Menyigi Budaya, Sejarah, dan Jerit Alam Gumi Makepung

Gita Andari by Gita Andari
2 January 2026
in Kabar Baru, Travel
0
0

Menyibak aspal sepanjang 90 kilometer dari pusat kota Denpasar, sigi menerangi jejak budaya, sejarah, hingga jerit alam di Bali barat. Pagi itu, Sabtu (13/12) kawan-kawan Kelas Jurnalisme Warga (KJW) BaleBengong berkumpul di Gedung Sentra Tenun Jembrana. Peserta berjumlah 8 orang berasal dari berbagai wilayah di Bali Barat itu, ada yang dari Loloan, Mendoyo, dan sebagainya. 

Sesi brainstorming menyalakan sigi yang siap menjadi penerang petualangan di Gumi Makepung. Para peserta dengan antusias melempar ide serta keresahan yang selama ini tak banyak menjadi bahan diskusi. Isu akar rumput ditarik ke permukaan untuk melihat bagaimana kondisi budaya, hingga bentang alam Jembrana yang lama terdengarnya asri. 

Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan setiapnya memegang satu isu. Empat hal besar yang menjadi sorotan adalah sejarah tragedi kelam 65 di Jembrana, dilema Rumah Tradisional Loloan, Patriarki dan tradisi Makepung, hingga masalah lingkungan yang pertama kali menyebabkan banjir besar di Desa Sebual. Setelah semua isu terencana, setiap peserta selanjutnya melakukan liputan ke daerah yang dituju masing-masing untuk menggali informasi. 

Di hari pertama tim BaleBengong mengunjungi Toko Wong, sebuah toko bersejarah di Kelurahan Lelateng yang konon merupakan bekas tempat penyekapan dan pembantaian orang tahanan PKI (Partai Komunis Indonesia) tahun 1965-1966. Cerita lisan yang tersebar dari mulut ke mulut, menyebutkan, setelah pembantaian itu, jenazah dimasukkan ke dalam sumur di belakang toko. Bagunan tua itu merupakan saksi sejarah yang lama diredam dan nyaris terhapus dari ingatan kolektif. Bangunan itu berdiri seperti ruang biasa, rak kayu, etalase tua, barang-barang lama, namun menyimpan kisah kekerasan negara yang tak pernah benar-benar diselesaikan. Menyigi jejak itu menghidupkan kekayaan Jembrana sebagai ruang hidup sejarah. 

Toko Wong (Kresnanta/BaleBengong)

Jejak sejarah dan budaya lainnya disingkap lewat kunjungan ke Puri Agung Negara. Dulunya berdiri sebagai istana raja-raja Jembrana, bangunan ini pernah menjadi rumah bagi Gubernur Bali pertama. Perpaduan arsitektur Bali, Eropa, dan kolonial Belanda merekam jejak sejarah yang panjang. Masih dihuni oleh garis keturunan kerajaan, tempat ini kini hadir sebagai ruang wisata sejarah yang menjaga denyut tradisi Bali Barat.

Lukisan raja-raja Jembrana di Puri Negara (Kresnanta/BaleBengong)

Usai menjajal kawasan dan menggali informasi, di hari kedua (14/12) setiap kelompok mempresentasikan hasil karya artikel dan video mereka. 

Temuan dari dari Rumah Panggung Loloan menunjukkan dilema mempertahankan Rumah Panggung Loloan. Dimana rumah ini sebetulnya dipandang sebagai aset budaya bernilai tinggi yang merepresentasikan sejarah, kearifan lokal, dan adaptasi masyarakat Loloan terhadap bencana. Namun di sisi lain, ia juga dianggap tidak lagi layak huni, mahal untuk dirawat, kuno, dan tidak relevan dengan kebutuhan hidup masyarakat Jembrana saat ini. Keberadaan rumah panggung kian terkikis akibat beberapa faktor utama. Pertama, kelangkaan bahan baku Kayu Tangi di Jembrana, Kedua, tingginya biaya renovasi mendorong sebagian pemilik memilih menjual rumah, yang kemudian dimodifikasi menjadi rumah makan atau vila, sehingga nilai budayanya memudar. Ketiga, minimnya pewaris, termasuk pewaris yang tinggal di luar daerah, mempercepat proses pengabaian rumah adat ini. 

Selanjutnya nama Gumi Makepung tidak sekadar disematkan begitu saja. Makepung merupakan tradisi pacu kerbau khas Jembrana yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali Barat. Berakar dari budaya agraris, Makepung berfungsi sebagai penyeimbang sistem subak sekaligus ruang kebersamaan warga. Istilah makepung berasal dari bahasa Bali yang berarti saling berkejaran. Dalam tradisi ini, sepasang kerbau yang dihias kain warna-warni dan gerondongan berlari menarik lampit yang ditunggangi seorang joki. Denting gerondongan, sorak penonton, dan semangat persaingan menciptakan suasana yang penuh adrenalin.

Secara umum patriarki masih kuat membentuk pembagian peran sosial di Jembrana, terutama dalam ranah adat dan tradisi. Beban tersebut dirasakan sejak usia muda. Meski menjadi simbol kebanggaan dan identitas budaya Jembrana, Mekepung masih menempatkan laki-laki sebagai aktor utama dalam pertunjukkan, sementara peran perempuan di balik layar jarang diperhatikan. Padahal, perempuan memiliki kontribusi penting, dari merawat kerbau, menghias perlengkapan, hingga memastikan keberlangsungan teknis tradisi. Ketimpangan ini bukan karena keterbatasan kemampuan, melainkan karena norma adat dan kebiasaan sosial yang diwariskan sebagai aturan tak tertulis.

Di luar persoalan budaya dan sejarah, sigi KJW Jembrana juga menemukan jerit alam yang kian nyata. Banjir besar yang untuk pertama kalinya merendam Desa Sebual menjadi penanda bahwa perubahan lanskap alam Jembrana tidak lagi bisa diabaikan. Wilayah yang sebelumnya hanya mengalami genangan semata kaki, kini dilanda banjir hingga setinggi paha orang dewasa. 

Temuan lapangan oleh peserta menunjukkan bahwa luapan air bukan semata akibat curah hujan, melainkan dipicu oleh pendangkalan sungai, tersumbatnya saluran air oleh sampah, serta berkurangnya daya serap lingkungan akibat perubahan penggunaan lahan di hulu. Kayu-kayu besar yang terbawa arus mengindikasikan pembukaan lahan yang tak terkendali, sementara infrastruktur pengendali banjir seperti pintu air tidak berfungsi optimal. Perubahan bentang alam ini memperlihatkan bagaimana krisis ekologis perlahan terbentuk, hingga akhirnya hadir sebagai bencana yang langsung dirasakan warga.

Melalui kerja jurnalisme warga, KJW Jembrana berupaya menghadirkan cerita-cerita akar rumput yang kerap luput dari sorotan, sekaligus mengajak publik melihat Jembrana secara lebih utuh, tidak hanya sebagai wilayah dengan kekayaan budaya dan sejarah, namun juga tantangan serius yang dihadapi menuntut perhatian bersama.

Tags: KJW 2025KJW jembranapuri negararumah loloantragedi 65
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gita Andari

Gita Andari

Related Posts

[Cerpen] Tersisa Hanya Brosur

[Cerpen] Tersisa Hanya Brosur

17 March 2022
Talenta Multidisiplin di Festival Dusun

Talenta Multidisiplin di Festival Dusun

11 January 2022
Next Post
Kebalian Dalam Dimensi Dua Lukisan

Kebalian Dalam Dimensi Dua Lukisan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia