• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, January 17, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Kebalian Dalam Dimensi Dua Lukisan

Ngurah Teguh by Ngurah Teguh
2 January 2026
in Budaya, Kabar Baru, Seni rupa
0
0


Sebagai orang awam, tentu membutuhkan waktu untuk mencerna sebuah lukisan. Bagi seseorang yang tidak paham dunia seni rupa atau setidaknya tidak memiliki sensibilitas personal terhadap karya seni, tentu ia akan kebingungan merespon sebuah lukisan di hadapannya, apalagi sebuah pameran lukisan. Sampai di sana, persepsi dan sensibilitas kita terhadap karya seni memang tidak serta merta menjadi bakat yang turun ke bumi, melainkan hasil sebuah latihan yang rutin, kadang sedikit dipaksakan.

Tidak terkecuali bagi saya sendiri yang setiap hari harus dibombardir oleh serunya bermain media sosial lewat kekuatan algoritma yang semuanya tampak begitu sangat cepat dan melesat. Dalam situasi yang terbangun diawal, lukisan tidak lain adalah sebuah goresan warna yang mengalir sangat lambat, dan selalu membutuhkan waktu panjang dan kesabaran ekstra untuk memberi perhatian dan simpati pada setiap detail lekuk dan goresannya.

Pada kesempatan yang baik, saya memberanikan diri untuk hadir pada sebuah pameran lukisan di Museum Arma Ubud. Dalam perjalanan saya melihat betapa kroditnya lalu lintas yang saya lalui sepanjang jalan dari Denpasar. Motor saling salip, beberapa pengendara hampir bertabrakan satu sama lain, dan seperti halnya desas-desus tentang kawasan Ubud: kemacetan. Dalam suasana demikian, saya sebetulnya sudah kehabisan energi untuk bisa mengamati lukisan-lukisan, namun ada suasana tertentu yang membuat batin saya semakin penasaran, tentu setelah saya datang dan mengamati beberapa lukisan.

Salah satunya adalah Sanggama Tattwa karya I Wayan Santrayana. Sejujurnya saya tidak terlalu paham teknik seni lukis, jadi toh tulisan ini bukanlah bermaksud mengajukan argumentasi tentang kritik seni atau sejenisnya, melainkan menawarkan sebuah interpretasi yang syukur-syukur filosofis dan jadi gokil. Baik, Santrayana sepertinya memiliki sentimen tertentu dengan kelamin laki-laki alias penis. Pada Sanggama Tattwa di atas, sepertinya Santrayana bermaksud melukis sebuah Mandala. Mandala kurang lebih adalah sebuah penggambaran terhadap sebuah tata ruang kosmis. Biasanya Mandala ini digambarkan dalam bentuk lingkaran sempurna, di dalamnya akan digambarkan alam semesta beserta isinya yang carut marut dengan aktivitas manusia, dari mahluk paling hina hingga para dewa dan malaikat. Kurang lebih, Mandala adalah sebuah ekspresi estetis tentang konsep kosmologi imanensi: segala sesuatu sudah selalu di dalam dunia.

Dalam lukisan tersebut, Mandala dihadirkan dalam bentuk kotak. Pada bagian tepinya, digambarkan aneka rutinitas kehidupan masyarakat Bali tradisional seperti menari, bermain gambelan, iring-iringan upacara, hingga rutinitas keseharian seperti menangkap ikan. Ada sedikit keanehan, mestinya Santrayana menambahkan satu lagi rutinitas seperti mencangkul sawah. Namun, sepertinya Santrayana punya kedekatan semiotis dengan nelayan dan kehidupan pesisir. Biarlah itu urusan sang pelukis. Namun yang menarik adalah pada bagian tengah lukisan tersebut terdapat gambar penis terbang dan dipikul oleh sekelompok perempuan bertelanjang dada sambil menari-nari.

Sekilas kita langsung bisa menangkap asumsi konseptual yang ingin dibangun lewat elemen-elemen sensual seperti penis, perempuan, dan potret aneka rutinitas masyarakat tradisional Bali. Momen anamnesis itu terjadi tepat ketika Penis itu digambarkan dengan sayap terbang khas seperti sayap malaikat pada umumnya. Dalam konteks ini, penis sepertinya tidak hanya berhubungan dengan hal-hal yang bersifat seksual dalam arti organ genital. Peran Penis dalam lukisan Santrayana adalah sebuah gambaran akan yang Simbolik atau simbol akan sang Ayah Lacanian. Keseluruhan lukisan tersebut berupaya menggambarkan semesta organik kehidupan manusia Bali yang tidak bisa dilepaskan pada hasrat akan yang real pada, hasrat pada asal usul (kawitan), hasrat pada kenikmatan paling hakiki, yang semuanya telah dan selalu dievakuasi oleh yang simbolik: bahasa, aturan, etika, adat misalnya? Who’s know?

Hasrat akan yang real, hasrat akan asal usul (kawitan), hasrat akan jati diri yang immediate dilukiskan dalam pemilihan warna-warna mencolok yang suram. Dalam konteks Bali secara historis, simtom-simtomnya dapat kita lacak setelah peristiwa 1965. Setidaknya semenjak itu, Bali dipotret sebagai sebuah museum hidup yang mampu memproduksi kapital yang besar untuk negara lewat devisa dan pariwisata. Eksklusivitas masyarakat Bali dalam berkebudayaan menjadi sebuah motivasi penting untuk mengkonstruksi wajah Bali yang guyub dan organik lewat domestifikasi hal-hal yang berbau kritis dan politis.

Orde Baru, sebagai rezim yang paling bertanggung jawab terhadap munculnya struktur ekonomi politik macam begini, menghadirkan agensi-agensi pembangunan dimana Kebudayaan dilihat sebagai komoditas yang mampu dikomodifikasi, dibentuk secara artifisial dan representatif. Tentu tidak salah kita mengira bahwa kebudayaan adalah nafas yang hidup tidak hanya dari nutrisi tapi juga dari racun. Lewat proyek hegemonik dan struktural ini, kebudayaan Bali mau tidak mau ikut terbentuk dan bertanfromasi dan bercampur baur dengan modernisasi tanpa bias kecuali dalam bentuk-bentuk elementer yang simbolik.

Ekslusivitas dalam berkebudayaan, meningkatnya religiusitas masyarakat Bali pasca pembangunan pariwisata yang massif, berjalan beriringan dengan hasrat dan kerinduan orang Bali pada yang real yang sesungguhnya pada yang simbolik: kedirian, kebalian, asal-usul (kawitan) yang semuanya dapat diekspresikan lewat modifikasi ritual keagamaan, munculnya politik soroh dan seterusnya. Upaya kristalisasi kebudayaan Bali lewat cara-cara representatif ini tidak lain adalah hasrat dan kerinduan pada sebuah imaji akan kesatuan organik, terserah, kalian bisa menyebut ini hasrat mikrofasis atau apalah, namun yang jelas hasrat tersebut sudah selalu dievakuasi oleh yang simbolik lewat aparatus budaya, soal ini silahkan tebak-tebakan sendiri.

Sampai disini, lukisan Santrayana kiranya bisa diapresiasi sebagai simtom akan yang simbolik yang mengeram dalam kebudayaan Bali kontemporer, sebuah gambaran odeipus complex. Entah Santrayana gelisah tentang situasi itu, atau jangan-jangan dia sendiri adalah salah satunya, atau kita adalah salah satunya atau salah duanya, atau kedua-duanya sekaligus?

Lukisan menarik lainnya dapat kita lihat juga dalam lukisan Budayana yang berjudul Sindikat Merah. Warna-warna dalam lukisan tersebut dicampur secara gradual dan dominan cerah yakni merah, kuning, ungu, biru, oranye, dan seterusnya. Pada lukisan abstrak tersebut kita sama sekali tidak disuguhi subjek. Tentang apa lukisan tersebut, barangkali bisa dijelaskan pada guratan tulisan berwarna merah yang berbunyi: jual-jual, disanjung dicaplok. Kata dicaplok dalam tutur keseharian masyarakat Bali tergolong sangat kasar. Dicaplok artinya dimakan namun bukan ditunjukkan buat manusia melainkan mahluk yang rendah atau hina seperti anjing, raksasa, dan seterusnya. Kembali ke lukisan, jika kata dicaplok muncul secara istimewa, barangkali kata tersebut adalah ungkapan kemarahan. Dan suasana kemarahan dalam lukisan tersebut sangat tampak dalam komposisi warna yang mencolok, namun apabila diperhatikan, terdiri dari guratan-guratan garis yang sangat detail.

Tenaga macam apa yang dibutuhkan pelukis untuk menyalurkan energi kemarahan dengan detail guratan yang mesti membutuhkan kesabaran ekstra? Saya kira itulah letak kekuatan dalam lukisan Budayana. Kemarahan macam apa yang melatari lukisan tersebut? Kepada siapa kemarahan itu ditunjukkan? Jelas lukisan tidak memberi gambaran spesifik. Subjek dalam lukisan sepertinya adalah perkara yang sangat dihindari oleh si Pelukis. Lukisan tersebut tidak bermaksud menceritakan kemarahan, melainkan membuat si Pengamat juga ikut dalam luapan kemarahan, ada syaraf di dengkul atau di ulu hati yang ingin dibuatnya berdenyut-denyut.

Kata dijual dalam lukisan tersebut kemudian terbaca sebagai suara yang sayup-sayup terpinggirkan, itulah mungkin alasannya kata tersebut ditulis secara samar-samar dan diletakkan pada bagian pinggir lukisan, cukup baik diapresiasi sebagai metafora suara-suara pinggiran yang dibungkam. Kata dijual pun akhir-akhir ini di Bali semakin sering diucapkan oleh para social justcie warrior. Keresahan mereka didasarkan pada situasi yang terjadi di banyak daerah di Bali mulai dari penjualan tanah, sawah, alih fungsi lahan, massifnya proyek-proyek investasi asing, munculnya konflik berkpenjangan di salah satu desa Adat dan seterusnya. Keresahan tersebut makin diperparah atas kekhawatiran mereka tentang nasib ruang hidup masyarakat Bali yang kian terhimpit di tengah laju pembangunan proyek-proyek investasi asing yang mengorbankan ruang hidup masyarakat Bali mulai dari sawah, pegunungan, sempadan sungai, tebing pantai, eksosistem lingkungan dan air dan seterusnya.

Namun di balik situasi yang chaotik itu, alih-alih mampu mengartikulasikan kontradiksi yang terjadi, masyarakat akar rumput seringkali menginternalisasinya lewat kemarahan-kemarahan atau luapan emosi yang tidak jelas juntrungnya. Meningkatnya angka bunuh diri di Bali, konflik ‘pendatang’ vs ‘warga bali lokal’ dan disisi lain munculnya keterasingan sebagai manusia Bali yang harus melayani secara perfeksionis tuntutan-tuntutan sosial budaya yang makin eksklusif. Hal-hal tersebut tidak mampu terbaca dalam skema para pemikir yang hanya mendefinisikan Bali sebagai transformasi kebudayaan, keseimbangan dalam ketahanan dan imaji dialektis kampret lainnya tanpa terlebih dahulu melihat hal-hal residual yang menjadi ‘hantu’ alias ‘memedi’ dalam kebudayaan Bali kontemporer.

Dalam apresiasi saya, kemarahan-kemarahan atau luapan emosional yang seperti ini sangat mungkin dialami oleh banyak masyarakat Bali. Dan lebih gawatnya lagi, orang Bali seringkali memiliki kemampuan meng-kompartmentarisasi berbagai peran. Lukisan Budayana dalam Sindikat Merah adalah sebuah penggambaran yang cukup khas dalam upayanya menyublimasi situasi-situasi yang tidak terucapkan namun berdenyut dan menggelitik di ulu hati.



Ngurah Teguh

Penulis adalah warga biasa, lulusan ilmu Filsafat Hindu Universitas Hindu Indonesia

Tags: museum armamuseum di balisanggama tatwa
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ngurah Teguh

Ngurah Teguh

Related Posts

No Content Available
Next Post
Aku Dede, Ini Ceritaku dengan Difabel Sensorik Netra

Ini Alasannya Mempekerjakan Disabilitas tidak Memberatkan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

16 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

14 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia