• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Ketika Caleg Mengotori Ruang Publik Kita

Wayan Widyantara by Wayan Widyantara
20 October 2013
in Berita Utama, Kabar Baru, Opini, Pelayanan Publik, Politik
0
1

baliho
Pergantian tampuk kekuasaan tidak lama lagi akan diselenggarakan.

Seperti lima tahun lalu sebelum tonggak kekuasaan digantikan, para calon legisiatif bertarung untuk mendapatkan hati publik untuk memilihnya. Tidak beda dengan tahun ini, berbagai cara dilakukan oleh para calon untuk mendapatkan hati publik demi sebuah gelar anggota Dewan Perwakilan Rakyat, walaupun dengan cara mendobrak etika dan estetika yang sudah ditetapkan.

Komisi Pemilihan Umun (KPU) sebagai pihak penyelenggara kian disibukan dengan menujunya pesta demokrasi di Negara ini. Berbagai pesiapan sudah dilakukan, mulai dari verifikasi parpol, menyusun dan mengoreksi daftar pemilihan tetap. Begitu juga dengan aturan masa kampanye dan atribut kampanye yang diatur dalam Peraturan KPU.

Masing-masing kandidat dari berbagai daerah siap bersaing dalam memperebutkan jatah kursi untuk mewakili rakyat sebagai anggota dewan. Di Pulau Bali salah satunya. Pulau yang terkenal akan adat, budaya dan keindahan di setiap sudut pandang kita memandang, kini sudah dihiasi akan berbagai foto wajah orang yang bisa saja dikenal ataupun tidak dikenal publik.

Alih Fungsi
Hiruk pikuk kota Denpasar selain disesaki asap kendaraan, menjelang perhelatan pesta demokrasi ini, mata kita juga disesaki pemandangan Baliho calon legisiatif (caleg). Di setiap mata memandang, maka sudut –sudut jalan, ruang publik dan bahkan pepohonan menjadi alih fungsi sebagai penyangga pemilik baliho yang kian “narsis” tanpa memerhatikan lingkungan sekitarnya.

Hampir di setiap ruang publik terdapat banyaknya baliho para caleg. Tidak hanya para caleg, organisasi massa (ormas) juga ikut. Mereka semua seakan beradu banyak-banyakan baliho yang dipasang untuk mengenalkan mereka terhadap publik. Mereka mungkin  beranggapan ini penting untuk ajang eksistensi terhadap publik, dan bahwa sebenarnya tidak dapat disalahkan juga karena memang ada aturan yang mengatur untuk menggunakan ruang publik.

Baliho memang menjadi bahan dasar dalam pertarungan mereka, para caleg. Maka tak heran jika kita melihat baliho mereka saling beradu untuk mengenalkan diri mereka sebagai kandidat yang “memaksakan” rakyat untuk memercayai dan memilihnya. Bahkan bisa saja bagi mereka, semakin banyak baliho yang mereka pasang, semakin besar peluang mereka untuk terkenal sehingga rakyat akan memilihnya.

Namun, sayangnya, beberapa caleg ini sengaja ataupun tidak sengaja melupakan aturan pemasangan baliho mereka. Padahal KPU dalam aturan pemilu sudah secara jelas mengatur pemasangan baliho bagi para kandidat sesuai dengan Peraturan KPU No. 15 tahun 2013. Bagaimana kita bisa memercayai mereka mewakili rakyat ketika belum menjadi wakil kita saja mereka sudah melanggar aturan?

Salah satu pelanggarannya adalah menggunakan paku untuk memasang wajah mereka di pepohonan jalan raya. Hal ini telah melanggar Peraturan KPU No. 15 tahun 2013 pasal 17 ayat 1 (a) berbunyi, ”Alat peraga kampanye tidak ditempatkan pada tempat ibadah, rumah sakit atau tempat-tempat pelayanan kesehatan, gedung milik pemerintah, lembaga pendidikan (gedung dan sekolah), jalan-jalan protokol, jalan bebas hambatan, sarana dan prasarana publik, taman dan pepohonan”.

Seakan tak ada yang menindak termasuk pengawas pemilu yang sibuk “mengangkang” tanpa ketegasan ataupun menegur para kandidat nakal ini. Bila hal ini dibiarkan terus maka panggung politik yang citranya sudah buruk akan menjadi semakin buruk lagi bagi masyarakat. Ruang publik seharusnya menjadi milik public yang diatur untuk kenyamanan bersama, bukan milik private untuk kepentingan golongan dengan menghidahkan peraturan.

Laksana Halilintar
Bila saya mengulang cerita 5 tahun lalu, maka saya akan mengingat ketika masing-masing kandidat sedang berkampanye. Berbagai cara dilakukan oleh para kandidat untuk mengenalkan diri dan kebaikannya kepada masyarakat calon pemilihnya. Janji perbaikan untuk menyejahterakan masyarakat adalah hal utama yang mereka tidak akan lupa ucapkan. Namun hal yang menarik adalah cara mereka menggunakan ruang publik untuk berkampanye.

Ada berbagai cara yang dilakukan oleh para kandidat, di antaranya pawai dengan massa pendukungnya. Ketika melihat cara mereka pawai, maka  layaknya sang penguasa jalanan tanpa memikirkan warga lainya yang juga sebagai pengguna jalan raya sedang melintas. Hal ini sebenarnya dapat mengurangi citra si kandidat dalam berkampanye.

Mobil besar dengan asap kendaraan yang besar pula, serta motor dengan kenalpot dibedel sehingga mengeluarkan suara laksana halintar dengan berugal-ugalan membawa motornya yang  berharap menjadi perhatian masyarakat dan mengenalkan calonnyalah adalah orang yang paling tepat untuk dipilih. Logika sederhananya, apa iya? Kalau bagi saya ini jelas TIDAK. Bagaimana mengatur puluhan ribu rakyat, mengatur massanya yang ratusan saja tidak tertib.

Ada juga berkampanye dengan menggunakan media sebagai alat perpanjangan politiknya. Dalam buku sosiologi politik, Michael Rush & Phillip Althof mengatakan selain organisasi yang bersifat formal dan kontak antara individu-kelompok individu sebagai alat komunikasi politik, peranan media juga sangat penting dalam komunikasi politik seperti halnya dalam acara-acara yang padat dengan masalah politik. Ruang publik ini yang digunakan untuk mendapatkan perhatian lebih. Sehingga publik membutuhkan cerdas media untuk melihatnya.

Bilamana nantinya media dengan gelombang frekuensi yang ada digunakanan sebagai alat pencitraan para kandidat untuk mendapatkan kekuasaan maka publik sebagai konsumsi media hanyalah akan memakan sampah-sampah bertaburan visi dan misi palsu yang terbungkus rapi di sebuah tayangan bergambar.

Ruang publik dalam public menuju perhelatan di tahun 2014 harus cerdas kita amati. Pilihlah kandidat yang peduli akan lingkungan dan dapat serta kita yakini membawa kita ke pintu gerbang kesejahteraan dengan juga melihat latar belakang para kandidat. Untuk itu saya tutup tulisan ini dengan sebuah ungkapan Glenn Fredly, “Apa artinya menjadi manusia merdeka jika tidak bisa memerdekaan orang lain?”

Semoga pesta demokrasi melahirkan orang yang bisa memerdekaan kita. [b]

Tags: BaliOpiniPolitik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Wayan Widyantara

Wayan Widyantara

Sekjen Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota Bali (PPMI DK Bali) 2012-2014. Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Kertha Aksara 2012-2013.

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Pemberdayaan Lalai, Kekayaan Bahari Serangan pun Terkulai

Reklamasi Serangan: Elit Parpol Pecah, Media Terbelah, Masyarakat Tetap Susah

25 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Next Post
Lomba Foto UU Project: Wajah Kota Kita

Lomba Foto UU Project: Wajah Kota Kita

Comments 1

  1. van diesel says:
    13 years ago

    ini akibat dri aturan KPU yg masih lemah. banyak caleg memasang baliho di LAHAN rumah/tembok milik PRIBADI tetapi berada/terlihat di pinggir jalan. nah sejauh ini belum ada regulasi KPU yg mengatur tentang itu.

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

7 June 2026

Menepi Sejenak di Serayu Pottery Ubud 

6 June 2026
Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

Sampah tak Selalu Menjadi Musibah

5 June 2026
Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

Botol Kaca Menumpuk karena Nilai Ekonominya Rendah, Tanggung Jawab Produsen Minim

5 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia