• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, July 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Kepemilikan Hutan Masyarakat Indonesia Terancam

Ni Komang Erviani by Ni Komang Erviani
30 November 2007
in Agenda, Kabar Baru, Teknologi
0
0

Dikirim Ni Komang Erviani

Kepemilikan hutan oleh masyarakat terancam hilang karena skema perdagangan karbon yang akan dirundingkan dalam sidang UNFCCC di Bali, 3-14 Desember. Demikian dikatakan Hira P. Jhamtani, aktivis Third World Network, LSM internasional yang menggeluti lobi-lobi internasional bidang lingkungan dan globalisasi. Hira mengatakan hal ini pada diskusi soal isu sidang UNFCCC bersama wartawan, Walhi Bali, dan AJI Denpasar di Sloka Institute, Denpasar, Jumat (30/11).

Salah satu agenda pemerintah Indonesia adalah negoisasi perdagangan karbon. Secara teknis, Indonesia akan menghitung berapa potensi pendapatan dari hutan Indonesia dalam menyerap karbon untuk mengurangi emisi. Jika pada UNFCCC ini disepakati harga perdagangan karbon ini, lalu bagaimana dengan hak masyarakat Indonesia atas kepemilikan hutan?

“Apakah nanti akan ada polisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengaawasi hutan Indonesia yang diperdagangkan itu?” tanya Hira, aktivis Indonesia yang berada di baris depan menolak rekayasa genetika dan rezim paten Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ini.

Selain itu, bagaimana hak masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan seperti mengambil buah atau bahan makanan. Padahal sebagian masyarakat adat di taman nasional Indonesia eksis melindungi hutan karena mendapatkan manfaat dari hasil hutan untuk kehidupan.

Skema perdagangan karbon ini adalah salah satu isu yang akan dibahas dalam forum UNFCCC nanti. Selain itu juga ada pembicaraan mengenai perdagangan emisi dalam upaya negara-negara maju mengurangi emisinya. Hal ini dipaparkan juiga dalam Protokol Kyoto yang belum diratifikasi oleh Amerika Serikat, negara emitor terbesar di dunia.

Karena terancamnya kepemilikan hutan, Hira mengharapkan masyarakat sipil terus mengawasi perundingan ini. Perdagangan karbon tidak bisa dielakkan karena sudah masuk agenda nasional. “Itu realita. Kalaupun kita teriak tidak boleh jual beli karbon, kenyataannya mereka akan tetap. Jadi kita harus cerdas menyikapi,” tambah lulusan Fakultas Biologi Universitas Nasional ini.

Hira mengingatkan, negara-negara maju getol ingin membeli hak pengelolaan hutan karena ada bisnis masa depan disitu, yakni bisnis keragaman hayati. Bisnis itu menurut Hira adalah sumber daya genetik.

Hal ini dibenarkan Agung Wardana, aktivis Walhi Bali. Menurut Agung beberapa hutan nasional di Indonesia termasuk Taman Nasional Bali Barat sudah dilirik untuk penelitian kenekaragaman hayati ini. “Banyak hutan diamati, ditemukan hal baru, lalu dipatenkan dan jadi komoditi,” kata Agung.

Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Ni Komang Erviani

Ni Komang Erviani

Warga Denpasar tinggal di Jl. Narakusuma, Denpasar Timur. Cash loan 1000. Sedang menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Bali dan menulis juga untuk beberapa media nasional seperti GATRA dan The Jakarta Post. Ervi yang masih jomblo ini juga anggota Komunitas Jurnalis Peduli AIDS (KJPA) Bali. Makanya dia sering menulis masalah AIDS dan narkoba di Bali.

Related Posts

Garis Laut Mendekat, Garam Kusamba Terancam Punah

Garis Laut Mendekat, Garam Kusamba Terancam Punah

9 July 2026
Antida Sound Garden, Oase Musisi Lokal itu Membuka Ruang bagi Komunitas

Antida Sound Garden, Oase Musisi Lokal itu Membuka Ruang bagi Komunitas

9 July 2026
Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

8 July 2026
Generasi Penjaga Menara Mekotek

Generasi Penjaga Menara Mekotek

8 July 2026
Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Kota Makin Padat dan Tanah yang Kian Sulit Dijangkau

6 July 2026
Memperjelas Persepsi Risiko Berwisata ke Bali

Rahasia di Bawah Gunung Agung: Ketika Batu Lava Membongkar Identitas Asli Pulau Bali

6 July 2026
Next Post

Orang Terdampak HIV Menanam Ratusan Pohon

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Garis Laut Mendekat, Garam Kusamba Terancam Punah

Garis Laut Mendekat, Garam Kusamba Terancam Punah

9 July 2026
Antida Sound Garden, Oase Musisi Lokal itu Membuka Ruang bagi Komunitas

Antida Sound Garden, Oase Musisi Lokal itu Membuka Ruang bagi Komunitas

9 July 2026
Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

Gugatan Warga Bali Menuntut Perbaikan Tata Kelola

8 July 2026
Generasi Penjaga Menara Mekotek

Generasi Penjaga Menara Mekotek

8 July 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia