• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, February 10, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Kekerasan terhadap Perempuan di Bali Meningkat Sepanjang 2025

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
14 January 2026
in Berita Utama, Kabar Baru, Politik
0
0
Ilustrasi Kekerasan Seksual Berperspektif Korban via Wikimedia Commons

Di Bali, perempuan masih rentan mengalami kekerasan. Fenomena ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan sepanjang tahun 2025. Dilansir dari data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), kasus kekerasan terhadap perempuan di Bali meningkat hampir 100 kasus dari tahun sebelumnya, yaitu 425 kasus kekerasan dari 330 kasus pada tahun 2024.

Kekerasan pada perempuan masih banyak terjadi di Denpasar, sejumlah 147 kasus. Namun, kenaikan tertinggi justru terjadi di Kabupaten Jembrana, dari 1 kasus pada tahun 2024 menjadi 61 kasus pada tahun 2025.

Korban kekerasan paling banyak berusia 25-44 tahun. Namun, kekerasan juga banyak terjadi pada perempuan usia anak hingga remaja. Sebanyak 124 remaja perempuan usia 13-17 tahun mengalami kekerasan sepanjang 2025. 

Menurut lokasi kejadian, jumlah kasus dan korban tertinggi ada di rumah tangga. Sejumlah 329 kasus kekerasan terjadi di rumah tangga. Dari ratusan kasus tersebut terdapat 333 korban.

Sementara itu, bentuk kekerasan yang paling banyak dialami perempuan adalah kekerasan psikis. Kekerasan psikis meliputi setiap perbuatan nonfisik yang dilakukan bertujuan untuk merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan tidak nyaman. Kekerasan seksual juga masih terjadi pada perempuan, sejumlah 112 kejadian.

Dari 425 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi tahun 2025, kekerasan paling banyak dilakukan oleh laki-laki, yaitu 225 pelaku laki-laki. Sebagian besar pelaku memiliki hubungan dekat dengan korban, yaitu suami/istri dan pacar/teman.

Potret kekerasan dan ketidakadilan yang dihadapi perempuan Bali tidak lepas dari sistem patrilineal masyarakat Bali. Penelitian Dampak Psikologis Kekerasan dalam Rumah Tangga terhadap Perempuan pada Budaya Patriarki di Bali menunjukkan bahwa faktor budaya patriarki menjadi salah satu penyebab terjadinya kekerasan.

Penelitian tersebut diambil dari tiga studi kasus terhadap perempuan Bali yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Kasus pertama dialami oleh SA yang menikah pada usia 20 tahun dengan pria yang masih memiliki ikatan saudara (satu merajan). SA mengalami kekerasan karena suami dan keluarganya memandang SA tidak bisa mengurus suami dan rumah tangga. Kasus kedua dialami oleh MA yang bekerja sebagai dosen. MA menikah pada usia 25 tahun dengan terpaksa, hingga akhirnya ia mengalami kekerasan yang dilakukan suami dan mertuanya. Kasus terakhir dialami oleh KD yang menikah pada usia 17 tahun. KD baru mengetahui suaminya sering mabuk-mabukan dan bermain judi ketika awal pernikahan.

Dari tiga kasus tersebut, penelitian ini menemukan tiga faktor penyebab terjadinya kasus kekerasan pada perempuan, yaitu faktor individual perempuan (korban) dan laki-laki (pelaku), faktor sosial-budaya, dan faktor sosial ekonomi.

Faktor individual dari perempuan ditunjukkan dari keinginan perempuan untuk memiliki pekerjaan di luar rumah, tetapi dibatasi oleh suami maupun mertua. Dalam sistem patrilineal masyarakat Bali, perempuan ditempatkan dalam urusan domestik dan adat keagamaan. Tak jarang perempuan Bali yang rela melepaskan pekerjaannya setelah menikah karena tuntutan suami maupun mertua.

Sementara itu, faktor individual laki-laki (pelaku) ditemukan pada kebiasaan berjudi, mabuk-mabukan, dan berselingkuh. Mabuk-mabukan menjadi cerminan kebiasaan masyarakat Bali, khususnya laki-laki yang mengonsumsi minuman keras dalam setiap kegiatan adat.

Faktor sosial-budaya-ekonomi terlihat dalam peran laki-laki sebagai pengendali sumber finansial dan pembuat keputusan dalam keluarga. Dari ketiga kasus, pergerakan istri dibatasi oleh mertua dan suami untuk bertemu orang tua, bekerja, dan melanjutkan pendidikan. Penelitian ini menemukan bahwa dalam pernikahan Bali, pekerjaan perempuan secara tidak langsung ditukar dengan perlindungan dan pemeliharaan hidup sehari-hari, khususnya ketika perempuan tidak bekerja dan bergantung pada suami. Fenomena ini menyebabkan perempuan sering merasa tidak dihargai.

Dalam sistem patrilineal, posisi laki-laki ditempatkan paling tinggi dibanding perempuan. Sistem tersebut menjadi faktor yang menyebabkan adanya anggapan bahwa istri dapat diperlakukan secara bebas.

Penelitian di atas dapat menggambarkan situasi perempuan yang mengalami kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga. Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan menunjukkan masyarakat Bali masih kental dengan budaya patriarki dan sistem patrilineal.

kawijitu kawijitu kawijitu kawijitu
Tags: budaya patriarki di Balikasus kekerasan di balikekerasan perempuan di balikekerasan terhadap perempuansistem patrilineal
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Kesetaraan Gender Melalui Sistem Perkawinan

Kesetaraan Gender Melalui Sistem Perkawinan

14 January 2022
Aksi dan Petisi untuk Ibu Nuril dan Septyan

Aksi dan Petisi untuk Ibu Nuril dan Septyan

21 November 2018

Hentikan Kekerasan terhadap Perempuan

1 June 2010
Next Post
Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Refleksi Gastro Kolonialisme dari Monyet Milenial

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia