
Pada 9 Januari 2026, saya menghadiri satu pameran seni yang paling berkesan di pembukaan tahun 2026 ini. Lokasi pameran terletak di Dalam Seniman Cofee Renon. Pameran seni tersebut berdul Monkey Millenial Pangan Lokal. Karya seni yang dipamerkan di situ adalah karya seni yang dibuat oleh I Komang Adiartha yang juga selau pendiri Kulidan Kitchen dan bekerja sama dengan seniman Satumone dan J3smoon. Saya berkeliling di ruang pameran melihat karya karya seni yang dipajang. Ada meja bertaplak putih, daftar harga karya seni yang dibuat menyerupai daftar harga menu makanan.
Di atas meja ada beberapa piring, peralatan makan dan mainan seni (art toys) monyet. Salah satu alasan seniman memilih membuat mainan seni berbentuk monyet adalah karena monyet hewan yang familiar di Bali. Saat saya berkeliling di ruang pameran, saya memotret satu karya lukisan I Komang Adiartha berjudul Gastro Colonialism. Karya seni tersebut menggambarkan monyet yang matanya ditutup oleh tulisan mie instant dan mie instant melilit leher dan tangan kiri monyet. Karya ini menunjukkan bagaimana gastro colonialisme eksis di balik mie instant.
Mie instant seperti indomie dan mie sedap merupakan makanan utama di masyarakat Indonesia termasuk Bali. Hampir mendekati nasi. Tapi pernahkan berpikir lebih dalam bahan baku utama mie instant? Banyak yang tidak berpikir demikian karena budaya masyarakat Indonesia fokus pada konsumsi. Iklan di media massa berperan dalam merangsang orang orang untuk mengonsumsi mie instant. Ketika harga mie instant naik 30%, tak sedikit orang yang berpikir bahwa ini tak jauh beda dari kenaikan harga beras. Yang sering luput dari perhatian adalah bahan utama untuk 95% mie instant yang beredar berasal dari luar negeri.
Indonesia adalah konsumen mie instant terbesar kedua di dunia setelah China1. Di balik harga mie instant yang murah ada subsidi besar untuk impor gandum dan tepung gandum untuk pembuatan tepung terigu yang menjadi bahan baku mie instant. Beban negara untuk subsidi tidak sedikit. Padahal Indonesia punya banyak tanaman budidaya dalam negeri yang berpotensi jadi bahan baku mie. Beras, singkong, umbi-umbian, kentang, jagung, pisang, sorghum dan sagu adalah contohnya. Tapi karena sudah terbiasa dengan mie dari tepung terigu, amat susah beralih menggunakan tepung dari bahan alternatif. Meski bahan bahan selain gandum tidak mengandung zat gluten sehingga aman bagi yang alergi gluten.
Makanan lain yang boleh dianggap bentuk dari gastro colonialism adalah junk food. Bahan bakunya yang mengandung banyak zat kimia dan impor dari luar. Coba lihat, pizza, biskuit, kue, roti, sandwich dan burger yang jadi makanan favorit di Indonesia saat ini, bahan utamanya sama seperti mie instant yaitu tepung terigu. Makanan yang terkenal di luar negeri jika bahan bakunya mudah diproduksi di indonesia seperti tortilla yang berasal dari jagung dan kentang goreng yang berbahan utama kentang dapat disebut kreativitas gastro yang berdaulat.
Jadi dapatkah warga Indonesia menerima kenyataan kalau impor gandum dan bahan bahan yang terbuat dari gandum tidak disubsidi oleh pemerintah sehingga harga tepung terigu pastinya lebih mahal daripada sekarang ini. Di saat yang sama pemerintah mendorong produksi tepung dan produk produk olahan dari tepung beras, jagung, singkong, umbi umbian, sagu, sorhum, pisang dan kentang demi memberdayakan petani dan tenaga kerja manufaktur dan sekaligus mewujudkan kedaulatan pangan?
Saya sebagai salah satu konsumen tidak begitu keberatan jika gandum dan tepung terigu mahal harganya karena tidak ada subsidi karena itu tidak berkontribusi terhadap kedaulatan pangan di Indonesia. Meski konsekuensinya biskuit, kue kering dan kue kue yang terbuat dari tepung terigu seperti kue red velvet merah, blackforest, tiramisu, dan kue-kue yang dijual di kafe dan toko harganya menjadi mahal. Tapi itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika ingin berkontribusi untuk kedaulatan pangan indonesia. Kalau saya menguji subsidi import gandum dan tepung gandum dengan tiga pertanyaan:
- Apa masalah yang diselesaikan dengan subsidi impor gandum?
- Apa hasil wujud nyata dari subsidi impor gandum?
- Bisakah subsidi import gandum tidak membebani anggaran negara?
Jawaban untuk ketiga pertanyaan di atas adalah tidak ada. Jika ada perusahaan yang ingin import gandum dan tepung gandum, perusahaan itu harus gunakan uangnya sendiri sepenuhnya. Bukan melobi pemerintah untuk dapat subsidi.
Untuk mie, kue, biskuit, kue kering, loyang dan lain-lain yang terbuat dari tepung beras, jagung, singkong , umbi , sagu, dan pisang ini dapat menjadi bahan bisnis. Mie dari tepung beras, lembaran roti tipis dari tepung jagung, kue dari tepung singkong dan biskuit dari tepung kentang tak kalah enak dari yang terbuat dari tepung gandum.
Craig Santos Perez adalah aktivis asal Guam yang mempelopori istilah gasto-colonialism. Ia menggunakan istilah gastro-colonialism atau penjajahan pangan untuk medeskripsikan keterikatan masyarakat Hawaii terhadap barang pangan impor-yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas rendah dan diproduksi oleh perusahaan multinasional, sehingga hal ini berkontribusi pada buruknya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat setempat2.
Kalau kita refleksikan dengan kondisi di Indonesia termasuk di Bali, ini adalah masalah nyata. Barang-barang makanan di supermarket yang diproduksi oleh perusahaan multinational seringkali berkualitas rendah dan berbahan baku impor. Gandum dan tepung yang terbuat dari gandum adalah buktinya. Lalu masyarakat Indonesia terbujuk untuk amat menyukai makanan yang terbuat dari gandum dan tepung gandum melalui iklan media massa dan pengaruh dari luar negeri.
Para penjajahlah yang mengajarkan orang Indonesia menyukai tepung gandum meski gandum tidak pernah ditanam dan pemerintah Indonesia membebani diri dengan mensubsidi import gandum dan tepung terigu. Yang miris adalah makanan yang terbuat dari gandum menandakan modernisasi tapi makanan yang terbuat dari ubi ketinggalan zaman.
Ini bukti gastro kolonialisme merasuk secara mendalam di sebagian masyarakat Indonesia. Tak jarang menganggap kalau terbuat dari tepung yang berbahan selain gandum kehilangan “autentik”. Faktor agar sesuai selera internasional dapat berperan di sini. Tapi yang disebut selera internasional itu selalu mengacu pada negara beriklim subtropis di mana gandum memang cocok ditanam di sana.
Sumber:
1. Siswodiharjo, Sunardi. Menggugat “Gastro-Colonialism”. Kompas, 13 September 2024.
https://www.kompas.com/food/read/2024/09/13/115326975/menggugat-gastro-colonialism?page=all.
Diakses tanggal 11 Januari 2025
- Ibd




