• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, June 23, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Kehebatan di Balik Kesederhanaan Singgih

Anton Muhajir by Anton Muhajir
8 December 2010
in Kabar Baru, Sosok
0
0

Teks dan Foto Anton Muhajir

Tak hanya jadi tempat pamer kreativitas, Bali Creative Festival (BCF) juga tempat belajar dari orang-orang hebat.

Salah satunya dari Singgih Kartono, penemu radio dari kayu. Dia berbicara pada talkshow tentang green creation and lifestyle bersama Paula dari Ecolabel di tenda talkshow BCF, Minggu (5/12) kemarin.

Singgih berbicara tentang hal, yang terlihat, sederhana: radio dengan bungkus kayu. Tapi, di balik produk itu dia berbicara tentang perlunya upaya terus merawat mimpi, menghormati alam yang kian dieksploitasi, membalik ketergantungan desa pada kota, serta bekerja dengan hati.

Produk Singgih berupa radio berbungkus kayu. Merknya Magno. Dia mulai memproduksi secara massal dari desa kelahirannya di Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah sejak tahun 2005 meski telah merintisnya sejak 1995.

Dari desa di kaki gunung Sundoro itu produk Singgih diekspor hingga Amerika Serikat (AS), Jepang, Jerman, Taiwan, Brazil, dan belahan dunia lain. Radio tanpa petunjuk gelombang itu pernah dipublikasikan Time dan O, majalah milik ratu talkshow Oprah Winfrey, serta media-media ternama lain di dunia.

Dia juga memenangkan penghargaan desain di Seattle, AS, Jepang, dan Hongkong. Untuk penghargaan di Hongkong itu, dia dimenangkan bersama iPhone, produk Apple yang tersohor itu.

Radio kayu (wooden radio) ini lebih tepat sebagai benda koleksi. Karena itu, kata Singgih, dijual agak mahal. Di Indonesia harga satuannya antara Rp 1,1 juta hingga Rp 1,3 juta. Di AS sekitar US$ 50. Di Brazil, menurutnya, produk ini menjadi barang termahal di antara negara-negara lain. Harganya sampai sekitar Rp 6 juta.

Singkatnya, dari jangkauan distribusi, publikasi, dan penghargaan prestisius itu, Singgih dan Magno adalah produk yang sudah diakui kehebatannya.

Namun, Singgih terlihat sesederhana produknya. Dia bicara tak berlebihan. Membicarakan jangkauan distribusi, publikasi, serta penghargaan luar biasa itu tanpa intonasi meninggikan dirinya. Ekspresinya juga datar.

Bagi saya, Singgih hebat karena dia tak menyanjung-nyanjung dirinya sendiri sebagai orang yang sudah berhasil. Dia sangat rendah hati. “Saya tidak bisa membuat konsep. Saya jalani saja apa adanya. Saya juga bukan tipe orang yang teratur saat bekerja,” akunya.

Padahal, dia harus jatuh bangun untuk mencapai situasinya saat ini. Dia memulai dari ruang tamu pinjam tetangganya pada tahun 2005. Komputer untuk bekerja hasil dari jualan cincin kawin. Dia juga pernah bolak-balik ditolak pembeli karena radio desainnya dianggap tak layak dipasarkan.

Dia terus memupuk mimpi bahwa produknya layak dibeli dan bisa menjadi sesuatu berbeda. Hingga setelah jatuh bangun, produk itu kemudian mendapat sambutan dari Panasonic, salah satu produsen alat elektronik di Indonesia. Menurut Singgih, itu salah satu momentum bagi Magno untuk dikenal dan dipasarkan ke berbagai penjuru dunia.

Karena menggunakan bahan baku kayu, maka Singgih juga harus menanamnya. Apalagi kayu yang dia pakai, sonokeling, umurnya mencapai sekitar 50 tahun untuk bisa dipakai. Maka, dia menanam lebih banyak dibanding menggunakannya.

Dalam setahun, menurutnya, perusahaannya hanya memotong maksimal 80 batang pohon sonokeling. Tapi, dia menanam 10 ribu pohon lain tiap tahun. “Prinsip saya: less wood, more works,” katanya.

Bagi Singgih, kayu itu sederhana. Dia punya batas sendiri sampai titik mana bisa digunakan dalam produk. Maka, kayu juga mewakili bagaimana alam sebaiknya digunakan. Seharusnya, kata Singgih, bukan alam yang menuruti manusia tapi sebaliknya, manusia yang mengikuti alam.

Melalui Magno, Singgih juga memperjuangkan mimpi yang lain: mengembalikan kekuatan ke desa.

sebab, menurutnya, dalam paradigma pembangunan Indonesia saat ini, desa selalu mendapat yang less, last, and worse ketika kota justru mendapat sebaliknya, more, first, and best. Maka, desa tak akan pernah maju.

Karena itu, Singgih memilih kembali ke desa setelah lulus Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah berhasil dengan Magno dia kini melanjutkan mimpi yang lain: membangun desa melalui pertanian organik. [b]

Tags: DenpasarDiskusiKomunitas KreatifSosok
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Dari Kebun hingga Pasar, Menyusuri Rantai Ekonomi Galungan di Bali

19 June 2026
Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

Siapa yang Peduli Hilangnya Mataair dan Bulakan di Kota Denpasar?

11 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Next Post
Long Live, Tattoo

Long Live, Tattoo

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Upaya Generasi Muda Tamblingan Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

22 June 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Upaya Generasi Muda Tamblingan  Membentengi Alas Mertajati dari Eksploitasi

Berpikir Holistik Membangun Bali: Perspektif Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

20 June 2026
Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

Kita Terlatih Hidup dengan Kerusakan: Kehidupan di Gang Taman Beji Pasca Banjir

19 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia