Raja Pasir resmi dirilis pada Selasa, 6 Oktober 2026 melalui Silver Records. Album ini merupakan album penuh kedua JANGAR setelah Jelang Malam (2019), sekaligus rilisan panjang terbaru setelah mini album Malam (2024), yang meraih Album Rock Terbaik di AMI Awards. Dalam sesi dengar, vokalis Gusten Keniten, bassist Rai Biomantara, dan drummer Pasek Darmawaysya hadir. Gitaris Dewa Adi Sanjaya berhalangan karena berada di Kupang.

Jeda panjang sejak Jelang Malam merekam perubahan hidup para personel. Mereka kini membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, dan band. Rai mengatakan keluarga menjadi prioritas, sehingga waktu untuk bertemu dan membicarakan arah JANGAR harus diselipkan di tengah kesibukan. Mereka kerap mencuri waktu untuk menjaga langkah band tetap bergerak. Rilis pers menyebut hidup terasa “lebih seru dan penuh perjuangan”. Anak-anak mereka yang tumbuh menjadi pendengar JANGAR membuat gagasan tentang masa depan terasa dekat, bukan sekadar tema fiksi.

Masa depan menjadi benang merah Raja Pasir. Album ini memuat harapan sekaligus keraguan tentang dunia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pasek mempertanyakan apakah manusia akan meninggalkan distopia bagi anak dan cucu, atau masih punya alasan untuk berharap. Ia juga bertanya apakah manusia hanya akan menunggu dan diam menghadapi kerusakan yang sudah terlihat. Dalam sesi dengar, ia membayangkan dunia tanpa hutan dan air, ketika sumber daya yang tersisa kembali diperebutkan.

Judul album diambil dari lagu “Raja Pasir”, yang merujuk pada Shai-Hulud, cacing gurun sakral dalam novel fiksi ilmiah Dune karya Frank Herbert. Bagi Pasek, dunia Dune mendorong pertanyaan tentang kemampuan manusia untuk bertahan. “Galaktika” membuka album dengan synthesizer dan perjalanan antariksa, sebelum pendengar kembali ke bumi yang memburuk. Gurun bukan hanya lanskap, melainkan bayangan kerusakan lingkungan dan kelangkaan. Fiksi menjadi cara untuk memandang masa depan yang terasa kian dekat.

Sepuluh lagu album bergerak dari “Galaktika”, “Raja Pasir”, “Air Keras”, “Dunia Dalam Berita (Hujan Peluru)”, “Tanah Suci”, “Waktu”, “K3 (Kajeng Kliwon Kronikel)”, “Robokop pt. 2”, “Lelah”, hingga “Ayat-ayat”. Urutan itu mengatur ketegangan seperti sebuah pertunjukan. “Dunia Dalam Berita (Hujan Peluru)” dan “Tanah Suci” memandang perang melalui rumah yang diratakan, jeritan, ayah yang mengais reruntuhan, dan ibu yang memanggil anaknya. Moderator menyoroti “Tanah Suci” sebagai jeda sebelum “Waktu” beralih dari bencana kolektif ke batas hidup personal. Peralihan itu terasa seperti ancang-ancang sebelum band kembali mendorong energi.
Fiksi politik ikut memberi kerangka bagi album ini. Pasek menghubungkan sejumlah gagasan dengan novel 1984 karya George Orwell, terutama Big Brother dan Newspeak: pengawasan warga serta penghapusan kata-kata yang dinilai mengancam rezim. Rujukan tersebut membantu membaca lagu tentang represi tanpa menguncinya pada satu kejadian. Pasek menyebut novel, puisi, dan bacaan lain sebagai sumber inspirasi. Ia membebaskan lagu-lagu dari kewajiban menyebut isu lokal secara eksplisit.
“Air Keras” paling langsung menghubungkan imajinasi distopia dengan masa kini. Lagu tentang represi pemilik kuasa terhadap orang yang berani bersuara ini lebih dulu diperkenalkan sebagai single, lalu JANGAR merilis maxi-single yang memuat “K3” dan “Waktu”. Pasek mengatakan ia menulisnya agar relevan dengan keadaan sekarang, tetapi inti lagu tetap tentang represi yang berulang lintas waktu. Kata-kata tentang buku, kritik, diskusi, puisi, dan oposisi menggambarkan ruang publik yang menyempit. Seruan di bagian akhir menggeser lagu dari kewaspadaan menuju ajakan untuk tidak diam.
Meski memuat kritik, JANGAR tidak ingin Raja Pasir dibebani kewajiban untuk selalu menyuarakan satu kebenaran. Pasek mengingat pendekatan bebas yang mereka pakai saat membuat Jelang Malam. Ia juga jenuh ketika setiap karya disebut lahir dari “kegelisahan”. Baginya, musik harus menyenangkan dan memberi ruang untuk menulis apa pun yang menarik, sambil tetap menyisakan sesuatu yang dapat memantik pikiran pendengar. Lagu bisa menyentil tanpa menjelaskan semua sikap penciptanya. Pasek berharap pendengar tahu bahwa mereka tidak sendirian.

Di sesi dengar, Pasek menjelaskan waktu sebagai pengikat gagasan album yang menghubungkan masa lalu, kini, dan masa depan. Dalam dunia yang makin tandus, uang mungkin kehilangan arti, sementara air menjadi sumber yang diperebutkan. “Waktu” lalu mempersempit skala dari peradaban menuju individu. Detaknya terasa pelan, tetapi hidup terus bergerak menuju batasnya. Menunggu pun dapat menghabiskan sisa waktu. Hubungan antara gurun masa depan dan kematian personal membuat lagu ini menyambung tema album tanpa mengulang gambaran distopia secara harfiah.
Pengalaman personal masuk melalui “K3”, singkatan dari Kajeng Kliwon Kronikel. Kredit mencantumkan Rai sebagai penulis lirik bersama Pasek. Rai bercerita bahwa salah satu kejadian yang melatari lagu berdekatan dengan Hari Raya Siwaratri. Ia sempat kehilangan kesadaran, sampai orang di sekitarnya mengira ia telah berpulang. Ia memaknainya sebagai pengingat untuk lebih teliti dan mengurangi kelalaian. Pengalaman itu lalu diolah menjadi cerita bersama band, bukan berhenti sebagai catatan personal. Lagu ini membawa pengalaman tubuh, cahaya, dan dengung menuju kesadaran bahwa hidup hanya sekali.
Tubuh yang menuntut perhatian muncul lagi dalam “Robokop pt. 2”, kelanjutan cerita dari lagu JANGAR sebelumnya. Kali ini Robokop bukan lagi sosok heroik yang prima. Ia dibayangkan memasuki usia paruh baya, mengalami masalah sendi, menjalani fisioterapi, menebus resep, dan menghadapi efek samping obat. Permainan yang tetap bertenaga berhadapan dengan tokoh yang harus diservis. Humor tentang BPJS dan perawatan tidak menghapus rasa getir, tetapi membuat sakit dan ketergantungan pada obat terasa dekat dengan keseharian. Lagu ini menyambung lelucon lama Robokop dengan persoalan tubuh yang menua.
“Lelah” memperluas tema tubuh ke dunia kerja. Liriknya berangkat dari tenaga yang terkuras di jalan dan pekerjaan, lalu berpindah dari aku ke kami. Perubahan itu mengubah letih pribadi menjadi pengalaman bersama, tanpa menjanjikan kemenangan. Moderator menyoroti dorongan lagu-lagu JANGAR yang terdengar seperti anthem, meski liriknya membawa beban. Musik yang terus mendorong terdengar sebagai tenaga untuk bertahan, meski tokohnya mengaku berhenti mencari makna dan mimpi. Di ujung album, “Ayat-ayat” menyisakan empat baris pertanyaan tentang doa, ayat, dan pembunuhan anak manusia. Piano dan vokal anak-anak memberi warna pada penutup yang tidak menawarkan jawaban.
Sebagian materi album telah lama beredar di antara personel. Mereka menyebut beberapa gagasan muncul setelah Jelang Malam, lalu diperiksa ulang dalam latihan dan workshop kecil. “Tanah Suci” pernah memiliki pembuka yang lebih panjang sebelum menemukan bentuk akhirnya. Dewa juga meninggalkan gitar superstrat dengan pickup single coil yang biasa dipakai sebelumnya. Ide-ide yang belum cocok untuk album disimpan, bukan dipaksakan masuk. Setelah rekaman selesai dan judul album ditetapkan, ia mengetahui nama warna gitar barunya adalah Desert Burst. Kebetulan itu terasa sejalan dengan lanskap album.
Perangkat bunyi JANGAR ikut berkembang. “Galaktika” dan “Robokop pt. 2” memuat synthesizer, sementara “Ayat-ayat” memakai piano. Kredit menyebut Pasek memainkan kedua instrumen tersebut. Produksi dan aransemen dikerjakan Adi Sanjaya, Gusten Keniten, Pasek Darmawaysya, dan Rai Biomantara; Adhika Mahardika turut terlibat di “Galaktika”. Penulisan lagu dicantumkan atas nama Adi Sanjaya dan Pasek Darmawaysya. Lirik umumnya ditulis Pasek, dengan “K3” dan “Robokop pt. 2” ditulis bersama Rai.
Gusten Keniten menghadapi tantangan vokal pada lagu bernada tinggi dan berlirik padat. Latihan serta vokal latar membantu menemukan napas dan artikulasi. Materi wawancara juga menyebut coaching vokal bersama Anda Perdana. Tude Arta Sedana merekam instrumen di Antida Studio dan vokal di Kubuku Studio. Bayu Perkasa menangani mixing, Carl D. Saff mastering, dan Reinhard Sila mengisi vokal latar. Detail ini memperlihatkan kerja yang menopang tenaga vokal album.

Dunia visual album dikembangkan bersama Morrgth, seniman visual sekaligus bassist Rajasinga yang pernah mengerjakan sampul Jelang Malam. JANGAR menginginkan gurun yang sunyi namun bergejolak, menyimpan misteri, dan terasa seperti menunggu bencana. Pasek menyebutnya “tenang namun mematikan”. Morrgth menangani artwork, logo, layout, dan desain; Dion Dea Clarensa memotret band. JANGAR menyampaikan kerinduan pada goresan cat air dan sketsa tangan di tengah maraknya kecerdasan buatan. Mereka tidak menolak kemajuan, tetapi mempertanyakan apakah kemajuan juga dapat menumpulkan keterampilan manusia. Bagi JANGAR, proses visual tangan manusia menjadi bagian dari pernyataan album.
Dalam sesi dengar, personel turut membicarakan rilisan fisik sebagai benda yang ingin dibuat layak dibawa pulang. Kemasan dan pengalaman membaca lirik menjadi bagian dari cara pendengar mengenal album. Nilainya bagi mereka juga terletak pada kenangan yang dapat disimpan, bukan hanya margin penjualan. Perhatian itu melengkapi gagasan bahwa album tidak hanya berupa lagu, tetapi juga dunia visual yang bisa dilihat dan disimpan.
Moderator meminta peserta menyebut lagu yang melekat setelah sekali mendengar. Karena baru mendengar album sekali, tanggapan mereka merekam kesan awal. Salah seorang menyebut “K3”, sementara pendengar lain bisa masuk lewat kritik “Air Keras”, kisah kerja “Lelah”, atau pertanyaan di “Ayat-ayat”. Respons itu belum mewakili seluruh peserta, tetapi menunjukkan beberapa pintu masuk ke album.
Setelah dirilis pada 6 Oktober 2026, Raja Pasir tersedia di layanan streaming melalui Silver Records. JANGAR akan membawakannya dalam pertunjukan “Jangar Membawakan Raja Pasir” pada Minggu, 8 November 2026 di Krapela, Row 9, Jakarta Selatan. Rilis pers mencantumkan tiket reguler Rp150.000 dan informasi melalui Instagram @krapela.live. Di sesi dengar, band menjelaskan bahwa jaringan musik di Jakarta lebih cepat merespons, sedangkan menggelar acara sendiri dari Bali membutuhkan upaya tambahan.
Raja Pasir menatap masa depan lewat gurun, kelangkaan, dan dunia yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Album ini juga kembali ke masa kini melalui represi, kerja, sakit, usia, dan kelalaian. Sesi dengar memperlihatkan JANGAR tidak mengunci lagu-lagunya pada satu tafsir. Pasek menjaga kebebasan bermain, Rai membawa pengalaman tubuh ke dalam lirik, sementara band memberi ruang bagi bunyi baru dan cerita lama. Di lagu penutup, pertanyaan tentang nyawa dan doa tetap menggantung setelah musik berhenti.




