• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, February 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Inilah Alih Fungsi Trotoar di Denpasar

Anton Muhajir by Anton Muhajir
12 April 2012
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan, Sosial
0
0

Trotoar di Denpasar makin jauh dari fungsi sebenarnya.

Seperti asal muasalnya dari Bahasa Perancis, trottoir, trotoar adalah tempat untuk berjalan kaki. Kalau di Perancis sana, setidaknya di Paris sih, trotoarnya memang bisa sampai 4 meter atau bahkan lebih. Jadi ya memang asyik buat jalan kaki.

Namun, mari kita cek di Denpasar. Masihkah trotoar berfungsi sebagai mana mestinya?

Karena ingin tahu, sejak Senin lalu saya benar-benar memerhatikan trotoar terutama di jalan-jalan yang saya lewati di Denpasar. Ada beberapa jalan dengan trotoar bagus dan digunakan sebagai mana mestinya.

Misalnya, di sekitar jalan Kamboja, Denpasar. Trotoar di kawasan ini rata-rata bagus. Bersih pula. Kalau pagi pas saya berangkat kerja atau sore pas pulang kerja, ada saja orang-orang lewat. Ya, maklum. Ini kawasan sekolah dan kampus.

Namun, setelah cek dan cek lagi, ternyata lebih banyak trotoar di Denpasar yang kondisinya hancur berantakan atau berganti fungsi. Coba deh lihat pas sambil lewat. Berapa orang sih yang kita lihat sedang berjalan kaki di trotoar Denpasar? Atau lihatlah apakah trotoar itu masih berfungsi dengan baik.

Berdasarkan pengamatan sekilas, inilah di antaranya sebagian alih fungsi trotoar tersebut. Lengkap pula dengan lokasinya.

Tempat Sampah
Di beberapa tempat, warga Denpasar justru menggunakan trotoar sebagai tempat buang sampah meski di sana tak ada tempat sampahnya. Di sana warga membuang sampah sampai menumpuk di trotoar. Kesannya jadi jorok. Bau lagi.

Contohnya jalan yang hampir tiap hari saya lewati, jalan Nangka Selatan, Denpasar. Beberapa titik trotoar di kanan kiri jalan ini pun berisi sampah. Malah saya pernah lihat di perempatan jalan Nangka, jalan Sari Gading dan jalan Jala Suci ini tumpukan sampah dengan manisnya bersanding di depan spanduk berisi tulisan besar, “Jangan Buang Sampah di Sini.” Ironis kan?

Tempat Parkir
Kadang ada pula trotoar di Denpasar yang jadi tempat parkir. Tak cuma sepeda motor tapi juga mobil. Dengan cueknya sepeda motor atau mobil mengambil sebagian trotoar meski itu bukan tempat parkir.

Kalau ini sih dengan mudah bisa ditemukan di sepanjang jalan Gatot Subroto, jalan Diponegoro, jalan Teuku Umar, dan pusat-pusat keramaian di Denpasar.

Karena trotoarnya dipakai parkir, maka pengguna jalan pun jadi korban. Itu juga kalau ada yang menggunakannya sih.

Tempat Ngebut
Bagi sebagian pengguna sepeda motor, trotoar bisa jadi jalan layang di tengah kemacetan di Denpasar. Maka, dengan sekuat tenaga dan setebal muka, mereka pun menaikkan sepeda motornya ke trotoar lalu ngebut seenaknya.

Seiring dengan semakin seringnya kemacetan di Denpasar, maka semakin sering pula trotoar jadi tempat ngebut atau bahkan balapan.

Beberapa ruas trotoar yang paling sering, berdasarkan pengalaman saya, adalah jalan Imam Bonjol atau jalan Sesetan. Trotoar di sana kadang-kadang serupa lapangan akrobat atau tong edan.

Oh ya. Saya tak menyindir bin nyinyir. Kadang-kadang saya juga jadi salah satu pesulap yang menjadikan trotoar sebagai tempat ngebut itu kok. Hihihi..

Tempat Jualan
Ini sih sepertinya hampir semua trotoar di Denpasar. Apalagi ketika malam hari. Trotoar yang seharusnya jadi tempat jalan-jalan itu pun berubah fungsi jadi tempat dagang, terutama oleh pedagang kaki lima (PKL).

Kalau para aktivis antiglobalisasi di Amerika Serikat bikin gerakan Occupy Wall Street, maka PKL di Denpasar bikin gerakan Occupay Sidewalk. Tiap malam tiada henti! Maka, silakan sakit hati para pengguna trotoar. PKL ini toh jadi raja trotoar pas malam hari.

Salah satu contoh paling sahih dari pendudukan trotoar oleh para PKL ini adalah jalan Teuku Umar dan jalan Diponegoro selatan. Lihatlah dari ujung ke ujung. Hampir di sepanjang jalan ada saja pedagang sari laut, martabak, lesehan, dan semacamnya yang mengubah trotoar agar berfungsi sebagai tempat jualan ini.

Tempat Buang Jin
Sebagian trotoar di Denpasar, atau banyak ya, yang rusak parah. Kalau bukan pavingnya yang rusak ya bisa saja isi lubang. Nah, alih fungsi semacam ini yang paling bahaya. Apalagi kalau dipakai untuk jalan kaki malam hari dan tanpa cukup lampu penerangan. Bisa-bisa pengguna jalan lalu masuk lobang itu.

Karena lubangnya ini gelap dan menakutkan, anggap saja trotoarnya telah berubah fungsi. Tak lagi tempat jalan kaki tapi tempat buang jin. Soale menyeramkan. Hihihi… [b]

Tags: DenpasarFasilitas Publik
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

Ketimpangan Ruang dan Kelas di Pasar Badung

21 October 2025

Ancaman Kesehatan Pasca Banjir di Bali

8 October 2025
Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

Mengelola Dana Darurat Banjir Bali: Antara Potensi dan Transparansi

20 September 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

Pasar Badung Berwajah Mewah, Tukang Suun Kian Lelah, Perlindungan Susah

4 June 2025
Next Post
Murah Meriah Akhir Pekan di Nusa Penida

Murah Meriah Akhir Pekan di Nusa Penida

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia