
Imagine: Never Called by My Name merupakan sebuah refleksi komunitas atas coloniality of power—kerangka epistemologis yang secara struktural menempatkan standar Barat sebagai patokan legitimasi bagi apa yang dianggap estetik, rasional, dan manusiawi. Dalam konteks ini, perempuan Indonesia, terutama yang berasal dari wilayah terpinggirkan dan urban pinggiran mengalami tekanan budaya dan religius yang keras, seringkali diposisikan sebagai subyek yang harus menjalani proses akulturasi estetika dan identitas—dengan mematikan suara, pengalaman, dan kreativitas yang berakar pada realitas lokal. Pameran ini, dengan tegas merupakan sebuah upaya untuk meregister, menantang, dan merekonstruksi narasi yang telah dikuasai oleh logika kuasa, yang melibatkan keterbatasan, ketakutan, dan pengabadian hierarki gender yang diimpor bersamaan dengan kolonialisme.
Dihadapkan pada kondisi-kondisi kompleks yang penuh kehilangan dan kegoncangan di tahun 2025 lalu, kami memilih untuk berstrategi ke dalam diri—bukan sebagai bentuk ketidakberdayaan atau menarik diri dari realitas politik, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran yang lain. Ia berbalik ke dalam, menatap pengalaman pribadi yang sekaligus menjadi pengalaman bersama—di mana rasa sakit, kenangan, dan perasaan yang terwujud menjadi sumber pengetahuan, bukan sekadar hasil dari krisis. Dari titik balik ini, Breaking The Chain berupaya menemukan cara-cara untuk memulihkan diri dari dalam, menolak ritme yang terlalu serampangan dan mendesak, serta memberi ruang bagi pengalaman hidup untuk berbicara dalam waktunya sendiri.
“Imagine : Never Called by Name” lahir dari kegelisahan tersebut: kegelisahan atas bagaimana pengalaman perempuan—dalam tubuh, dalam rumah, dalam ruang-ruang ibadah dan ruang publik—seringkali mengalami proses penghilangan ganda. Pertama, penghilangan sebagai fakta: luka, perawatan, pengorbanan, pengasingan yang dialami sehari-hari tidak terdata di dalam arsip-arsip kebijakan; kedua, penghilangan sebagai narasi: ketika pengalaman itu dibingkai ulang oleh aparat hukum, otoritas agama, atau wacana publik, seringkali ia diberi nama yang bukan asalnya, atau ditukarkan menjadi statistik yang tidak mengenali singularitas subjek. Pameran ini mengajak untuk menghentikan aksi penamaan oleh pihak lain yang menyusutkan pengalaman menjadi tanda diagnosis, dan sebaliknya memberi ruang bagi pengalaman itu untuk mengajar — bukan hanya sebagai bahan empati, tetapi sebagai data kritis dan argumen politik.
Pameran ini mencoba membaca jejak tubuh, praktik perawatan, pola hidup, ritus-ritus kecil yang mengikat generasi dan diam-diam mengungkap struktur. Tubuh sebagai arsip: memori otot, bekas luka, ritme perlawanan, kebiasaan yang diwariskan– dimana semua ini merupakan arsip yang lebih rentan, juga reaksi yang lebih jujur tentang bagaimana hukum, agama, dan kebijakan membentuk kemungkinan hidup manusianya. Pameran ini tidak melihat tubuh sekadar sebagai data—melainkan sebagai pemilik narasi yang harus didengarkan dan dihormati. Oleh karenanya tahun ini BTC mengumpulkan tenaga untuk masuk sedalam pengalaman personal para anggota senimannya dan partisipan komunitas. BTC paham bahwa gerakan perempuan selalu terkait erat dengan pengalaman politik yang memengaruhi kehidupan personal—dan sebaliknya, pengalaman personal ini punya potensi untuk mengubah pandangan politik. Dengan melihat saudara-saudara perempuan di Indonesia yang multikultural, dan memperluas lensa ke dunia yang lebih luas, pameran ini bekerja melalui memori tubuh yang saling berkesinambungan.
Di ujungnya, Breaking The Chain bukan sekadar pameran berjalan; ia adalah jaringan praksis yang merawat pengalaman sebagai sumber legitimasi etis dan politik. Kami berharap proyek ini menumbuhkan ekosistem solidaritas: antara seniman dan komunitas, antara lokal dan lintas?negara, antara estetika dan advokasi. Dengan setiap tahap perjalanan pameran, kami belajar bahwa tubuh yang selama ini “tak pernah dipanggil dengan nama mereka sendiri” sesungguhnya menuntut untuk dipandang dan didengar dengan setara—bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek pengetahuan.
Ketika kami pindah dari satu kota ke kota lain, membayangkan rumah induk yang berganti, kami membawa serta kepekaan terhadap tetangga baru dan kisah?kisah yang menunggu untuk bertemu. Seperti menyewa sebuah rumah baru yang jendela?jendelanya menatap lanskap yang berbeda, kami belajar menempati ruang itu dengan hormat: menyalakan lampu bersama, menanam sesuatu di halaman, dan sesekali meminjam gula dari tetangga. Di situ, perbedaan menjadi alasan untuk belajar, bukan untuk mengasingkan; persamaan menjadi pangkal perjumpaan, bukan pemaksaan. Semoga pameran ini, dalam langkah?langkah kecilnya, membuka lorong?lorong empati yang menuntun kita pada pemahaman yang lebih lezat dan lebih adil—sebuah dunia dimana setiap tubuh dipanggil, diberi nama, dan diakui sepenuhnya sebagai penutur dari hidupnya sendiri.
Para Seniman
- Nisa Rizkya
Nisa R.A., seorang seniman visual yang karyanya mencakup seni visual, fotografi, dan film, mengeksplorasi isu-isu perempuan dan kesenjangan antargenerasi. Penelitian Magisternya membahas tubuh perempuan di Aceh dan wacana ketakutan yang melingkupinya, memberikan konteks yang mendalam bagi karyanya.
- Shindy Lestari
Shindy Lestari adalah seorang ibu, pekerja rumah tangga, dan seniman yang berbasis di Bali, Indonesia. Dalam praktik fotografi nya, Shindy mengeksplorasi tema-tema seputar kondisi dan interaksi manusia sehari-hari, seperti pengasuhan, peran ibu, ruang, dan aktivitas rumah tangga.
- Gevi Noviyanti
seorang fotografer dokumenter dan potret, karyanya mengarah pada budaya, masyarakat, dan seni, dengan fokus khusus pada isu-isu gender yang mempengaruhi perempuan dan kelompok rentan.
- Matra Durga
Matra Durga (lahir 2002) adalah seorang seniman visual dan peneliti seni yang berkarya di berbagai bidang multimedia, pertunjukan, dan praktik partisipatif. Karyanya mengeksplorasi tubuh perempuan, spiritualitas lokal, dan struktur kekuasaan di Bali kontemporer melalui penelitian artistik dan penyelidikan performatif.
Waktu : 14 Februari – 14 Maret 2026
Lokasi : Uma Seminyak, Bali
Jl. Kayu Cendana Oberoi No.1, Seminyak, Kec. Kuta Utara,
Kabupaten Badung, Bali 80361
Maps https://maps.app.goo.gl/aknGSWDsqL4XVuaGA
Tentang Breaking The Chain
Kami adalah kolektif seni rupa visual perempuan dan non-biner yang terbentuk pada pertengahan tahun 2025. Proyek kami diawali dengan tur pameran di tiga kota di Indonesia: Yogyakarta, Cirebon, dan Aceh. Dua seniman yang tergabung dalam Breaking The Chain, yaitu Gevi Noviyanti dan Nisa R. A, mengangkat tema Stop Child Marriage.
Apa yang bermula dari kegelisahan personal masing-masing seniman kemudian berkembang menjadi kegelisahan kolektif.
Melalui karya-karya visual yang dibentuk dari perspektif dan persoalan gender, kami berupaya membuka ruang dialog serta menjadi medium untuk membawa isu-isu sosial berbasis gender ke ruang publik, terutama menjangkau kota-kota kecil di Indonesia.
Program Publik: Ruang untuk Berbicara, Berbagi, Berbuat Bersama.
| Tanggal & Hari | Waktu | Acara | Seniman/Pembicara |
| Sabtu, 14 Feb 2026 | 18:00 – 21:00 | Opening Pameran: Performance lecture by Matra Durga Live Drawing by Puhan | |
| Minggu, 15 Feb 2026 | 13:00 – Selesai | Workshop: Making Zine + Lunch Together | Sepatokimin |
| Senin, 16 Feb 2026 | 16:00 – 18:00 | Artist Talk | Nisa Rizkya, Shindy Lestari, Gevi Noviyanti, Matra Durga Moderator: Reyni Wulur |
| Sabtu, 21 Feb 2026 | 16:00 – 18:00 | Talk with Women Photographer | Nyimas Laula, Irene Barlian |
| 19:00 – 21:00 | Film Night (Screening and Discussion) | Kurasi oleh Raslene | |
| Minggu, 22 Feb 2026 | 13:00 – Selesai | Workshop: Paper Flower Making. | Ruang Mekar |









![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)
