• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, March 5, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Budaya

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Uma Seminyak by Uma Seminyak
14 February 2026
in Budaya, Galeri, Kabar Baru
0
0

Imagine: Never Called by My Name merupakan sebuah refleksi komunitas atas coloniality of power—kerangka epistemologis yang secara struktural menempatkan standar Barat sebagai patokan legitimasi bagi apa yang dianggap estetik, rasional, dan manusiawi. Dalam konteks ini, perempuan Indonesia, terutama yang berasal dari wilayah terpinggirkan dan urban pinggiran mengalami tekanan budaya dan religius yang keras, seringkali diposisikan sebagai subyek yang harus menjalani proses akulturasi estetika dan identitas—dengan mematikan suara, pengalaman, dan kreativitas yang berakar pada realitas lokal. Pameran ini, dengan tegas merupakan sebuah upaya untuk meregister, menantang, dan merekonstruksi narasi yang telah dikuasai oleh logika kuasa, yang melibatkan keterbatasan, ketakutan, dan pengabadian hierarki gender yang diimpor bersamaan dengan kolonialisme.

Dihadapkan pada kondisi-kondisi kompleks yang penuh kehilangan dan kegoncangan di tahun 2025 lalu, kami memilih untuk berstrategi ke dalam diri—bukan sebagai bentuk ketidakberdayaan atau menarik diri dari realitas politik, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran yang lain. Ia berbalik ke dalam, menatap pengalaman pribadi yang sekaligus menjadi pengalaman bersama—di mana rasa sakit, kenangan, dan perasaan yang terwujud menjadi sumber pengetahuan, bukan sekadar hasil dari krisis. Dari titik balik ini, Breaking The Chain berupaya menemukan cara-cara untuk memulihkan diri dari dalam, menolak ritme yang terlalu serampangan dan mendesak, serta memberi ruang bagi pengalaman hidup untuk berbicara dalam waktunya sendiri.

“Imagine : Never Called by Name” lahir dari kegelisahan tersebut: kegelisahan atas bagaimana pengalaman perempuan—dalam tubuh, dalam rumah, dalam ruang-ruang ibadah dan ruang publik—seringkali mengalami proses penghilangan ganda. Pertama, penghilangan sebagai fakta: luka, perawatan, pengorbanan, pengasingan yang dialami sehari-hari tidak terdata di dalam arsip-arsip kebijakan; kedua, penghilangan sebagai narasi: ketika pengalaman itu dibingkai ulang oleh aparat hukum, otoritas agama, atau wacana publik, seringkali ia diberi nama yang bukan asalnya, atau ditukarkan menjadi statistik yang tidak mengenali singularitas subjek. Pameran ini mengajak untuk menghentikan aksi penamaan oleh pihak lain yang menyusutkan pengalaman menjadi tanda diagnosis, dan sebaliknya memberi ruang bagi pengalaman itu untuk mengajar — bukan hanya sebagai bahan empati, tetapi sebagai data kritis dan argumen politik.

Pameran ini mencoba membaca jejak tubuh, praktik perawatan, pola hidup, ritus-ritus kecil yang mengikat generasi dan diam-diam mengungkap struktur. Tubuh sebagai arsip: memori otot, bekas luka, ritme perlawanan, kebiasaan yang diwariskan– dimana semua ini merupakan arsip yang lebih rentan, juga reaksi yang lebih jujur tentang bagaimana hukum, agama, dan kebijakan membentuk kemungkinan hidup manusianya. Pameran ini tidak melihat tubuh sekadar sebagai data—melainkan sebagai pemilik narasi yang harus didengarkan dan dihormati. Oleh karenanya tahun ini BTC mengumpulkan tenaga untuk masuk sedalam pengalaman personal para anggota senimannya dan partisipan komunitas. BTC paham bahwa gerakan perempuan selalu terkait erat dengan pengalaman politik yang memengaruhi kehidupan personal—dan sebaliknya, pengalaman personal ini punya potensi untuk mengubah pandangan politik. Dengan melihat saudara-saudara perempuan di Indonesia yang multikultural, dan memperluas lensa ke dunia yang lebih luas, pameran ini bekerja melalui memori tubuh yang saling berkesinambungan.

Di ujungnya, Breaking The Chain bukan sekadar pameran berjalan; ia adalah jaringan praksis yang merawat pengalaman sebagai sumber legitimasi etis dan politik. Kami berharap proyek ini menumbuhkan ekosistem solidaritas: antara seniman dan komunitas, antara lokal dan lintas?negara, antara estetika dan advokasi. Dengan setiap tahap perjalanan pameran, kami belajar bahwa tubuh yang selama ini “tak pernah dipanggil dengan nama mereka sendiri” sesungguhnya menuntut untuk dipandang dan didengar dengan setara—bukan sebagai objek penelitian, melainkan sebagai subjek pengetahuan.

Ketika kami pindah dari satu kota ke kota lain, membayangkan rumah induk yang berganti, kami membawa serta kepekaan terhadap tetangga baru dan kisah?kisah yang menunggu untuk bertemu. Seperti menyewa sebuah rumah baru yang jendela?jendelanya menatap lanskap yang berbeda, kami belajar menempati ruang itu dengan hormat: menyalakan lampu bersama, menanam sesuatu di halaman, dan sesekali meminjam gula dari tetangga. Di situ, perbedaan menjadi alasan untuk belajar, bukan untuk mengasingkan; persamaan menjadi pangkal perjumpaan, bukan pemaksaan. Semoga pameran ini, dalam langkah?langkah kecilnya, membuka lorong?lorong empati yang menuntun kita pada pemahaman yang lebih lezat dan lebih adil—sebuah dunia dimana setiap tubuh dipanggil, diberi nama, dan diakui sepenuhnya sebagai penutur dari hidupnya sendiri.

Para Seniman

  • Nisa Rizkya

Nisa R.A., seorang seniman visual yang karyanya mencakup seni visual, fotografi, dan film, mengeksplorasi isu-isu perempuan dan kesenjangan antargenerasi. Penelitian Magisternya membahas tubuh perempuan di Aceh dan wacana ketakutan yang melingkupinya, memberikan konteks yang mendalam bagi karyanya.

  • Shindy Lestari

Shindy Lestari adalah seorang ibu, pekerja rumah tangga, dan seniman yang berbasis di Bali, Indonesia. Dalam praktik fotografi nya, Shindy mengeksplorasi tema-tema seputar kondisi dan interaksi manusia sehari-hari, seperti pengasuhan, peran ibu, ruang, dan aktivitas rumah tangga.

  • Gevi Noviyanti

seorang fotografer dokumenter dan potret, karyanya mengarah pada budaya, masyarakat, dan seni, dengan fokus khusus pada isu-isu gender yang mempengaruhi perempuan dan kelompok rentan.

  • Matra Durga

Matra Durga (lahir 2002) adalah seorang seniman visual dan peneliti seni yang berkarya di berbagai bidang multimedia, pertunjukan, dan praktik partisipatif. Karyanya mengeksplorasi tubuh perempuan, spiritualitas lokal, dan struktur kekuasaan di Bali kontemporer melalui penelitian artistik dan penyelidikan performatif.

Waktu : 14 Februari – 14 Maret 2026

Lokasi : Uma Seminyak, Bali

Jl. Kayu Cendana Oberoi No.1, Seminyak, Kec. Kuta Utara,

Kabupaten Badung, Bali 80361

Maps https://maps.app.goo.gl/aknGSWDsqL4XVuaGA

Tentang Breaking The Chain

Kami adalah kolektif seni rupa visual perempuan dan non-biner yang terbentuk pada pertengahan tahun 2025. Proyek kami diawali dengan tur pameran di tiga kota di Indonesia: Yogyakarta, Cirebon, dan Aceh. Dua seniman yang tergabung dalam Breaking The Chain, yaitu Gevi Noviyanti dan Nisa R. A, mengangkat tema Stop Child Marriage.

Apa yang bermula dari kegelisahan personal masing-masing seniman kemudian berkembang menjadi kegelisahan kolektif.

Melalui karya-karya visual yang dibentuk dari perspektif dan persoalan gender, kami berupaya membuka ruang dialog serta menjadi medium untuk membawa isu-isu sosial berbasis gender ke ruang publik, terutama menjangkau kota-kota kecil di Indonesia.

Program Publik: Ruang untuk Berbicara, Berbagi, Berbuat Bersama.

Tanggal & HariWaktuAcaraSeniman/Pembicara
Sabtu, 14 Feb 202618:00 – 21:00Opening Pameran:
Performance lecture by Matra Durga Live Drawing by Puhan

Minggu, 15 Feb 202613:00 – SelesaiWorkshop: Making Zine + Lunch TogetherSepatokimin
Senin, 16 Feb 202616:00 – 18:00Artist TalkNisa Rizkya, Shindy Lestari, Gevi Noviyanti, Matra Durga Moderator: Reyni Wulur
Sabtu, 21 Feb 202616:00 – 18:00Talk with Women PhotographerNyimas Laula, Irene Barlian

19:00 – 21:00Film Night (Screening and Discussion)Kurasi oleh Raslene
Minggu, 22 Feb 202613:00 – SelesaiWorkshop: Paper Flower Making.Ruang Mekar
kampungbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet
Tags: imagine never called by my namesiaran pers
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Uma Seminyak

Uma Seminyak

Uma Seminyak ruang kreatif di tengah komplek pertokoan Uma Seminyak yang membuka ruangnya untuk komunitas kreatif di Bali. Ragam program dan kegiatan kreatif diadakan dengan semangat komunitas, mulai dari pameran desain & seni, diskusi, lokakarya, pemutaran film, performance, hingga pop up market. Semangat kolaborasi lintas disiplin dan keinginan untuk tumbuh bersama adalah hal utama yang diusung dari ruang kreatif ini.

Related Posts

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

28 February 2026

Situasi Pariwisata Bali Kini dari Pernyataan Gubernur

27 February 2026
Merawat Ingatan, Tubuh, dan Perspektif Perempuan lewat Ruang Aman Menulis

Merawat Ingatan, Tubuh, dan Perspektif Perempuan lewat Ruang Aman Menulis

19 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Kejanggalan di Balik Putusan Massa Aksi 30 Agustus

Kejanggalan di Balik Putusan Massa Aksi 30 Agustus

3 February 2026
Rekam Jejak 41 Tahun TPA Suwung: Berulang kali Hendak Ditutup, PSEL Gagal

Menata Ulang Kebijakan Pengelolaan Sampah Nasional

2 February 2026
Next Post
Memetakan Alih Fungsi Lahan di Bali, Bagaimana Menyegel yang Terbangun?

Rangkuman Raperda Pengendalian Alih Fungsi Lahan Produktif dan Larangan Alih Kepemilikan Lahan secara Nominee

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

Pelestarian Nyoman dan Ketut VS Otonomi dan Hak Reproduksi dalam Kebijakan KB Krama Bali

5 March 2026
Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

Setahun Koster – Giri: Lebih dari 70 Regulasi Baru, Pusat Kebudayaan Bali, dan Teror Sampah

4 March 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Membakar Vitalitas Kebudayaan

4 March 2026
Mesin Tap Trans Metro Dewata Sering Galat

Perang dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

3 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia