• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, February 14, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Hujan Datang, Panen Rumput Laut Berkurang

Anton Muhajir by Anton Muhajir
6 March 2012
in Berita Utama, Sosial, Video
0
1

Ombak yang datang hampir tiap menit dan terik matahari tak menghalangi Nyoman Geret, 60 tahun. Petani rumput laut di pantai Ungasan, Kuta Selatan, Badung, itu mengumpulkan rumput laut sambil berendam hingga perut.

Dia bertelanjang dada membawa serok, alat penangkap ikan, untuk menjaring rumput sedikit demi sedikit. Setiap kali serok telah separuh terisi, dia akan membawanya ke pantai. Bapak dua anak itu mengumpulkannya sedikit demi sedikit.

Matahari amat terik sekitar pukul 2 siang itu. Menurut Yahoo Weather hingga 34 derajat Celcius. Geret tak peduli. Dia terus menjaring rumput laut, sumber penghidupan utamanya, tersebut.

Geret dan petani rumput laut lainnya biasa bekerja pada pagi hari untuk memeriksa rumput laut yang mereka tanam. Misalnya membersihkannya dari sampah atau hama. Setelah itu, pada siang hari, mulai sekitar pukul 2 hingga 5 sore, mereka akan mencari rumput laut yang terlepas dari pengikatnya.

Berjarak hanya sekitar 10 meter dari tempat Geret mengumpulkan rumput laut, belasan turis asing sedang berjemur dan berenang di kolam. Ketika turis asing sedang menikmati biru Samudera Pasifik dan terik matahari tropis, Geret justru harus menghadapi kenyataan pahit, jumlah panennya terus berkurang.

Musim hujan terjadi di Bali antara November hingga April. Pada bulan-bulan inilah, setiap tahun, jumlah panen rumput laut akan berkurang. “Air laut lebih keruh dan kotor. Rumput laut jadi mudah rusak,” kata Geret.

Rumput laut rusak terlihat dari warna yang tidak terlalu hijau, kekuningan, dan agak kusam. Karena kuatnya arus setelah hujan, menurut Geret, rumput laut juga lebih mudah rontok sehingga rumpunnya berkurang sampai setengah atau sepertiga ukuran biasa. “Kalau rumput laut jelek juga tak bisa dijual,” tambah Geret.

Menurut Geret, selain pada musim hujan, dia bisa mendapatkan 1.000 kg rumput laut dari 5 petak lahan yang dia kerjakan. Namun, ketika musim hujan tiba, dia hanya bisa mendapatkan 200 kg, 20 persen dari jumlah panen biasanya.

Petani lain, Made Karna, 58 tahun, juga mengalami hal serupa. Empat bulan terakhir, jumlah panennya pun turun. Jumlahnya sama persis dengan apa yang dialami Geret. Dari biasanya panen hingga 1.000 kg dari lima petak (tanpa ukuran pasti), kini dia cuma dapata 200 kg. “Itu pun sudah paling banyak,” ujarnya.

Jumlah panen tersebut merupakan rumput laut yang sudah kering, bukan rumput laut basah yang baru dipanen. Setiap kg rumput laut kering, setelah dijemur antara 3-4 hari, dijual Rp 8.600. Mereka biasa panen dua kali setiap 45 hari.

Dengan panen yang berkurang pada musim hujan, pendapatan petani pun berkurang. Geret dan Karna mengatakan, saat ini pendapatan mereka dari penjualan rumput laut hanya sekitar Rp 1 juta per bulan. Padahal pada hari biasa sekitar Rp 3 juta.

Karena itu, mereka harus mencari pekerjaan lain. Karna, misalnya, kadang-kadang juga jadi buruh bangunan atau bekerja di hotel ataupun vila di sekitar kawasan tersebut. Adapun Geret mengaku nyambi sebagai petugas pengaman salah satu vila di Ungasan. “Kalau tidak bekerja di tempat lain, pendapatan kami mana cukup untuk hidup sehari-hari,” kata Karna.

Pantai Ungasan di ujung selatan Bali merupakan salah satu pusat pertanian rumput laut di Bali selain di kawasan Nusa Penida dan sekitarnya. Menurut Karna ada sekitar 5 kelompok petani rumput laut di kawasan ini dengan jumlah anggota kelompok antara 20-30 orang.

Mereka bertani rumput laut di laut terbuka. Tidak ada sistem kepemilikan lahan karena tiap petani bisa mengapling lahannya sendiri. Tiap satu kali musim tanam rumput laut adalah 45 hari dengan waktu panen hingga 2 kali.

Ketika waktu panen belum tiba, mereka akan mencari rumput laut yang terlepas dari ikatan-ikatan di mana mereka menanam rumput laut tersebut. Itu pula yang dilakukan Geret dan Karna siang tersebut. Mereka sedang mencari sisa dari jumlah panen yang terus berkurang. Dari sisa-sisa itulah mereka sekarang menggantungkan sumber pendapatan. [b]

Tags: BadungEkonomiRumput LautSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Inilah Panduan Nyepi Tanpa Internet Tahun Ini

Tersingkir di Tanah Sendiri

12 November 2025
Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

Mendata Bencana Banjir dengan Crowdsourcing

17 September 2025
Budaya Ngayah Makin Langah

Budaya Ngayah Makin Langah

13 June 2025
A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

A Day in My Life, 140.000 untuk Segelas Keringat Pekerja Harian

9 June 2025
Apakah Pendidikan Kita Sudah Siap Berkolaborasi dengan Teknologi?

Apakah Pendidikan Kita Sudah Siap Berkolaborasi dengan Teknologi?

8 September 2024
Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

13 August 2024
Next Post
Petisi Bali Tolak RUU Ormas

Petisi Bali Tolak RUU Ormas

Comments 1

  1. Bali Tourism Guide says:
    14 years ago

    beginilah kondisi rakyat kita. berbeda dengan partai politik yg asyik dengn nyanyiannya

    Bali Tourism Guide

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

Imagine: Never Called by My Name Mewakili Kegelisahan Perempuan

14 February 2026
Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

Dari Bali ke Bangkok, Morbid Monke dan Bab Awal Feel Alive Tour

14 February 2026
Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

Sekolah Pembaharu Ashoka: Kelola Sampah sampai Ekskul Agro

13 February 2026
Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

Investasi WNA di Bali: Meningkat, Didominasi Rusia, Usahanya dari Real Estate sampai Rental Motor

12 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia