• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, June 9, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Hindu di Untal-untal, Minoritas di Tengah Mayoritas

Agus Widiantara by Agus Widiantara
18 August 2011
in Berita Utama, Kabar Baru
0
5

Bali pada umumnya dikenal sebagai pemeluk agama Hindu terbesar di Nusantara.

Beragam upacara keagamaan bernafaskan Hindu selalu menjadi “referensi” bagi umat Hindu di wilayah lainnya di Indonesia, seperi Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Namun tak menyangka, di Bali pun terdapat umat Hindu minoritas di tengah “kemayoritasannya”.

Lokasinya di Banjar Untal-untal, Desa Dalung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Sebagian masyarakat Bali mungkin tahu hal ini. Pertama kali masuk ke banjar tersebut, saya dan rombongan mahasiswa disambut bangunan berarsitektur Bali. Gapura megah nan mewah itu terletak di sebelah kanan jalan. Namun, itu bukan Pura maupun puri para raja terdahulu sebagai peninggalan sejarah. Bangunan tersebut tempat sembahnyang umat Nasrani lengkap dengan simbol di gapura bangunan tersebut.

Jika dilihat sepintas, tak menyangka itu adalah “Rumah Allah” lengkap dengan bale kul-kulnya.

Namun, lebih mengagetkan lagi, tepat di depan bangunan tersebut terdapat gapura sangat sederhana. Begitu kontras dengan gapura pertama. Itulah Pura masyarakat Untal-untal, di mana tempat berlangsungnya interaksi upacara yadnya desa, setiap hari raya tiba.

“Kok gini, ya. Ini Bali, lho. Wajar kalau di luar Bali seperti ini,” ucap salah satu teman.

Sungkan
Memang benar adanya. Bangunannya yang begitu kontras terlihat menjadi keprihatinan kawan saya, termasuk saya sendiri. Setelah itu, kami coba untuk menanyakan warga keberadaan tokoh di sana, seperti Kelian Dinas dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Tepat di sebelah selatannya terdapat warung. Terlihat dua perempuan menyambut dengan senyum. Seperti warung orang Bali pada umumnya, begitu sederhana.

Kami mencoba menanyakan keberadaan rumah Kelian Dinas dan PHDI setempat. Dengan santun ia menggunakan bahasa Bali halus (Sor Singgih). Kami pun sungkan. Namun, dengan berat hati kami tanyakan dengan Bahasa Indonesia, meskipun tak nyaman menggunakannya.

“Tak apalah, yang penting ia ngerti maksud kami,” pikir saya. Dalam  warung saya perhatikan tak ada plangkiran, tempat yang diyakini umat Hindu sebagai tempat beristananya para dewata sekaligus tempat melakukan ritual setiap hari (mabanten) sebelum berkegiatan termasuk berdagang dimulai.

Akhirnya saya temukan pengganti plangkiran tersebut. Bentuknya pun jauh menyerupai dari tempat untuk melaksanakan upacara keagamaan Umat Hindu seperti biasanya; Salib! Ternyata itu pengganti plangkiran pemilik warung bersangkutan.

Saat teman sedang asyik menanyakan beberapa informasi tentang desa, saya tak berkutik banyak, dan mencoba memilih diam untuk sementara waktu.

Belum lagi di depan rumah warga setempat. Dengan gagah saya lihat papan nama warga bertuliskan ”I Putu Yohanes”, sebuah kombinasi nama sekaligus identitas umat di sana.

Pinjam
I Made Mulia, tokoh PHDI setempat, bertutur banyak mengenai desa dan keadaan umat yang heterogen di sana. Memang mayoritas pemeluk agama di sana Nasrani. Namun  demikian, hidup berdampingan selalu terjalin dengan rukun. Bahkan, menurut pengakuannya, umat Nasrani yang terdiri dari pemeluk Katolik pun sering membantu Umat Hindu saat melaksanakan upacara keagamaan.

“Mereka juga waktu ini mapunia (sumbangan dalam bentuk materi), dari uang hingga konsumsi, untuk proses upacara karya Ngenteg Linggih ini,” katanya. Dia menuturkan upacara yang terselenggara pada 10 Agustus lalu.

Selain itu, menurutnya, selama ini umat Nasrani banyak membantu untuk hal teknis. Hal ini karena jumlah umat Hindu di sana hanya 23 Kepala Keluarga (KK), sisanya urban ke Denpasar. Apalagi upacara sekelas Ngenteg Linggih jelas dibutuhkan banyak tenaga dan biaya.

“Untung saja KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, red), dan masyarakat lain mau ke sini membantu,” tambahnya.

Meskipun usianya tak muda lagi, namun ia semangat dalam menjalankan swadharmanya. Sedikitnya umat Hindu di sana tidak membuat ia malu dan putus asa. Bahkan ia merasa jengah untuk terus membangun Hindu dan menggandeng umat lainnya yang ada di sana sebagai nyame (saudara).

Menurut Mulia, kalau umat Hindu melakukan upacara, mereka rajin membantu. Begitupun kalau di Gereja ada kegiatan, krama di Hindu akan membantu. “Pokoknya saling membantu,” tambahnya. “Bahkan gong pun kami pinjam di Gereja. Soalnya, saya kenal baik dengan pengelola di sana,“ urainya.

Ia juga menceritakan seorang oknum yang memanfaatkan keadaan umat Hindu di sana sekadar sebagai ajang pencitraan semata.

“Ada dulu orang ke sini bilang mau ngabdi. Namun, nyatanya cuma cari nama,” ungkapnya kesal terhadap seseorang yang pernah menawarkan bantuan untuk umat Hindu di sana.

Lelaki berusia setengah abad lebih tersebut mengaku bahwa selama ini ia belajar banyak dari umat lain dalam pembinaan umat. [b]

Tags: AgamaBaliHinduKatolikToleransi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Agus Widiantara

Agus Widiantara

Related Posts

Abrasi yang tak Pernah Henti di Pantai Kuta

Hilangnya Pesisir Bali: Memahami Akar Krisis Abrasi dan Jalan Keluarnya

4 June 2026
Mai Memunyi!

Mai Memunyi!

30 May 2026
Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Next Post
Ruang Publik Juga Tempat Mengkritik

Ruang Publik Juga Tempat Mengkritik

Comments 5

  1. agus widiantara says:
    15 years ago

    he, maf mas anton , lambat kirim foto,,udah saya kirim sih fotonya, kalau bisa di ganti ya, 🙂

    Reply
  2. Gede Lumbung says:
    15 years ago

    wuichhh, saya jg kaget bacanya, apalagi pas liat fotonya.
    ternyata benar yg pernah diceritakan oleh teman saya, ada umat hindu yg minoritas di pulau bali.
    tapi tetap bangga melihat umat hindu dan umat beragama yg lainnya bisa hidup berdampingan.

    salam kenal mas. 😀

    Reply
  3. Natalius says:
    15 years ago

    keberagaman adalah keindahan Indonesia, salut buat Bali, meskipun dikenal sebagai mayoritas masyarakatnya memeluk Hindu tetapi hidup secara berdampingan dengan damai dengan umat lain, semakin kumencintai Indonesia

    Reply
  4. aswie says:
    15 years ago

    Kadang, ada orang yang tidak senang melihat keharmonisan dalam keragaman. Apa karena yang dilihat tidak seseragam mereka ya? Maaf, semoga dalam bulan yang ”suci?” pikiran baik datang dari segala penjuru.

    Reply
  5. Yanti says:
    13 years ago

    Mau ralat sedikit.. itu bukan gereja Katolik tapi gereja Kristen Protestan..

    Reply

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Hindari Penggunaan Bahan Ini dalam Banten

8 June 2026
Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

7 June 2026

Menepi Sejenak di Serayu Pottery Ubud 

6 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia