
Oleh Nauval Azhar dan Ita Purnamasari
Sejak kecil kita selalu diajarkan untuk berpikir dan bertingkah laku sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat sekitar tempat tinggal kita. Umumnya, orang tua mengajari anaknya untuk mengekspresikan perasaan batinnya. Proses-proses yang terjadi di masa lalu nantinya akan menjadi bekal dalam menentukan masa depan.
Begitulah cara sederhana untuk memahami habitus. Habitus merupakan suatu konsep yang digagas oleh Pierre Bourdieu untuk melihat bagaimana proses sejarah individu berpengaruh pada peristiwa besar. Sebaliknya, peristiwa besar tidak akan lepas dari sejarah individu. Habitus merupakan produk sejarah yang terbentuk setelah manusia itu lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu. Habitus bukan bawaan alamiah, atau kodrat tetapi hasil pembelajaran lewat pengasuhan dan bersosialisasi dalam masyarakat. Proses pembelajarannya halus, tak disadari dan tampil sebagai hal yang wajar.
Sabtu, 16 Agustus 2025, merupakan hari yang kemudian menjadi cikal bakal kemarahan masyarakat yang berakhir dengan kerusuhan. Pasalnya di tengah kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat, DPR pada saat itu tengah merayakan kenaikan gajinya sebesar 3 juta rupiah. Hal yang menjadi sorotan adalah Eko Patrio anggota komisi 4 delegasi Partai Amanat Nasional dan Uya Kuya anggota komisi 9 delegasi Partai Amanat Nasional, yang turut berjoget ria dalam video yang beredar.
Keduanya berangkat dari latar belakang profesi yang sama yakni seorang pembawa acara yang berpenampilan menarik seperti ekspresi dan gerak tubuh yang ditampilkan. Latar belakang tersebut seharusnya menjadi modal besar bagi keduanya untuk memperoleh jenjang karir yang gemilang di dunia politik, karena keduanya memiliki keahlian dalam bersilat lidah dan berbicara didepan khalayak.
Kendati demikian, kelihaiannya menjadi bumerang bagi keduanya. Esensi seorang legislator adalah sebagai orang yang dipercaya untuk mewakili. Eko Patrio dan Uya Kuya di mata masyarakat telah dianggap mencoreng marwah daripada lembaga DPR RI itu sendiri dengan tindakannya dalam video yang beredar.
Uya Kuya Dan Eko Patrio merupakan seorang pembawa acara. Habitus dari pembawa acara berpenampilan menarik (ekspresi, gerak tubuh), dalam hal ini Uya kuya dan Eko patrio saat menjadi anggota DPR masih tetap memperlihatkan ekspresinya yang riang dan gembira sama seperti saat menjadi pembawa acara. Gerak tubuh yang ditampilkan oleh Uya kuya juga tetap konsisten, terbukti pada saat sidang MPR yang memperlihatkan kedua tokoh ini dengan ekspresi riang dan kelihaian tubuh mereka.
Habitus yang seharusnya dimiliki oleh seorang politisi yang menduduki kursi parlemen legislatif ialah berwibawa dan formal. Berwibawa dalam menyampaikan aspirasi rakyat, berwibawa dalam membawa nama baik institusi, menaati norma yang telah disepakati dalam Peraturan DPR nomor 1 tahun 2011 yang membahas tentang kode etik DPR. Termasuk juga berwibawa pada saat mengikuti rapat-rapat baik itu internal maupun eksternal.
Habitus pembawa acara dan habitus politisi yang dimiliki oleh Uya Kuya dan Eko Patrio sama sekali tidak imbang dan saling bertabrakan. Seorang anggota DPR tentunya diharuskan memiliki etiket seperti yang telah dijabarkan. Namun, Uya Kuya dan Eko Patrio dalam sidang MPR pada tanggal 16 Agustus 2025 tidak mencerminkan etiket yang semestinya. Apakah kemudian mereka sebagai anggota dewan masih belum bisa menyesuaikan diri dengan habitus anggota dewan dalam waktu 6 bulan? Rasanya cukup mustahil, terlebih mereka berasal dari Partai yang cukup besar namanya. Lalu kemudian muncul satu pertanyaan, apakah peristiwa ini justru mengarah kepada Partai mereka? Mengingat partai mereka dalam beberapa tahun kebelakang banyak mengambil anggota dari kalangan artis.
Ranah Field menjadi salah satu faktor krusial bagi individu dalam habitus. Ranah bisa diibaratkan seperti lem yang menempel di kertas, tidak bisa lepas kecuali dipaksa. Ranah yang dimiliki oleh Uya Kuya dan Eko Patrio sebelum menjadi anggota dewan ialah ranah selebritis, di mana para selebritis akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapat perhatian dari penontonnya. Mereka juga rela melakukan apapun demi suara tawa keluar dari mulut penontonnya, meski hal yang dilakukan memalukan. Begitulah kiranya kehidupan di belakang layar para selebritis.
Kemudian, apakah Uya Kuya dan Eko Patrio masih dalam ranah yang sama pada saat menjadi anggota dewan? Jawabannya masih, karena mereka tergabung dalam partai yang sama yaitu Partai Amanat Nasional yang beberapa kurun waktu merekrut anggota dari latar belakang selebritis.
Realitas yang menyedihkan memang berasal dari sistem politik kita. Sistem politik yang dikuasai oleh pemilik modal akan melahirkan partai-partai yang culas dan mengandalkan popularitas sebagai daya tarik.
Berkumpulnya selebritis dalam satu partai yang sama akan menjadikan mereka tidak keluar dari ranah mereka sebelumnya. Semula para selebritis itu mungkin memiliki niat untuk menjadi perwakilan rakyat, akan tetapi pada akhirnya mereka terjebak pada ranah yang sama. Ranah yang seharusnya menjadi tempat bersaing antar habitus, kemudian menjadi tempat legitimasi satu habitus yang kemudian mendominasi.
https://www.english.focaravajuce.org/ kampungbet






![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)