• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Guru-guru Kembali Belajar tentang Kuta

Fadlik Al Iman by Fadlik Al Iman
11 August 2014
in Berita Utama, Kabar Baru, Lingkungan, Pendidikan
0
0

foto.fadlik

Belum lama ini puluhan guru Sunari Loka berkumpul melihat Kuta lebih dekat.

Lho, bukannya mereka telah lama mengenal Kuta? Itulah pula yang menjadi pertanyaan besar saya ketika mengikuti kegiatan mereka pekan lalu.

Pagi-pagi mereka telah berkumpul di ruangan multi media. Acara dibuka oleh ketua Yayasan Drs. I Nengah Cipta. Dalam sambutannya Pak Cipta berharap agar peserta serius mengikuti materi yang disajikan.

“Jadilah guru yang aktif bertanya karena apabila tidak aktif tentu akan berakibat pada yang lain,” imbuhnya.

Kegiatan ini berlangsung beberapa hari. Materi terdiri dari materi kelas dan luar ruang disertai games terkait materi.

Pada kalimat pembukanya pemateri dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali, Herni Pili mengajak guru-guru menyanyikan lagu Indonesia Pusaka bersama-sama. Salah seorang guru nyeletuk “Indonesia Raya, Bu..”

Herni menyambutnya, “Indonesia Pusaka, Bapak.”

Guru-guru yang lain membenarkan. Iya.. ada juga lagu Indonesia Pusaka. “Kalau upacara keseringan menyanyikan Indonesia Raya sih..” sahut guru di belakang.

Slide pertama yang muncul adalah Jejak Ekologi yang disampaikan Herni. Materi ini mengingatkan kita lagi lebih dalam, bahwa dalam mengisi hidup pasti manusia memproduksi sampah.

“Untuk itu kita harus mengingat ngingat jejak ekologi dari produk yang kita pakai,” papar Herni.

Ambil contoh, minuman mineral ternama yang diambil dari Jawa. Berapa banyak polusi yang dikeluarkan oleh truk pengangkut minuman tersebut sampai ke Bali. Jika telah digunakan dalam beberapa menit, ke mana perginya sampah kemasan air mineral tersebut?

Guru-guru semakin serius mendengarkan sambil berbicara pelan-pelan membuat beberaa contoh. Herni pun membagi guru-guru dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikannya.

Hal yang bisa didefinisikan dari Jejak Ekologi adalah sebuah alat untuk mengukur atau menganalisis berapa jumlah konsumsi sumber daya alam dan sampah yang dihasilkan. Diharapkan dari materi ini kita lebih arif lagi memilah dan memilih barang yang akan kita gunakan.

Usai pemaparan Jejak Ekologi, pembicara lain yaitu Catur Yudha Hariani menyampaikan materi selanjutnya. Kali ini kita semua diingatkan bahwa pendidikan adalah sebuah rangkaian proses tiada henti demi kemampuan, prilaku yang dimiliki individu agar dapat dimanfaatkan bagi kehidupannya.

Barulah pertanyaan saya terjawab ketika Catur memaparkan materinya, Education for Sustanable Development (ESD), pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Visinya memberdayakan manusia agar mampu bertanggung jawab dalam menciptakan dan menikmati masa depan berkelanjutan.

Nah, jika dikaitkan dengan Kuta, para guru langsung membayangkan Kuta tempo dulu, sekarang serta apa yang akan terjadi ke depan. Saya baru ketemu jawabannya. Namun masih penasaran.

Usai pemaparan para guru kembali membentuk kelompok. Uniknya setiap perwakilan oleh fasilitator dijuluki tokoh-tokoh di Indonesia. Ada Megawati, Prabowo, Jokowi, Yusuf Kalla serta Afgan seorang penyanyi. Hal ini dilakukan agar peserta tidak bosan mengikuti materi.

Satu persatu peserta menggali potensi Kuta, apa saja perubahan yang terjadi pada Kuta, serta apa saja yang harus dilakukan ke depan.

Ibu Asana Vibeke dari I’m An Angel menjelaskan perbedaan Kuta di tahun 1970-an masih alami sekali, tidak ada polusi, masih banyak pohon. Jajanan yang ada masih dirajai makanan lokal. Kini produk multi nasional telah berada di Kuta.

Lantas guru-guru memetakan juga lewat gambar. Tak hanya Kuta namun seluruh pantai di Bali. “Perkembangan kawasan wisata yang makin luas ternyata mengakibatkan kerusakan lingkungan yang makin luas pula,” ungkap salah satu guru yang dijuluki sebagai Jokowi.

Ditambahkannya lagi bahwa akibat water sport mengancam kehidupan bawah laut. “Belum lagi sekarang pantai Kuta menjadi bulan bulanan kiriman sampah,” imbuhnya.

Dalam kata penutup Ketua Yayasan Pak Cipta mengharapkan agar guru-guru makin peka terhadap perubahan di Kuta khususnya, serta Bali secara umum. Dengan demikian mereka bisa menginformasikan ke murid-murid sesuai dengan nama Sunari Loka yang berarti tempat pancaran kecerdasan. [b]

Tags: KutaLingkunganPendidikan
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Fadlik Al Iman

Fadlik Al Iman

Pegiat lingkungan di Yayasan Alam Indonesia Lestari (LINI) Bali.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Serbuan Konten AI: Ketika Membedakan Asli dan Palsu itu Melelahkan

Kontroversi Jasa Joki Tugas Kuliah

26 November 2025
Next Post
Mengemas Ulang Seni Budaya Bali

Mengemas Ulang Seni Budaya Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia