• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Wednesday, August 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

[Esai Foto] Saya Tidak Benci Teroris

Anggara Mahendra by Anggara Mahendra
26 August 2017
in Berita Utama, Foto, Sosial
0
0
Potret Ngesti Puji Rahayu atau Yayuk di tempat kerjanya di jalan Teuku Umar Denpasar pada tahun 2012 sebagai asiten rumah tangga. Yayuk berpose dengan potret dirinya sebelum mengalami tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra

“Agama saya tidak pernah mengajarkan kebencian,” ujar Yayuk.

Dia menjawab ketika ditanya apa ia membenci teroris yang membuat tubuhnya mengalami luka bakar permanen. Ngesti Puji Rahayu akrab dipanggil Yayuk lahir di Jember pada tahun 1962. Dia salah satu korban langsung bom Bali I pada 12 Oktober 2002.

Saat kejadian ia tengah bersama teman-temannya di Paddys Club untuk bersenang-senang. Rencana menghibur hati justru berubah tragedi ketika bom meledak dan mengempaskan tubuhnya beberapa meter hingga dekat DJ booth.

Ia sempat tidak sadarkan diri. Ketika terbangun di sekitarnya sudah banyak tumpukan manusia dan orang-orang panik. Beberapa di antaranya berteriak “panas! panas!”

Yayuk menjelaskan bagaimana proses operasi sejak tahun 2002 di Australia yang membuat luka permanen di tubuhnya. Foto: Anggara Mahendra

Singkat cerita setelah kejadian itu, Yayuk dibawa ke ICU dan sempat dikira sudah meninggal karena kondisi fisiknya yang cukup parah. Bahkan ia sudah sampai dimandikan saat di kamar jenazah. Untungnya saat itu Yayuk siuman dan ditolong oleh Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) yang membawanya terbang ke Australia untuk operasi seluruh tubuhnya.

Sejak operasi pertamanya tahun 2002, ia tidak boleh terkena matahari langsung karena kulit yang sudah terbakar tidak lagi memiliki lapisan kulit pelindung seperti kita yang masih normal. Biasanya ia akan merasakan gatal yang luar biasa jika terpapar sinar matahari langsung dan intensitas cukup lama.

Pada 2003 operasi Yayuk dilanjutkan di Rumah Sakit Royal Perth, Australia pada bagian telinganya. Kemudian di 2009 tangannya kembali dioperasi karena sudah terlalu banyak keloid yang tumbuh sehingga susah untuk berada pada posisi lurus. Sebagian besar operasi yang dilakukannya adalah permasalahan keloid yang tumbuh sejak tubuhnya mengalami luka bakar.

Yayuk berganti agama dari Islam ke Kristen karena pada proses pengobatan dan penyembuhannya banyak dibantu umat Kristen. Foto: Anggara Mahendra

Tragedi yang menimpanya membuat Yayuk berpindah kepercayaan dari Islam ke Kristen. Alasannya karena dalam proses pengobatan dan penyembuhan ia banyak ditolong oleh umat Kristen yang membuatnya yakin untuk mengubah kepercayaan.

Saat ini Yayuk menjalani hidup barunya dengan bekerja sebagai asisten di villa milik ekspatriat Jerman di daerah Krobokan. Tugasnya dimulai dari pagi hingga 3.30 sore dengan menyapu, menyiram, mencuci pakaian dan memberi makan dua anjing lokal milik pemiliknya.

Yayuk pada tahun 2012 ketika bekerja sebagai asisten rumah tangga di jalan Teuku Umar, Denpasar. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Krobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan villa, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di villa. Foto: Anggara Mahendra
Keseharian Yayuk yang sudah lebih dari 2 tahun bekerja sebagai asisten di vila milik ekspatirat asal Jerman di Kerobokan, Bali. Tugas utamanya mengurusi kebersihan vila, memberi makan anjing dan menyiram tanaman di vila. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk tidak memiliki kendaraan sendiri dan sering menggunakan jasa transportasi umum untuk mobilitasnya. Foto: Anggara Mahendra
Suasana Ground Zero di jalan Legian, Kuta, Bali – Indonesia saat peringatan 14 tahun Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Yayuk bersama teman lainnya yang tergabung dalam Isana Dewata (Istri Anak dan korban Bom Bali) – yayasan non profit yang menaungi para korban bom bali untuk kesehatan fisik dan mental mereka. Foto: Anggara Mahendra
Buku memorial yang disediakan Yayasan Isana Dewata untuk menulis harapan dan doa untuk korban tragedi Bom Bali. Foto: Anggara Mahendra
Canang (persembahan Hindu Bali), bir, karangan bunga dipersembahkan di Monumen Ground Zero untuk memberi penghormatan pada korban saat tragedi Bom Bali I dan II. Foto: Anggara Mahendra
Potret Ngesti Puji Rahayu atau akrab dipanggil Yayuk, salah satu korban langsung tragedi Bom Bali 2002. Ia mengalami luka bakar ketika berkunjung ke Paddys Club dan tubuhnya terlempar beberapa meter sampai ke booth DJ hingga tak sadarkan diri. Foto: Anggara Mahendra
Tags: AgamaBalibali bombBom Balidocumentarydocumentary photographyKutaphotojournalismreligionteroris
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anggara Mahendra

Anggara Mahendra

fotojurnalis lepas, pembuat catatan visual dan pengendara Si Kemot, Honda C70 merah

Related Posts

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

Understanding the “Sulfur Burst” Phenomenon in Lake Batur and its Root Causes

12 August 2026
Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

Jejak Gunung Api Bawah Laut: Menelusuri Lava Bantal Ponjok Batu, Kisah Geologi di Bali Utara

12 August 2026
Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

Memahami Fenomena “Semburan Belerang” di Danau Batur dan akar masalahnya

26 July 2026
Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

Lelaki yang Berdiri 150 Meter dari Kawah: Mengenang Stehn dan Letusan Batur 1926

20 July 2026
Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

Menelusuri Asal Muasal Sumber Air Empat Danau Vulkanik Di Bali

22 June 2026
Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

Ngobrolin Krisis Iklim Bersama Climate Freask dan Kenapa Bali Perlu Versi Lokalnya

15 June 2026
Next Post
Personal Branding Facebook

7 Hal Personal Branding di Facebook Tingkatkan Bisnis Anda

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

Ketika Hujan, Tajamkan Indera Pembau. Petrikor Tanah dan Beton Berdampak pada Masa Depan.

19 August 2026
Di Balik Proyek PSEL Bali: Hantu Kegagalan Masa Lalu dan Ancaman Masa Depan

Dilema Energi Bali: PSEL di tengah Ambisi Bali Pulau 100% Energi Terbarukan pada 2045

19 August 2026

Memecah Mitos Membiarkan Kemasan Air Minum Plastik di Sema Desa Tigawasa

19 August 2026
Aksi FSPM Bali Menuntut Hak Pekerja

Aksi FSPM Bali Menuntut Hak Pekerja

18 August 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia