• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Sunday, March 15, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Enak ya, Tinggal di Bali?

Vanessa Harsamto by Vanessa Harsamto
12 August 2024
in Kabar Baru, Opini
0
0
Canggu Shortcut – foto oleh Genesis Creative Centre

Lima tahun adalah waktu yang singkat, tapi nyatanya di Bali menjadi waktu yang cukup untuk mengobservasi perubahan-perubahan yang terjadi di pulau ini. Lahir di Bali, saya adalah seorang perantau yang tumbuh besar di pulau Jawa, yang sesekali ke Bali saat hari raya Galungan. Memori masa kecil tentang Bali salah satunya adalah mandi di sungai, jalan ke sawah, dan main air di pantai Lebih. Usai menempuh pendidikan dan beranjak dewasa, saya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Tinggal di Bali sebagai orang dewasa, saya kerap kali mendengar teman atau rekan dari luar Bali menyampaikan kepada saya, “enak ya tinggal di Bali!” atau “gue juga pengen banget deh pindah ke Bali!”.

Sulit bagi saya untuk merespon pernyataan ini, karena alasan saya tinggal di Bali adalah untuk pulang kampung, menjahit kembali sebagian identitas budaya di diri saya yang renggang karena terpisah jarak dan waktu, dan bukan untuk “pindah ke tempat yang baru”. Di benak saya dulu, saya tidak sempat berpikir keenakan apa yang saya cari di Bali.

Hal ini membuat saya berpikir, keenakan apa yang mereka cari di Bali? Semakin hari, semakin banyak kenalan saya yang pindah dari pulau Jawa ke Bali. Lama-lama, rasanya seperti satu komplek perumahan pindah bareng-bareng. Semakin membuat saya bertanya-tanya, apa yang mereka cari?

Butuh penelitian yang mendalam dari sekedar observasi, agar saya tidak sampai pada kesimpulan yang salah dalam merespon beragam fenomena yang sedang marak terjadi di Bali: kemacetan, sampah, kriminalitas, dan hutan beton. Namun, tulisan ini membantu saya untuk sedikit mengurai benang kusut atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Penting untuk tidak dilupakan bahwa citra island paradise Bali memiliki masa lalu yang kelam. Bahwa “keindahan” budaya di pulau Bali dan “harmoni” masyarakatnya yang hidup secara tradisional merupakan citra yang dibangun oleh penjajah untuk menghapus jejak darah dari tragedi Puputan Badung dan Puputan Klungkung. Bukannya masyarakat hidup damai dan berkarya dengan budayanya secara natural begitu saja, tetapi memang saat itu melayani penjajah yang mewajibkan masyarakat untuk menjalankan gaya hidup tradisional dan dijauhi dari modernisasi melalui kebijakan Baliseering.

Setelah merdeka, sudah bebaskan Bali dari belenggu “melayani” orang asing dan memiliki agensi untuk “melayani” diri sendiri?

Menurut saya, belum. Pada masa orde baru Bali kembali dijual kepada investor asing. Per hari ini, bisnis-bisnis besar yang beroperasi di Bali sebagian besar milik asing. Setidaknya, dari hasil observasi saya, sebagian besar anak muda yang datang dari luar dan tinggal di Bali pada akhirnya bekerja di bisnis milik orang asing, menikmati hiburan malam yang sebenarnya juga tidak kekurangan di kota asal mereka, nongkrong dan makan di kafe yang telah menggusur penghidupan petani lokal – lebih parah lagi, sawah, kebun, dan pesisir pantai pada hakikatnya adalah sumber pangan kita, bukan sekedar view untuk dinikmati sendiri.

Apakah pertanyaan tentang “darimana sumber makanan ini?” tidak muncul saat menyeruput kopi dan menyuap nasi sembari melihat sawah dan pak tani? Belum lagi, komplain tentang kemacetan Bali yang diutarakan ketika diri sendiri sedang mengendarai motor daripada jalan kaki.

Lantas, hubungan apa yang dimiliki antara penduduk lokal dan perantau? Adakah keseimbangan “menerima dan memberi” dalam dinamika hubungan ini? Bagi saya, situasi sekarang masih jauh dari mencapai keseimbangan ini. Padahal, usaha masyarakat Bali sama sekali tidak kurang dalam mempertahankan agensi-nya untuk melayani diri mereka sendiri daripada melayani orang asing.

Ada banyak usaha lokal dari petani muda, pentas seni tradisional dan kontemporer, kafe kecil, toko kelontong, hingga pasar tradisional. Setidaknya, merubah gaya hidup kita sebagai perantau bisa sangat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat lokal, daripada terus merenggut apa yang jadi milik mereka dan melanjutkan legasi kolonialisme. Saya rasa ini sangat penting, karena ini adalah bagian dari moral terhadap manusia dan alam, dan terhadap lingkungan dimana kita “menumpang” hidup, di mana pun itu.

kampungbet
Tags: bali macetperubahan bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Vanessa Harsamto

Vanessa Harsamto

Vanessa adalah seorang penulis untuk lembaga riset dengan fokus isu sosial, pendidikan, dan lingkungan. Memiliki latar belakang seni dan budaya, minat khusus Vanessa adalah pada peran seni dan budaya untuk kesejahteraan sosial.

Related Posts

Mungkinkah Kawasan Rendah Emisi di Bali?

Belum Ada Kebijakan Serius Mengatasi Kemacetan

26 November 2024
Bali Bicara Macet! Mencari Solusi dari Diri Sendiri

Bali Bicara Macet! Mencari Solusi dari Diri Sendiri

7 March 2024

Homogenisasi, Dilusi, dan Disorganisasi

31 October 2023
Mencari Capung Terakhir

Berdamai dengan Perubahan di Bali

30 October 2023
Next Post
Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Hibah itu Dana Publik, Digunakan sebagai Modal Pilgub?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

Benteng Terakhir Ruang Terbuka Hijau Kota adalah Kuburan

11 March 2026
Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

Hapera Bali Buka Posko Pengaduan Tunjangan Hari Raya

10 March 2026
Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

Rekomendasi Wisata Kano di Mangrove Tepi Kota Denpasar

8 March 2026

Dinamika Nyepi di Bali: Imbas Tawur hingga Kesepakatan Nasional

8 March 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia