• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, May 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Galeri Foto

Eksplorasi Foto Gung Ama

Gusti Ayu Made Widiadnyani by Gusti Ayu Made Widiadnyani
15 August 2025
in Foto, Kabar Baru, Sosok
0
0

Berani tampil beda, Gung Ama memilih untuk sedikit melambat di saat semua semakin cepat dalam fotografi. I Gusti Agung Wijaya Utama atau yang akrab disapa Gung Ama mengusung konsep foto yang unik dan memikat dengan melahirkan gaya yang menelusuri masa Bali pra-modern.

Gung Ama memulai perjalanan fotografinya pada tahun 2006 bersamaan dengan kuliahnya di jurusan fotografi ISI Denpasar. Sebagai langkah awal Gung Ama menekuni fotografi jurnalistik. Tahun pembentukan dirinya melibatkan fotografi digital, namun pada tahun 2011 dia merasa bosan dengan medium tersebut. Gung Ama sempat berhenti memotret karena merasa tidak punya ciri khas. Dikutip dari Cybertokoh, Gung Ama menuturkan bahwa ia memiliki cita-cita memotret di daerah peperangan. Untuk menunjang kiprahnya di fotografi jurnalistik, Gung Ama bergabung dengan media Magic Wave kemudian dengan media Magic Ink1.

Pada tahun 2014, Gung Ama terinspirasi untuk merekonstruksi foto-foto raja Bali yang diambil dalam kesederhanaan tahun 1930-an. Kemudian Gung Ama menggagas “Gama Photo 1930” pada tahun 2016.

Terinspirasi dari dokumen karya photography era tahun 1930-an yang sarat akan moment kehidupan sosio-kultural tanpa settingan, akhirnya tercetuslah konsep dasar Rekonstruksi Projek Bali 1930. Rekonstruksi Projek Bali 1930 adalah sebuah proyek fotografi yang bertujuan untuk menghidupkan kembali suasana Bali pada tahun 1930-an melalui foto-foto bernuansa klasik dan vintage.

Dikutip dari Tribun News, Gung Ama mengungkapkan, ia memilih tahun 1930-an karena di situlah masa transisi dari masyarakat agraris ke masyarakat yang mulai mengenal industri pariwisata. Orang Bali mulai berkesenian untuk ditampilkan dan mulai dikenal orang-orang luar. Gung Ama mengungkapkan ingin mengetahui bagaimana fashion orang-orang Bali pada masa itu2. Ia mengatakan hal tersebut bukan berarti kembali pada masa kelamnya, tetapi berbicara mengenai fashionnya.

Rekonstruksi Projek Bali 1930 ini memberikan kesan nostalgia yang kuat karena karya-karya fotografinya diambil dengan menggunakan pakaian dan tata rias tradisional Bali dari abad ke-20an. Pemilihan bangunan klasik sebagai background dalam foto juga menginspirasi nostalgia Bali kolonial. Gambar tersebut menyentuh kerinduan akan era sebelum globalisasi dan modernitas. Citra yang dihasilkan sedikit buram atau pudar, menciptakan kesan arsip dan kenangan akan masa lalu. Melalui gaya foto klasik dengan tone warna grayscale dan vintage, Gung Ama mengajak model foto dan penikmat karyanya untuk menjelajah dalam mesin waktu, kembali pada suasana Bali pada awal abad ke-20.

Rekonstruksi Projek Bali 1930 menghantarkan Gung Ama kepada tagline “mekenyem sube biasa”. Sebuah ekspresi visual yang menghadirkan foto close up dengan menampilkan wajah datar tanpa ekspresi yang dilengkapi dengan tata rias dan mode Bali dari abad ke-20 yang memperkuat nuansa klasik era 1930-an. Dikutip dari postingan instagram Gama Photo 1930 “mekenyem sube biasa” adalah sebuah kalimat sederhana yang terdiri dari tiga suku kata yang berarti tersenyum sudah biasa sekali3. Tersenyum adalah pose yang lazim kita gunakan dalam berfoto. Tagline “mekenyem sube biasa” seolah menjadi bentuk perlawanan terhadap pose tersenyum yang terkadang dipaksakan di era modern ini.

Pada kesempatan lain, Gung Ama juga menyandingkan karakter-karakter Bali kuno dengan latar kontemporer yang mengungkapkan eskpresi keterkejutan emosional. Konsep kuno kini ini memiliki tujuan untuk mempengaruhi semua generasi masyarakat Bali agar mereka secara kolektif dapat merespon dan membentuk konsep mental, fisik dan spiritual Bali di masa depan. Dengan menggabungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan menjadi satu gambar yang memikat, Gung Ama berupaya memengaruhi kemungkinan dan hasil yang esensial.

Karya kuno kini hadir dengan menggabungkan elemen klasik dengan elemen modern. Hal ini dapat dilihat dari beberapa karya Gung Ama, tampak seorang wanita dengan busana adat Bali membawa banten atau persembahan yang digunakan dalam upacara keagamaan dengan mengendarai sepeda motor. Dalam karyanya yang lain terlihat seorang pria dengan pakaian adat Bali berfoto dengan membawa tabung gas. Dimana karya tersebut memadukan elemen klasik dan elemen modern yang dikenal dengan konsep kuno kini.

Pada tahun 2019 Gung Ama mulai tertarik dengan Afghan Box Camera. Sebuah medium kamera kotak kayu yang populer digunakan sebagai kamera instan dengan nama “Kamraa-e-faoree” alias kamera instan di Afghanistan sekitar tahun 1920-an. Ia membuat kamera pertamanya dua tahun kemudian dan sejak itu berkembang dengan dua gaya fotografi yang berbeda. Ia tertarik dengan teknologi masa lampau ini karena ia dapat bersentuhan langsung dengan fisiknya.

Dalam kotak kedap sinar tersebut, lensa memproyeksikan imaji langsung ke lembaran kertas ber-emulsi dalam hitungan detik. Proses yang tidak semudah membaca dan mengatur light meter pada kamera modern, melainkan membutuhkan akurasi penghitungan intensitas cahaya yang tepat dan waktu pencahayaan yang tepat pula untuk menghindari under exposure ataupun over exposure. Kamera Kotak Afghan memberinya kendali penuh dalam setiap tahap penciptaan gambar.

Puncak dari penjelajahann teknisnya diwujudkan dalam “Solo Photography Exhibition” yang bertajuk Swa’Raga, digelar di Tempo Dulu Kopi, Kesiman Petilan, Denpasar Timur, Denpasar, Bali pada tanggal 15-17 Oktober 2021 yang dikuratori oleh Bayu Pramana. Swa’Raga menampilkan serangkaian karya foto Gung Ama dengan ekperimen kamera kotak kayu atau Afghan Box Camera, mulai dari karya Rekonstruksi Bali 1930 hingga mekenyem sube biasa. Pada pameran ini karya foto yang ditampilkan beragam mulai dari mencetak media foto ke beberapa material alternatif seperti kayu, batu, dan logam.

Swa’Raga adalah sebuah perjalanan penemuan ideologi jati diri fotografer dengan passion, totalitas, dan komitmen tanpa batas serta kebebasan berpikir. Swa’Raga secara konsisten mengakumulasi proses pencapaian fotografi alternatif karya Gung Ama, ditengah badai teknologi fotografi digital yang setiap hari menawarkan kemudahan dengan fitur baru, rasanya seniman fotografi semakin kehilangan identitas, jati diri, dan pencapaian dalam berkarya.

Tidak ada lagi sentuhan “emosional” dalam proses berkarya fotografi yang sekiranya dapat dilakukan fotografer masa kini dalam dunia digital. Karya-karya Gung Ama menjadi refleksi atas hilangnya identitas dan proses kreatif yang otentik. Di saat seluruh pencapaian kini seolah telah dituntaskan oleh mesin bernama kamera digital beserta piranti pengolahnya. Gung Ama menghadirkan kembali emosi, sentuhan tangan, dan keintiman proses berkarya yang perlahan menghilang dari dunia fotografi saat ini. Dikutip dari Tribun News Gung Ama mengutarakan bahwa Swa’Raga secara konsisten mengakumulasi proses pencapaian karya fotografi Gung Ama. Ditengah badai teknologi fotografi digital yang setiap hari menawarkan kemudahan fitur baru, seniman fotografi makin kehilangan identitas, jati diri, dan pencapaian berkarya4.

Karya terbaru dari Gung Ama bertajuk “Walu Nata” yang dipublikasikan pada tahun 2024 lalu. Karya ini mengemas ulang sosok Walu Nata, seorang perempuan mitos yang kisahnya melegenda dalam pertunjukkan Calonarang, sebuah tarian tradisional Bali. Di sini Gung Ama berusaha menata ulang Calonarang dengan menghadirkan Walu Nata sebagai seorang Ibu yang melindungi putrinya, Ratna Manggali.

Melalui kamera ciptaannya, Gung Ama menghadirkan gambaran penebusan kekuatan perempuan dan cinta keibuan yang terinspirasi dari karya mendiang Cok Sawitri tentang pertahanan Walu Nata atas kantongnya yang terancam punah. Pada salah satu babak pertunjukkan tersebut, Gung Ama menggambarkan Walu Nata dengan lembut menggendong topeng Rangda, di mana Walu Nata seolah tengah mendekap dirinya yang memilukan dan disalahpahami. Muncul dari tebalnya kabut sejarah, Walu Nata mempertanyakan warisan kanonik ketika berbicara tentang perempuan. Seperti yang diungkapkan Cok Sawitri, “dia dicemooh, diasingkan, diserang, dan dihancurkan.

Gama Gallery, yang terletak di Sudut Tegaltemu Space, sebuah ruang kreatif di Banjar Tegaltamu, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, didirikan oleh Gung Ama sebagai showcase untuk karya-karya Gama Photo 1930 dan Afghan Box Camera miliknya. Didalam gallery ini terdapat banyak karya yang dipamerkan, mulai dari Rekonstruksi Bali 1930 hingga karya-karya kontemporer yang menampilkan keindahan kuno kini. Pada dinding Gama Gallery, karya tersebut dipajang dengan kutipan-kutipan yang mendukung, seperti “Buat Apa Berbicara Rasa di Kota Yang Tanpa Rasa,”

“Ini Bukan Romantisme!!! Ini Tentang Kebebasan Yang Mati Oleh Cinta!!!”

“Logicalmystic Vs Scientist,”

“Damai dengan Asing yang Terasingkan,” dan beberapa kutipan lain yang menambah kesan mendalam bagi pengunjung. Saat ini Gung Ama juga bereksperimen dengan kolase, di mana Gung Ama memadukan elemen fotografi dan kemasan daur ulang yang memvisualisasikan makna yang ingin disampaikan oleh si pembuat karya.

Karya dari Gama Photo 1930 yang kita lihat sekarang adalah sebuah perjalanan panjang yang melewati banyak proses dan eksplorasi dari Gung Ama. Gung Ama menghidupkan kembali teknik fotografi tradisional untuk merekam dan merefleksikan identitas budaya Bali. Melalui proses yang perlahan, karyanya mengajak kita untuk berhenti sejenak, mengingat, dan meresapi akar budaya kita. Membangkitkan kembali nuansa Bali era 1930-an, periode awal pariwisata kolonial melalui fotografi. Gambar yang dihasilkan cenderung sedikit buram dan warnanya agak pudar, namun hal tersebut justru menciptakan kerinduan kenangan akan masa lalu.

Note:

  1. https://www.cybertokoh.com/news/105411541457/fotografi-lawas-yang-bikin-puas
  2. https://www.instagram.com/p/BjLkB__DnjB/?igsh=MXJrajBmOHQ3ODAwbg==
  3. https://bali.tribunnews.com/2018/03/26/hadirkan-nostalgia-bali-di-tahun-1930-an-gama-foto-tampilkan-karya-fotografi-di-festival-barong
  4. https://bali.tribunnews.com/2021/10/15/idealisme-gung-ama-dalam-swaraga-selami-bali-tempo-dulu-menginspirasi-banyak-fotografer-di-bali?page=3
  5. https://www.instagram.com/p/C9wxyluyvEo/?igsh=cXo0d3BweGw1Zno4
palembangpafi sangkarbet sangkarbet bandungpafi sangkarbet sangkarbet
Tags: afgan box cameragung amategal temu space
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Gusti Ayu Made Widiadnyani

Gusti Ayu Made Widiadnyani

Related Posts

Kolaborasi Alam dan Ruang di Tegal Temu Space

Kolaborasi Alam dan Ruang di Tegal Temu Space

29 August 2025
Tegaltemu Space, Ruang Kreatif di Desa Batubulan

Tegaltemu Space, Ruang Kreatif di Desa Batubulan

14 February 2025
Next Post
Kring… Kring… Ada Starling

Kring… Kring… Ada Starling

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

Sekolah untuk Siapa? Ilusi Meritokrasi dalam Pendidikan Indonesia

14 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia