• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, May 30, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Eksploitasi Anak di Pusat Turis Bali

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
10 March 2010
in Kabar Baru
0
0

Teks dan Foto Ilustrasi Luh De Suriyani

Wajah Kuta pada Sabtu malam (6/3) seperti biasa adalah jalanan yang macet, terutama Legian dan Seminyak serta hilir mudik wisatawan di pedestrian yang padat. Dan hampir setahun ini, bertambah dengan kelompok-kelompok kecil anak-anak yang dipekerjakan malam hingga dini hari di beberapa ruas jalan kawasan Kuta, etalase Bali ini.

Di sepanjang Jalan Raya Pantai Kuta saja, sedikitnya terlihat delapan bocah laki-laki dan perempuan berusia 2-12 tahun. Mereka menawarkan gelang yang dibuat dari jalinan potongan kulit imitasi. Pada wisatwan domestik, gelang ditawarkan paling murah Rp 2000 per buah, sementara pada turis asing Rp 5000.

Di jalan depan Pantai Kuta ini, ada kelompok Ni Ketut Santi (nama samaran) dan ketiga anaknya yang berusia di bawah 12 tahun, serta bayi berusia 7,5 bulan dalam perutnya. Bahkan si bungsu, bocah laki-laki 2 tahun yang dipanggil Komang sudah bisa memaksa orang-orang untuk membeli gelang-gelang yang dibuat Santi ini.

Santi hanya duduk di bawah rimbun pohon mengawasi dua anaknya yang agresif menawarkan gelang pada turis yang lalu lalang. Bocah-bocah penjual gelang ini memang khusus berjualan sore hingga malam hari di Kuta. “Lumayan bisa bawa uang Rp 15-25 ribu pulang,” ujar Santi.

Santi mengaku berasal dari Pedahan, Karangasem. Delapan bocah ini tidak bisa membaca dan menulis. “Rata-rata sekolah sampai SD kelas 1. Tidak kuat sekolah, lebih baik kerja di jalanan saja, jelas dapat uangnya,” katanya lagi.

Ia tak ingat lagi, sudah berapa kali ditangkap Satpol PP atau hansip kelurahan Kuta karena cukup sering. Demikian juga anak-anaknya. “Ditangkap, dikembalikan ke Karangasem, kami datang lagi,” katanya.

Santi mengatakan, puluhan anak-anak lainnya di Kuta yang tak datang bersama orang tuanya, punya bos yang akan menerima bagian hasil penjualan gelang. Santi menyebutnya penampung, karena si bos memberikan tempat tinggal dan mengantar ke Kuta.

Sangat mudah menemukan tubuh-tubuh mungil lainnya di tengah ribuan manusia dewasa di Kuta. Mengikuti arah jalan dari Jalan Pantai Kuta, lalu belok ke Jalan Melasti Legian, terlihat satu kelompok bocah lagi. Kali ini didominasi bocah perempuan, juga dengan ikatan gelang-gelang kulit di genggaman mereka.

Tak sedikit wisatawan yang memperhatikan bocah-bocah ini dengan tatapan heran. Mereka terlihat menyerbu sebuah bar ramai. Jika terlihat satu turis memberikan uang pada satu bocah, maka bocah-bocah lainnya akan datang mengerumuni si turis.

“Saya harus pulang bawa uang. Setelah menjual gelang sampai jam 10 malam, saya bekerja di tempat massage,” ujar salah seorang bocah perempuan yang terlihat paling modis. Kulitnya putih, wajah cantiknya berkilat karena kosmetik, rambutnya agak pirang di bagian ujung. Ia berbahasa Inggris paling lancar di antara yang lain, ketika menawarkan gelang. Usianya sekitar 12 tahun. Ia dan sepupunya bekerja di salon massage untuk mendapatkan lebih banyak uang.

Kelompok bocah-bocah sekitar 10 orang di kawasan Jalan Melasti Legian ini juga tak bisa baca tulis.

I Nyoman Darga, salah seorang tulang ojek di kawasan Jalan Pantai Kuta menjadi saksi eksploitasi anak-anak ini. Ia kerap diminta mengantar ke tempat tinggal sementara di kawasan Tegal, Monang-Maning, Denpasar Barat.

“Saya kasihan. Entah berapa kali ditangkap petugas keamanan kelurahan tapi tak bisa menghentikan mereka,” ujarnya. Ia hanya bersimpati tapi tak bisa melakukan apapun. Pedagang lain di sekitar Kuta juga menurutnya cuek, dan menganggap biasa jika ada kelompok pengemis dan anak-anak jalanan dari Karangasem.

“Orang-orang tuanya pemalas,” ujar Darga lagi. Tak hanya di kawasan Kuta, orang-orang dewasa, biasanya ibu bersama bayi dan anak-anaknya dari beberapa desa miskin di Karangasem juga banyak di Denpasar. Misalnya dari Munti Gunung.

“Dari laporan salah seorang observer anak-anak ini di Kuta, selain mendapat kekerasan fisik dan mental dari penampungnya, beberapa bocah juga rentan mendapat kekerasan seksual,” ujar Asana Viebeke Lengkong, pendiri Iam An Angel, sebuah organisasi donor yang melakukan pengamatan soal anak-anak ini. Ia menyebut ada indikasi yang kuat dari ancaman pelaku pedofilia.

“One is too many. Satu anak saja yang dieksploitasi itu sudah sangat banyak bagi Bali. Ini wajah anak-anak Bali,” tambah Viebeke yang mengididentifikasi ini sebagai bentuk perbudakan anak. Ia berharap pemerintah mulai menangkap satu saja pelaku eksploitasi anak ini untuk menyelamatkan lebih banyak anak-anak.

Laporan kasus anak-anak di Kuta ini pun sudah sampai di tangan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Bali. “Kami mendesak aparat mengimplentasikan Perda tentang Perdagangan Anak dan UU Perlindungan Anak untuk menangkap pelakunya,” ujar Luh Putu Anggreni, pengurus KPAID Bali. [b]

Tags: Anak-anakBaliKutaSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

Merestorasi Mindset Ekologis di Bali: Belajar Dari Geguritan Selampah Laku Karya Ida Pedanda Made Sidemen

26 May 2026
Rekapitulasi Dampak Banjir 24 Februari 2026 di 76 Titik Kejadian

Kota Denpasar Memiliki Banyak Air Hujan tapi Kehilangan Kemampuan Menyimpan

21 May 2026
Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

Danau Yeh Malet: Jejak Gunungapi Maar Purba di Karangasem

18 May 2026
Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

Sakit Hati dan Getir Setelah Pesta Babi

17 May 2026
Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

Membaca di Ruang Publik jadi Aktivitas Sosial

15 May 2026
Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

Mengadopsi AI untuk Membangun Peringatan Dini Bencana

9 May 2026
Next Post

E-Procurement untuk Memudahkan Pengadaan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

matan AI

Penghancuran Kemandirian Desa-desa di Bali

29 May 2026
Melali Cokelat dan Sastra di Bali Barat

Bali Hari Ini: Mana Desa, Mana Kota?

29 May 2026
Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

Peristiwa 1965, Akar Tri Hita Bencana

28 May 2026

Mall Baru akan Bermunculan, Warga Bali Khawatir Ruang Hidup Kian Sesak

27 May 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia