• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, November 3, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

Sri Junantari by Sri Junantari
3 November 2026
in Berita Utama, Kabar Baru, Pertanian
0
0

Oleh: Ni Luh Sri Junantari

Tanah kecokelatan yang tandus dan udara yang kering langsung menyergap saya begitu menginjakkan kaki di Desa Wanagiri setelah perjalanan tiga jam dari Sanur pada Jumat, 16 Oktober 2026. Di area parkir Wanagiri, mata saya langsung tertuju pada buah salju yang menjuntai. Ketika menuju titik kumpul, saya melihat hamparan bunga hydrangea lokal atau yang kita kenal sebagai bunga pacah seribu terbentang indah di depan mata.

Di titik kumpul, Bayu Anggita Wirabumi, Waste Management Officer dari su-re.co, mengawali perkenalan dengan Desa Wanagiri. Ia bercerita bahwa desa ini dulunya merupakan perkebunan monokultur bunga pacah seribu. 

Dilansir dari website Pemerintah Desa Wanagiri, luas wilayah Desa Wanagiri mencapai 15.75km persegi dengan rata-rata ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut. Karakteristik Desa Wanagiri berupa bukit dengan tanah kering atau tegalan. Tanaman bunga pacah seribu sebenarnya kurang cocok dengan tipologi Desa Wanagiri. Tanaman bunga pacah seribu membutuhkan tanah yang lembab dan cahaya yang tidak langsung. 

Pada 2010, O’Meara, dkk. dalam jurnal American Society for Horticultural Science dengan judul artikel Modeling Daily Use of Hydrangea macrophylla and Gardenia jasminoides as Affected by Environmental Conditions, menghasilkan kesimpulan bahwa untuk setiap tanaman Hydrangea macrophylla (jenis yang sama yang disebut bunga pacah seribu) membutuhkan air sekitar 50-300 mL per hari. 

Menurut penuturan Bayu, warga Desa Wanagiri sudah lama menyadari persoalan kebutuhan air bunga pacah seribu. Mereka merasakan debit air mengecil ketika perkebunan bunga sedang masif-masifnya dikembangkan.

Setelah briefing singkat, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan Desa Wanagiri. Sepanjang perjalanan, hamparan bunga pacah seribu masih terlihat. Perasaan bersalah terus menggelayut dalam pikiran saya. Saya mencoba mengingat kapan bunga pacah seribu mulai begitu masif menghiasi canang di rumah.

Bhagavad Gita Bab 9 Sloka 26 menyatakan:
“Siapa pun yang dengan sujud dan penuh bhakti mempersembahkan kepada-Ku daun (patram), bunga (puspam), buah (phalam), atau air (tayam). Aku akan menerima persembahan yang didasari oleh ketulusan hati tersebut.
Dalam pikiran saya berkecamuk pertanyaan, mungkinkah ada ketulusan hati ketika kita menghaturkan bunga yang keberlangsungannya justru dikhawatirkan mengancam ketersediaan air dan kondisi tanah di desa lain?”

Desa Wanagiri merupakan sumber air bagi tujuh desa lain di kawasan Buleleng Tengah, yaitu Panji Anom, Tegallinggah, Ambengan, Gitgit, Sambangan, Panji, dan Selat. Menjaga sumber air bukan hanya tentang mempertahankan kawasan hutan, tetapi juga menentukan bagaimana lahan di dalamnya dimanfaatkan.

I Gede Widiada, sekretaris Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Wanagiri sekaligus sekretaris Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Eka Giri Karya Utama, menceritakan upaya warga menjaga sumber air.

“Kami menanam beringin, bambu, dan aren. Aren ini perakarannya dalam, ditanam di sepanjang aliran sungai. Di sumber air, kami menanam beringin. Di kawasan yang tidak dapat dimanfaatkan untuk pertanian dan pariwisata, kami menanam tanaman penjaga tanah untuk keberlangsungan sumber air,” cerita Widiada.

Meskipun Desa Wanagiri terus berupaya melakukan konservasi air. Namun, menurut penuturan Putu Eka Satya Yudha yang tinggal di Desa Panji, air di wilayah rumahnya sering mati. Menurut Eka, pada hari biasa, sekitar pukul 7 hingga 10 pagi dan sore pukul 4 hingga pukul 10 malam. Kondisi ini telah berlangsung jauh sebelum 2020 dan terjadi hingga hari ini.

“Kalau weekend (terutama Minggu), bahkan bisa mati seharian. Airnya ngalir cuma sejam/dua jam antara jam 1 siang atau jam 2 siang gitu, kemudian ngalir lagi sekitar jam 12 malam,” cerita Eka soal kondisi air di desanya via pesan singkat.

Penuturan yang sama juga datang dari Luh Eka Eliani. Perempuan yang tinggal di Desa Selat ini menceritakan jika air di wilayahnya menyala pada waktu tertentu. Pada sore hari air menyala hingga pukul 4-6 sore. Pagi hari air mengalir pukul 6 hingga 7 pagi. Hal ini menyebabkan ia tidak bisa mencuci pakaian. Menurut Eka, beberapa bulan yang lalu penyaluran air sempat lancar. Namun, kini kembali tersendat.

“Di bak penyimpanan air di desa habis, katanya dari atas gak ada air,” cerita Eka soal kendala air yang menimpanya via pesan singkat.

Menurut Widiada, hutan Wanagiri dulunya merupakan hutan lindung milik negara. Pada tahun 2000, dilakukan penanaman gamelina dan mahoni secara besar-besaran. Pada tahun 2010, pengelolaannya beralih kepada desa pakraman. Lima tahun kemudian, setelah memperoleh surat keputusan perhutanan sosial, warga mulai mengembangkan kopi sebagai tanaman konservasi bukan kayu.

“Mulanya tanaman kopi tumbuh liar di sekitar hutan, dibawa oleh luwak atau kelelawar. Ketika coba ditawarkan kepada buyer, kopi kami diapresiasi karena berasal dari hutan. Melihat peluang itu, kami memberikan bibit kopi arabika kepada petani,” kata Widiada.

Kini, LPHD Wanagiri mengelola 250 hektare hutan. Sekitar 100 hingga 150 hektare di antaranya ditanami kopi yang dikelola oleh kelompok tani. Pengelolaan kelompok tani mencakup kegiatan di hutan hingga pariwisata.

“Kita hanya memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam kopi. Kita tidak membuka lahan untuk penanaman kopi,” tegas Widiada.

Warga tidak hanya mengganti tanaman, tetapi juga mengembangkan kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan kebun dan hutan. Selain dari pariwisata, masyarakat beternak kambing. Kotorannya dimanfaatkan sebagai campuran media tanam kopi. Dalam kegiatan Jelajah Inovasi Iklim Agroforestri Kopi di Wanagiri, kami juga diajak menyiapkan media tanam dan mencoba menanam bibit kopi.

Petani Wanagiri mengembangkan kopi arabika yang dinilai sudah adaptif dengan kondisi hutan setempat. Mereka juga mencoba varietas liberika yang disebut lebih tahan terhadap perubahan iklim untuk dijadikan dasar penyambungan dengan arabika. Selain itu, mereka menguji bibit arabika AS2K yang diberikan oleh su-re.co.

“Kita coba penggantian varietas. Kita berfokus ke tanaman kopi yang produktivitasnya bagus selain yang memang sudah adaptif di Wanagiri,” ujar Widiada.

Meski tumbuh baik dan memiliki produktivitas tinggi, arabika AS2K dinilai pembeli kurang berkarakter. Menurut Widiada, karakter kopi memang dapat dibentuk melalui pengolahan pascapanen, misalnya dengan penambahan yeast atau fermentasi alami dengan teknik anaerob. Namun belum dilakukan untuk varietas AS2K, karena baru mulai berbuah tahun ini.

Sementara itu, petani perlahan mulai mengurangi penanaman bunga pacah seribu. Meski, saya masih melihat banyak hamparan tanaman ini di dalam hutan di antara tanaman kopi. Widiada menjelaskan bahwa penanamannya dilarang di kawasan hutan karena membutuhkan pengairan intensif.

“Sebenarnya pohon pacah seribu dilarang di dalam hutan karena memerlukan pengairan yang intensif sehingga boros air,” tambahnya.

Pengalaman warga sendiri memperlihatkan alasan di balik perubahan itu. Gede Bang Ariawan, 34 tahun, pernah bekerja di sektor pariwisata di Hotel Ramanda Kuta. Sekitar 14 tahun lalu, setelah berkeluarga, ia kembali ke Wanagiri untuk memenuhi kewajiban suka duka di banjar. Ketika kopi belum berbuah, ia bekerja sebagai buruh bangunan. Ia juga membantu mengolah hasil panen kopi di gudang Bumdes.

“Ke kebun ini seling-selingan. Pulang kerja baru ke kebun untuk memelihara kopi,” cerita Gede.

Baginya, menanam kopi di antara pepohonan membantu menjaga sumber air. Ia sendiri berhenti menanam bunga pacah seribu setelah beralih ke kopi.

“Dulunya pas menanam bunga pacah seribu, air jadi kecil,” ujarnya.

Perubahan tersebut bukan sekadar mengganti komoditas pertanian. Warga berupaya mempertahankan penghidupan dari lahan yang ada tanpa membuka lahan baru, sekaligus menjaga sumber air yang dibutuhkan desa-desa di sekitarnya. Penanaman bunga pacah seribu skala kecil masih dilakukan karena warga membutuhkan penghasilan rutin jangka pendek.

Menurut Widiada, produktivitas pertanian Wanagiri menurun sejak 2020. Ia mengaitkannya dengan perubahan cuaca yang mulai terasa sejak 2018.

Ia bercerita bahwa berdasarkan kalender Bali, periode tertentu seharusnya merupakan sasih kemarau. Namun, pada 2024 hingga 2025, hujan justru turun pada periode tersebut. Padahal, bunga kopi yang mekar membutuhkan sinar matahari. Hujan dapat membuat bunga membusuk dan berujung pada gagal panen.

“Bunga kopi yang bermekaran seharusnya mendapat sinar matahari, ketika terkena hujan menjadi membusuk,” kenangnya.

Bumdes Eka Giri Karya Utama terus berupaya mengolah hasil panen dan meningkatkan nilai jual kopi. Mereka membeli kopi dari petani dengan selisih seribu hingga dua ribu lebih mahal dari harga pasaran dengan memastikan kopi ceri hanya dipetik yang sudah berwarna merah. Namun, produktivitas yang menurun, serangan hama, dan regenerasi petani masih menjadi tantangan.

“Selain hama, kapasitas petani rata-rata di atas 40 tahun. Jarang generasi mudanya mau terjun sebagai petani, kalau pun ada tidak spesifik menjadi petani kopi,” cerita Widiada.

Bagi Lalu Jiwa, 25 tahun, yang mengikuti Jelajah Inovasi Iklim dan merupakan penikmat kopi, pengalaman belajar dari menyemai hingga memanen kopi mengubah caranya memandang secangkir kopi.

“Setelah belajar dari awal, menyemai sampai panen, berpengaruh ke bagaimana kita seharusnya menikmati kopi setiap harinya. Kayak kita harus lebih menghargai kopi yang sudah disediakan di atas meja, karena prosesnya panjang. Satu kali panen kan satu tahun. Benar-benar harus menghargai petani kopi,” ungkapnya.

Tantangan lain ada pada pengolahan pascapanen. Bumdes masih bergantung pada listrik dari PLN. Menurut Widiada, penggunaan panel surya belum memungkinkan secara optimal karena cuaca di Wanagiri kerap mendung dan hujan sejak sekitar pukul 11 siang. Pemanfaatan energi air juga terkendala lokasi yang jauh dari sumber air. Meski begitu, kelompok tani Wana Merta telah menggunakan panel surya untuk menggerakkan kipas di rumah jemur.

“Nantinya ada rencana menggunakan energi alternatif minimal untuk penerangan. Namun, kelompok tani Wana Merta yang sudah menggunakan panel surya untuk kipas di rumah jemur,” kata Widiada.

Penggunaan energi terbarukan di Wanagiri masih menghadapi keterbatasan. Pengalaman kelompok tani Wana Merta menunjukkan bahwa panel surya sudah dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, sementara Bumdes masih merencanakan penggunaan energi alternatif untuk penerangan. Upaya mengurangi ketergantungan pada listrik PLN pun perlu menyesuaikan kondisi lokasi dan kebutuhan pengolahan kopi.

Dukungan bagi inisiatif warga datang dari su-re.co sejak 2023, setelah Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali menyarankan organisasi tersebut mendukung upaya warga Wanagiri yang telah mandiri berupaya menyelamatkan lahan kritis.

Ratu Ayu Allysia Luna Sita Manik Mas, Communication Officer su-re.co yang akrab disapa Luna, menjelaskan bahwa dukungan tersebut mencakup sekolah lapang iklim, pelatihan literasi finansial, bantuan ekspor kopi ke Jepang, dan biogas digester yang memanfaatkan kotoran kambing untuk menghasilkan gas untuk memasak.

“Kami memberikan pelatihan sekolah lapang iklim bagi petani. Selain itu, kami juga mengadakan pelatihan literasi finansial agar petani bisa mengelola keuangan untuk kebun, kebutuhan sehari-hari, hingga kebutuhan upacara. Kami juga bantu ekspor kopi Wanagiri ke Jepang. Kami juga memberikan bantuan berupa biogas digester yang memanfaatkan kotoran kambing untuk menjadi gas untuk memasak,” cerita Luna.

Pelatihan dan bantuan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan hutan tidak hanya berkaitan dengan penanaman pohon. Petani juga perlu mengelola keuangan, mengembangkan usaha, dan mencari cara memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pemanfaatan kotoran kambing untuk biogas, misalnya, menghubungkan kegiatan peternakan dengan kebutuhan energi rumah tangga. Sementara itu, dukungan pemasaran membuka peluang bagi kopi Wanagiri untuk menjangkau konsumen di luar desa.

Dalam kegiatan ini, saya hanya bertemu dengan petani laki-laki. Tiga penjaga stan informasi di depan air terjun yang saya temui juga laki-laki. Namun, menurut Luna, perempuan di Wanagiri terlibat dalam berbagai tahapan agroforestri.

“Perempuan turut terlibat dalam perawatan tanaman di lahan. Mereka ikut memanen dan memilah ukuran kopi,” tambahnya.

Di sepanjang jalan, saya menemukan pohon kaliandra berbaris memagari hutan. Kaliandra dikenal memiliki akar yang membantu menahan erosi, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan bunganya disukai lebah. Keberadaan lebah juga berkaitan dengan penyerbukan bunga kopi.

Menurut Widiada, petani kopi Wanagiri dahulu sangat bergantung pada lebah. Kini, jumlah peternak lebah berkurang dan warga lebih banyak mencari lebah liar. Lebah yang ditempatkan di sarang buatan pun biasanya pergi setelah sekitar dua kali panen.

“Cadangan makanan bagi lebah sedikit. Mungkin karena pengaruh mikroplastik,” tutur Widiada ketika menjelaskan dugaannya tentang berkurangnya lebah yang membantu penyerbukan kopi.

Ia juga bercerita bahwa Wanagiri dulunya hanya menjadi jalur perlintasan menuju Munduk. Setelah berkembang menjadi tujuan wisata, aktivitas manusia dan polusi turut menjadi perhatian. 

Penelitian oleh Sheng dkk yang diterbitkan di Jurnal Nature Communications pada 2024 dengan judul Plastic pollution in agricultural landscapes: an overlooked threat to pollination, biocontrol and food security, menyatakan bahwa lebah tidak bisa membedakan mikroplastik dengan sumber makanan di lingkungan. Penelitian ini juga melaporkan bahwa mikroplastik merusak kemampuan belajar dan kognisi lebah setelah terpapar mikroplastik. Selain itu, penelitian juga mencatat bahwa efek mikroplastik pada lebah yang terakumulasi dapat menurunkan populasi lebah.

Di tengah upaya menjaga hutan, penggunaan plastik juga masih ditemukan dalam kegiatan yang berkaitan dengan kopi. Bumdes Eka Giri Karya Utama menyimpan green beans dalam kemasan plastik berukuran 30 atau 50 kilogram. Sementara itu, kopi sangrai dikemas menggunakan aluminium foil dengan lapisan kertas di bagian luar.

“Plastik ketebalan 0.8 ini mencegah munculnya bercak-bercak putih pada kopi akibat lembab,” jelas Widiada.

Kemasan tersebut memiliki fungsi untuk melindungi mutu kopi. Karena itu, upaya mengurangi plastik tidak cukup hanya dengan mengganti bahan kemasan yang dianggap lebih ramah lingkungan. Pilihan pengganti juga perlu mempertimbangkan kemampuan melindungi kopi, kebutuhan penyimpanan, dan dampak lingkungan sepanjang siklus hidupnya.

Plastik umumnya dibuat dari bahan baku fosil, seperti minyak bumi dan gas alam. Ekstraksi bahan baku, produksi plastik, transportasi, hingga pengelolaan kemasan setelah digunakan dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca. Dengan demikian, upaya mengurangi emisi dari produksi kopi juga perlu memperhatikan bahan yang digunakan untuk mengemas dan mendistribusikan produk.

Di sisi lain, ketika tracking di hutan agroforestri, saya juga menemukan sampah plastik. Saat mencoba seduhan kopi Wanagiri, pihak Bumdes membagikan sendok plastik untuk mencicipi kopi. Dua pengamatan ini membuat saya melihat bahwa upaya menjaga hutan dan mengembangkan kopi masih berdampingan dengan penggunaan plastik dalam kegiatan sehari-hari. Sampah yang saya temukan tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan kegiatan Bumdes, tetapi tetap menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang terlihat di kawasan tersebut.

Kopi Wanagiri juga telah dipasarkan hingga Jepang. Perjalanan kopi dari kebun ke tangan konsumen melibatkan proses pengolahan, pengemasan, dan transportasi. Setiap tahapan memiliki kebutuhan energi dan materialnya sendiri. Saya tidak memiliki cukup informasi untuk menilai besarnya emisi dari rantai pasok tersebut. Namun, perjalanan ini memperlihatkan bahwa pengendalian emisi dari kopi tidak hanya berkaitan dengan apa yang dilakukan petani di hutan, tetapi juga dengan pilihan pengolahan, pemasok, pengangkut, dan konsumen.

Setibanya di rumah, saya bercerita kepada ibu tentang bunga pacah seribu di Wanagiri. Ibu belakangan memang tidak menggunakannya untuk canang kami. Namun, alasannya bukan perubahan iklim atau konservasi air.

“Bunganya kan memang lagi mahal. Kemarau begini, bunganya juga kecil-kecil,” kata ibu saya dalam bahasa Bali.

Ketika ibu saya berhenti menggunakan bunga pacah seribu karena harganya mahal, saya menyadari bahwa keputusan mengubah kebiasaan tidak selalu berangkat dari alasan yang sama. Di Wanagiri, warga berupaya mengubah pemanfaatan lahan untuk menjaga sumber air sekaligus mempertahankan penghidupan. Mereka juga menghadapi tantangan produktivitas, regenerasi petani, energi, dan penggunaan material dalam rantai produksi kopi.

Upaya tersebut belum menjawab semua persoalan. Namun, pengalaman Wanagiri memperlihatkan bahwa menjaga hutan tidak harus memisahkan kebutuhan lingkungan dari kebutuhan hidup masyarakat. Keduanya perlu diupayakan bersama, sambil terus mencari cara agar kopi yang tumbuh di bawah naungan hutan dapat memberi penghidupan bagi petani tanpa mengabaikan sumber daya yang menopangnya.

Tags: desa wanagirikopi di balipekan iklim balipertanian di bali
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Sri Junantari

Sri Junantari

Relawan merangkap guru matematika yang menulis untuk bercerita.

Related Posts

Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

3 November 2026
Dari Purwarupa Jadi Inovasi Rakitan Warga Serangan

Dari Purwarupa Jadi Inovasi Rakitan Warga Serangan

29 October 2026
Jelajah Inovasi 9 Solusi di Pekan Iklim Bali 2026

Jelajah Inovasi 9 Solusi di Pekan Iklim Bali 2026

25 October 2026
Skema Pemasangan PLTS untuk Pelaku Usaha Pariwisata

Skema Pemasangan PLTS untuk Pelaku Usaha Pariwisata

24 October 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

Jejak Pangan, Jejak Iklim. Apakah Benar Bali Surplus Beras?

3 October 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

Di Wanagiri, Merawat Kopi berarti Merawat Sumber Air

3 November 2026
Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

Energi Bersih dan Masa Depan Pekerja Lokal: Siapa yang Siap Berubah?

3 November 2026
Tren Kendaraan Listrik, Apakah Aman bagi Difabel Netra?

Tren Kendaraan Listrik, Apakah Aman bagi Difabel Netra?

3 November 2026
Aksi Kamisan di Denpasar

Upah Layak bagi Difabel Netra: Biaya Tambahan membuat Hidup makin Mahal

3 November 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia