
Dokumentasi pribadi – KKN Unud Desa Les 2025
Pantai Suwarnaryar di ujung Bali Utara, salah satu lanskap pesisir yang menjadi identitas Desa Les
Desa Les di Kecamatan Tejakula, Buleleng, sering digambarkan sebagai “hidden gem” di Bali Utara—sebuah desa pesisir yang menggabungkan konservasi alam, kearifan lokal, dan aktivitas pariwisata berkelanjutan. Desa Les berhasil meraih penghargaan Best Tourism Village dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menempatkannya di antara 50 desa wisata terbaik di seluruh Indonesia dan menunjukkan potensi ekowisata yang kuat sekaligus pengembangan komunitas yang bermakna.

Dokumentasi pribadi – KKN Unud Desa Les 2025
Sosialisasi “LesGo Komposter”, salah satu program edukasi pengelolaan sampah yang dilaksanakan bersama warga dan komunitas TPST Desa Les.
Memoar Ruang Belajar tentang Komunitas di Desa Les
Selama menjalani KKN di Desa Les, interaksi dengan berbagai lapisan masyarakat—mulai dari pengelola TPST, para perajin kompos dan karbon organik, petani garam, nelayan, hingga kelompok konservasi laut—menjadi pengalaman yang membentuk pemahaman baru tentang bagaimana komunitas bekerja dan bertumbuh. Percakapan rutin dengan staf dan pengurus desa, sapaan hangat dari ibu-ibu penjual nasi dan warga di pasar, serta antusiasme siswa-siswa SD dan SMP yang selalu ramah dan penuh rasa ingin tahu, meninggalkan kesan mendalam yang tidak mudah dilupakan.
Selama 40 hari berada di desa ini, keterlibatan sehari-hari dengan warga memperlihatkan bagaimana nilai tradisional—terutama identitas sebagai masyarakat Bali Aga—mewarnai relasi sosial, pola kerja komunal, dan cara mereka memaknai ruang hidup. Tradisi, ritual, dan praktik budaya tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga menjadi fondasi psikologis yang membentuk identitas komunitas. Di sinilah terlihat bahwa kebersamaan warga bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan mekanisme kolektif yang menjaga keseimbangan antara lingkungan, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
Alih-alih menjadi sekadar pengalaman luar, keterlibatan lapangan menjadikan Desa Les sebagai ruang belajar sosial yang hidup. Setiap kegiatan—dari diskusi ringan di bale banjar hingga kunjungan rutin ke TPST—menunjukkan bahwa keberlanjutan di desa ini bukan sekadar konsep teoretis, tetapi praktik kolektif yang tumbuh dari relasi, nilai lokal, dan rasa memiliki yang kuat. Narasi inilah yang memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak dibangun oleh satu program, melainkan oleh komunitas yang memahami akar budaya dan lingkungan mereka sendiri.
Eco-tourism yang Bertumbuh Bersama Komunitas
Les dikenal dengan ekowisata lautnya—transplantasi terumbu karang, snorkeling, dan konservasi pesisir—serta aktivitas berbasis budaya seperti produksi garam tradisional, gula lontar, dan berbagai UMKM lokal. Ekowisata di sini tidak berdiri sebagai paket wisata semata; ia muncul dari praktik hidup sehari-hari dan relasi warga dengan lingkungannya.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan eco-tourism yang menekankan keseimbangan ekologis, budaya, dan keterlibatan masyarakat. Namun, apa yang terlihat di Les menunjukkan bahwa keterlibatan tersebut bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis—sebuah dimensi yang jarang dibahas dalam narasi wisata berkelanjutan.
Psikologi Komunitas: Di Mana Eco-tourism Menjadi Pengalaman Sosial
Psikologi komunitas memberikan lensa penting untuk memahami mengapa beberapa desa wisata berkembang kuat dari dalam, sementara yang lain masih bertumpu pada intervensi eksternal. Konsep sense of community dari McMillan & Chavis (1986) menggambarkan empat elemen yang membentuk keterikatan warga:
- Membership, rasa menjadi bagian dari kelompok;
- Influence, kemampuan memberi pengaruh dalam keputusan;
- Fulfillment of needs, komunitas memenuhi kebutuhan anggotanya;
- Shared emotional connection, adanya sejarah, nilai, dan pengalaman bersama.
Di Desa Les, keempat elemen ini tampak dalam berbagai kegiatan berbasis komunitas—mulai dari pengelolaan sampah oleh kelompok lokal, kolaborasi konservasi laut, hingga workshop sederhana seperti komposter rumah tangga. Kegiatan-kegiatan ini memperlihatkan bagaimana warga merasa terlibat, dihargai, dan memiliki ruang untuk berkontribusi.
Penelitian-penelitian terbaru yang mengkaji eco-tourism di Bali juga menunjukkan bahwa partisipasi warga sangat dipengaruhi oleh motivasi, kesempatan, dan kemampuan. Ketika masyarakat memiliki rasa memiliki dan hubungan emosional dengan lingkungan, perilaku menjaga dan merawatnya tumbuh secara alami—bukan sekadar karena program.
Les sebagai Ruang Belajar Sosial dan Ekologis
Di luar pengalamannya sendiri sebagai desa wisata, Les memiliki potensi besar sebagai model edukasi bagi desa-desa lain. Praktik konservasi berbasis komunitas, pengelolaan sampah terpadu, serta pola kerja sosial seperti ngayah dan gotong royong menunjukkan bagaimana keberlanjutan bisa dibangun dari nilai lokal. Banyak desa wisata baru masih bergantung pada fasilitas eksternal atau program jangka pendek, sementara Les justru memperlihatkan bagaimana perilaku ekologis tumbuh dari identitas komunitas, bukan sekadar intervensi. Pendekatan ini menjadikan Les relevan sebagai rujukan untuk pengembangan eco-tourism berbasis psikologi komunitas—di mana perubahan dimulai dari relasi, rasa memiliki, dan pengalaman kolektif.
Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa keberlanjutan hanya mungkin terjadi ketika ada hubungan saling percaya antara warga, alam, dan nilai-nilai budaya yang mereka pegang. Prinsip Tri Hita Karana, semangat ngayah, dan praktik hidup sehari-hari menjadi fondasi psikologis yang menopang eco-tourism di desa ini.
Namun, terdapat pula tantangan yang tidak bisa diabaikan. Kesadaran ekologis belum merata pada semua lapisan masyarakat, dan beberapa program masih berjalan kuat di kelompok tertentu saja. Di sinilah pentingnya perspektif psikologi komunitas: perubahan perilaku lingkungan bukan sekadar soal pengetahuan, tetapi soal identitas, dukungan sosial, dan pengalaman kolektif.
Melihat kembali Desa Les berarti melihat bagaimana keberlanjutan dibangun dari bawah—dari interaksi warga, rasa memiliki, dan hubungan emosional dengan lingkungan. Desa ini mungkin tidak sepopuler desa wisata lain, namun justru di situlah kekuatannya: eco-tourism yang berkembang alami, bertahap, dan berakar pada dinamika komunitas. Insight psikologi komunitas menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya memerlukan infrastruktur, tetapi juga sense of community yang kuat. Ketika warga merasa menjadi bagian dari perubahan, eco-tourism bukan lagi program, melainkan identitas bersama.
aafikotasarni.org sangkarbet






