Wajah-wajah Kehidupan di Kanvas Nyoman

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan bagi pemilik skizofrenia ini.

Rumah Berdaya, rumah bagi orang dengan skizofernia (ODS), menggelar pameran tunggal karya-karya I Nyoman Sudiasa bertema Dekonstruksi Hakiki. Pameran bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, Ketemu Project, dan Pemerintah Kota Denpasar ini dibuka pada Jumat kemarin di Rumah Berdaya dan berlangsung hingga 31 Oktober 2019.

I Nyoman Sudiasa lahir di Desa Titab, Busung Biu, Buleleng pada 8 Juni 1974. Dia didiagnosis memiliki skizofernia pada Mei 2001 dan sempat dirawat selama satu minggu di Rumah Sakit Jiwa.

Pertemuannya dengan dr. Rai Wiguna, pada tahun 2015 ketika beliau sedang melakukan rawat jalan di RSU Wangaya, membawa Nyoman mengikuti sesi mingguan di kediaman dr. Rai. Pada Oktober 2015, terbentuklah KPSI Simpul Bali. Dia menjadi salah anggotanya.

Nyoman menjadi koordinator saat audiensi bersama dengan Walikota Denpasar pada Agustus 2016, yang akhirnya melahirkan Rumah Berdaya. Pada tahun 2017, anak bungsu dari 11 bersaudara ini diangkat menjadi pegawai kontrak Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Lalu mulai 2019, dia pun tercatat sebagai pegawai kontrak di Dinas Sosial Kota Denpasar sebagai Pengurus Rumah Berdaya.

Nyoman juga aktif melukis di waktu senggangnya. Salah satu lukisan beliau sempat ditampilkan di Pameran Jagat Mawut oleh Cata Odata di Ubud.

I Nyoman Sudiasa berasal dari Desa Titap, Busungbiu, Buleleng. Ia sudah berkeluarga dikaruniai dua orang putri sejak tahun 1998. Pada awal Mei 2001 pertama kalinya ia didapati dengan gejala schizophrenia, mengamuk di tempat kerjanya di Denpasar. Saat itu ia dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah lalu dibawa pulang ke kampungnya. Karena relaps dan kumat serta keluarga tidak bisa mengurusnya lagi, akhirnya Nyoman dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Bangli.

Setelah dirawat dan akhirnya stabil, bersama istri dan anaknya yang masih berumur tiga tahun, mereka kembali ke Denpasar. Berlangsung dengan rawat jalannya, keadaannya terus membaik. Sekarang sudah stabil bisa beraktifitas dan sosialisasi ke masyarakat sampai akhirnya bisa kerja kembali.

Ia sempat bekerja sebagai buruh bangunan, jual gas, di perusahaan garmen, juga menganggur. Lalu dengan ikut KPSI Simpul Bali, ia dipercaya sebagai koordinator dan dapat mendampingi sesama orang dengan skizofrenia (ODS) di Denpasar dan sekitarnya. Saat Rumah Berdaya terbentuk, Nyoman diangkat sebagai pegawai kontrak honorer di bawah Dinas Sosial untuk bekerja di Rumah Berdaya.

Sebelum ikut di Rumah Berdaya, Nyoman tidak pernah fokus berkarya atau membuat karya seni seperti lukisan-lukisan yang dipamerkan sekarang. Ia tidak mengenal seni kecuali menggambar di jenjang sekolah,

Nyoman mengaku sejak dulu sudah senang gambar sebagai ekspresi, menggambar di buku gambar kecil atau di buku tulis sebagai ekspresi saja. “Sebelum di Rumah Berdaya, saya tidak pernah mendalami. Hanya oret-oret biar tidak diam saja. Kekurangannya, saya tidak mendokumentasikan itu karena sekadar iseng,” katanya.

Setelah di Rumah Berdaya ini, dia dibimbing berkarya walaupun tidak diatur. Nyoman diberi kebebasan. Lukisan-lukisan pertamanya, berjudul ‘Malu’ dan ‘Polusi’, bahkan pernah dipamerkan di Galeri Cata Odata, Ubud. Setelah didampingi Ketemu Project, ada beberapa lukisan diminati dan dibeli.

“Itu membuat motivasi saya untuk menyalurkan ekspresi hobi saya yaitu menggambar. Walaupun belum sebagai mencari uang, bersyukur ada yang mengapresiasi,” ujarnya.

Mencampur Warna

Di Rumah Berdaya, alat lukis difasilitasi Ketemu Project bersama perupa dan Founder Ketemu Project, Budi Agung Kuswara (Kabul). Bersama Kabul mereka belajar mencampurkan warna-warna dasar. Bentuk lukisannya tidak pernah diarahkan atau diatur. Mereka bebas berekspresi.

“Dulu suka dengan mencoret-coret dengan pensil. Tidak ada tema. Melukis spontan dengan warna-warna yang dipakai menurut perasaan hati. Warna itu perasaan hati, seperti saya mulai dengan merah,” kata Nyoman.

Nyoman mengaku tidak memperhitungkan sesuatu untuk mengekspresikan diri. Hanya spontan.

Dia mulai melukis sendiri jika saat suntuk, menyendiri, sesuai mood (perasaan). Hal tersebut karena waktunya di Rumah Berdaya juga dipergunakan dengan mengurus kawan-kawan ODS. Biasanya saat malam baru ada waktu untuk melukis. Lukisan-lukisannya belum tentu selesai secara langsung, tergantung mood.

Saat ini Nyoman mulai berkarya melukis menggunakan akrilik di kanvas. Ada juga kebiasaan ia menggambar wajah-wajah. Ia ingat juga bagaimana wajah-wajah ia gambar saat sebelum mengidap penyakit skizofrenia,

Sebelum kena skizofrenia, Nyoman pernah menggambar wajah-wajah bulat. Orang tersenyum, menangis, tertawa, marah, cemberut kayak emoji di HP. Itu terjadi sebelum mengalami yang aneh-aneh. Secara naluriah dia mengambil pensil di atas kertas lalu menulis di bawahnya ‘gila’. Wajah-wajah itu jadi satu dan tulisan itu di bawahnya.

“Apakah itu suatu tanda mengalami skizofrenia, saya kurang tahu. Sampai sekarang menggambar wajah-wajah tetapi kadang tidak lengkap elemen-elemennya,” lanjutnya.

Dalam menggambar atau melukis wajah saat ini, ia suka memulai dengan elemen-elemennya seperti hidung atau mulut saja. Ia pun mulai mencoba selain wajah saat itu, seperti menggambarkan perahu yang menceritakan nenek moyang kita sebagai pelaut.

Ada saatnya juga kawan yang juga berkarya bernama Loster mengajarkannya teknik-teknik melukis wajah seperti melukis wajah dirinya sendiri.

Untuk pameran kali ini, Nyoman telah dibimbing untuk menekuni corak melukis wajah beserta elemen-elemen wajah tersebut. Adapun di lukisan wajah-wajah tersebut dikombinasikan dengan hal lain seperti tulisan atau elemen lain di luar tubuh manusia.

“Dulu waktu saya sakit, saya rancau kalau ngomong. Banyak kata di pikiran jadi pelepasannya teriak-teriak ngomong. Terkadang bahasa Inggris didengar dan diketahui kata-katanya, bisa bahasa Inggris yang keluar. Berbeda dengan presentasi di mana kita mengontrol kata-kata yang keluar. Setelah mengeluarkan itu semua saya merasa lega, saya mendapatkan tempat untuk melepaskan,” katanya.

Sekarang, melukis menjadi tempat pelampiasan. Baginya, tidak masalah orang mengerti atau tidak. Sebelum mengenal seni teriak-teriak ke orang – keluar dari mulut – dulu memang begitu.

Menarik Perhatian

Ekspresi di lukisan Nyoman sangat beragam dan sering menarik perhatian. Terdapat dekonstruksi dan penggabungan bentuk lagi. Seakan adanya bentuk surealisme ala Salvador Dali dan kubisme ala Pablo Picasso di dalamnya. Ada yang bentuknya mengombinasi wajah ketawa-marah-sedih dan memunculkan sebuah sisir di ujung lukisan yang menjadi simbol dari kebersihan.

Adapun pohon terbentuk di hidung yang berhubungan dengan kehidupan. Atau adanya banyak mulut tetapi satu telinga di satu lukisan. Dia menggambarkan seseorang yang kebanyakan berbicara tetapi tidak melakukannya. Dia juga tidak mendengar dengan baik, sehingga telinganya hanya satu.

Ada pula keadaan seorang yang menangis terus menerus sehingga jika tangisan air matanya itu dikumpulkan bisa menjadi kolam untuk ikan nantinya. Lalu ada orang yang berteriak dari ujung bawah satu lukisannya dan meneriakkan berbagai hal yang divisualkan dalam bentuk kata-kata.

Kecerdikan Nyoman memakai elemen-elemen dan menjadikannya simbol-simbol tertentu sungguh menjadi cerminan akan keadaan diri seorang manusia. Adanya elemen wajah saja, sudah langsung mencerminkan seseorang manusia. Sebagai pengamat yang juga seorang manusia akan langsung menyentuh si pengamat karya juga.

Bagi Nyoman, wajah-wajah acak itu menjadi semacam kekacauan indra. “Wajah-wajah ini acak. Kenapa kebalik-balik? Saya juga tidak ngerti kenapa. Tetapi saya merasakan ada kekacauan indra, dari suara dari melihat semua kacau tidak jelas,” ujarnya.

Nyoman mengaku sekarang sudah tidak mendengar suara-suara di dalam kepala. Namun, kalau pikiran sudah sumpek dan merasa ada amarah pingin ngedumel atau ngomong akhirnya lebih ke tertuliskan sekarang. Karena kadang kalau ada karaoke, nyanyi biasa menikmati irama itu tidak akan merasa plong dan itu mengganggu orang sekitar.

“[Melukis] ini lebih soft, lebih aman saya berekspresi disini dan orang tidak terganggu,” akunya.

Menurut Kabul, Nyoman telah menyadari dampak therapeutics (terapi) dari aktivitas berkaryanya maka perasaan lega dapat terciptakan darinya. Melukis menjadi caranya untuk berekspresi yang tidak mengganggu secara suara yang tidak mengenakkan untuk orang sekitarnya. Melukis menjadi alternatif yang diminatinya dengan sungguh-sungguh untuk mengekspresikan rasa-rasa yang mengganggunya. Lalu dengan visual-visual yang terciptakan, pelepasan indra-indra yang ingin berekspresi dengan suara itu tersalurkan.

Kembali ke cerminan akan keadaan diri seorang manusia, sebenarnya dengan adanya visual-visual yang tersalurkan dari terapi melukis ini tetap memiliki elemen mengganggu. Kita bisa merasakan dari karya-karya Nyoman bahwa karena ada yang mengganggunya terus dia mengganggu kalau bersuara keras atau bertindak destruktif, lalu menjadi lebih baik untuk semua dengan melukis, padahal visual yang dihasilkannya juga mengganggu.

Hasil dari terapinya, semua masih mengganggu sebenarnya tetapi kita dapat merasakan kelegaan kolektif dan dapat mengenal keadaan-keadaan sesama manusia di dunia yang seharusnya inklusif ini. [b]