
Awal yang tidak Pernah Dirancang
Feel Alive Bangkok Tour tidak melahirkan diri dari perencanaan panjang atau strategi ekspansi regional. Ia tumbuh dari satu panggung ke panggung lain, dari keputusan-keputusan yang diambil di tengah jalan. Setelah tampil di Axean Festival pada September 2025, Morbid Monke mulai aktif mengirimkan submission ke berbagai showcase di luar Bali dan Indonesia. Undangan datang hampir bersamaan, dari Eropa hingga Asia Tenggara. Bangkok menjadi titik awal bukan karena ambisi geografis, melainkan karena surat resminya tiba lebih dulu.
Di saat yang sama, band ini berada di persimpangan. Secara musikal mereka masih membawa materi EP dan beberapa lagu baru yang belum dirilis. Secara mental, tidak semua personel berada di titik yang sama. Ada optimisme, ada keraguan, ada urusan keluarga yang tak bisa ditinggalkan. Pembatalan tampil di Focus Wales menjadi keputusan berat, tapi perlu. Bangkok akhirnya dipilih, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai langkah pertama yang memungkinkan.
Berangkat dengan Dana Sendiri dan Keyakinan
Tur ini dijalani dengan seratus persen dana pribadi. Tiket pesawat dibeli mandiri. Hotel dicari yang masuk akal dengan bujet. Instrumen dipacking hingga dini hari, dihitung gram demi gram agar tidak melebihi batas bagasi. Tidak ada pengalaman sebelumnya membawa alat musik ke luar negeri. Semua dipelajari sambil jalan.
Waktu persiapan hanya sekitar satu bulan. Proposal sponsor tidak sempat dijalankan secara optimal. Namun ada satu hal yang dijaga dengan ketat, yaitu niat.
“Kami berangkat bukan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun,” ujar Karisma Kele, vokalis Morbid Monke. “Selain kepada diri kami sendiri. Kalau lagu-lagu ini memang hidup, pendengarnya akan datang.”

Stage 8 dan Ruang yang tidak Memberi Jarak
Bangkok Music City menempatkan Morbid Monke di Stage 8, penutup malam pertama. Jadwal tampil baru diketahui mendekati hari-H. Lokasinya tidak strategis, sepuluh hingga lima belas menit berjalan kaki dari pusat aktivitas festival. Kekhawatiran akan ruang kosong sempat muncul.
Yang terjadi justru sebaliknya. Small World Stage di The Corner House penuh hingga pintu masuk. Ruang komunal itu menjadi sangat intim, hampir tanpa jarak antara band dan penonton. Empat puluh menit set berjalan padat. Lagu dibuka dengan Spread The Energy Pt.1 dan ditutup dengan Loser DogGo!. Tidak ada satu pun penonton yang bergerak mundur.
Di atas panggung, Morbid Monke bermain seperti di Bali. Penuh tenaga, penuh doa, seolah kota ini bukan tempat asing. Dewok, pemain brass Morbid Monke, bahkan kehabisan suara akibat udara Bangkok yang panas dan kering.
“Rasanya seperti main di rumah sendiri, tapi dengan suhu yang jauh lebih kejam,” katanya sambil tertawa. “Tubuh capek, tapi kepala justru lebih hidup.”
Energi yang Dijaga, bukan Dipertontonkan
Setlist tidak disusun untuk memamerkan variasi, melainkan untuk menjaga alur emosi. Setiap lagu memiliki vibrasi berbeda. Ada yang menghentak, ada yang memberi ruang bernapas. Mary Jane hadir sebagai jeda, memberi kesempatan penonton menarik napas di antara riff dan groove yang padat.
Perubahan teknis sempat terjadi. Showfile yang disiapkan di Bali tidak bisa digunakan karena perbedaan mixer. Semua harus disesuaikan cepat. Namun justru di situ energi mentah Morbid Monke terasa paling jujur.
“Kondisi seperti itu memaksa kami balik ke insting,” ujar Krisna, gitaris Morbid Monke. “Kami tidak bisa bergantung ke sistem. Yang tersisa cuma lagu dan chemistry di panggung.”
Blueprint Live House dan Alumni Musisi Axean Festival
Titik kedua tur berlangsung di Blueprint Live House, bersama sesama alumni Axean Festival. Energinya berbeda, namun tetap raw. Penonton sebagian besar adalah musisi dan mereka yang sebelumnya menonton Morbid Monke di Bangkok Music City. Set dipadatkan menjadi tiga puluh menit. Dua lagu dipangkas. Emosi tetap dijaga.
Di lagu terakhir, Loser DogGo!, kolaborasi dengan unit Bangkok S.O.L.E terjadi. Spontan, nyaris tanpa latihan.
“Kolaborasi itu bukan soal direncanakan atau tidak,” kata Deoka, bassist Morbid Monke. “Tapi soal percaya. Begitu naik panggung bareng, energinya langsung kebentuk sendiri.”
Ikatan antar alumni Axean terasa kuat. Latar negara berbeda, industri berbeda, tantangan berbeda. Namun dorongan untuk tetap bermain menyamakan posisi mereka. Musik menjadi bahasa bersama.







Pulang ke Bali tanpa Jeda Panjang
Setelah Bangkok, Morbid Monke tidak berhenti. Mereka langsung masuk ke dua gigs di Bali. Opening JRXNRA Rock Gym Kuta dan Millers Intimate Series menjadi lanjutan dari perjalanan ini. Jeda empat hingga lima hari cukup memberi ruang beristirahat.
Bagi Gerby, drummer Morbid Monke, fase ini justru terasa krusial.
“Capeknya masih kebawa, tapi kepala kami sudah di tempat lain,” ujarnya. “Main lagi di Bali setelah Bangkok itu seperti ngecek ulang, apakah api ini masih nyala atau cuma euforia perjalanan.”
Di Millers Records, Morbid Monke membawa sisa-sisa tur. Zine edisi Bangkok, stiker, dan art print dibagikan gratis. Merchandise disiapkan. Bukan sebagai penutup resmi, melainkan sebagai perayaan kecil. Sebuah ruang untuk kembali ke rumah tanpa memutus cerita.
Zine sebagai Arsip dan Gerakan Kecil
Morbid Zine #02 menjadi medium penting dalam tur ini. Di dalamnya, perjalanan dari Axean hingga Bangkok disusun secara visual. Bukan untuk mengejar angka, melainkan untuk mereka yang masih menghargai arsip fisik. Mereka yang percaya bahwa gerakan tidak selalu harus terjadi di layar.
“Zine ini cara kami bicara pelan-pelanu,” kata Karisma Kele. “Bukan buat semua orang. Tapi buat mereka yang mau berhenti sebentar dan membaca perjalanan kami.”
Bab Awal yang Masih Terbuka
Tur ini mengubah cara Morbid Monke memandang panggung dan diri sendiri. Detail persiapan kini terasa lebih kompleks. Evaluasi internal menjadi keharusan. Api harus dijaga agar tidak padam setelah satu perjalanan.
Jika Feel Alive Bangkok Tour dibaca sebagai sebuah bab, ia bukan klimaks. Ia adalah kata pengantar. Sebuah halaman awal menuju lembaran berikutnya. Lagu-lagu yang ditulis tanpa ekspektasi kini membawa Morbid Monke ke kota lain, negara lain, dan kemungkinan lain
Dan dari Bali ke Bangkok, satu hal menjadi jelas. Musik yang dibuat dengan jujur akan menemukan jalannya sendiri. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk terus melangkah ketika pintu itu terbuka.







