• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, January 19, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Berita Utama

Catatan Mingguan Men Coblong: Sintas

Men Coblong by Men Coblong
27 May 2018
in Berita Utama, Esai, Kabar
0
0
Mural Prasasti Tragedi Trisaksti dan Mei 1998 di Jakarta. Foto Antara via BeritaDaerah.co.id

BULAN Mei bagi Men Coblong adalah bulan yang menggelisahkan.

Beragam peristiwa-periswa besar terus mengusik dan menjadi teror yang terus menusuk-nusuk dan menguliti otaknya. Sebagai perempuan, ibu, dan istri banyak sekali pertanyaan yang menjegal hati dan pikirannya.

Men Coblong jujur saja merasa tidak nyaman.

Apakah yang sesungguhnya salah dari dirinya? Apakah karena usia yang makin “sepuh” membuatnya jadi penuh perasaan, jadi pandir dengan logika-logika yang telah dibangunnya sejak kana-kanak? Logika-logika kehidupan yang tiba-tiba saja jadi rubuh dan rapuh di dalam dirinya.

Peristiwa pengebom di Surabaya masih mencekik denyut nafasnya. Juga kematian tiga anak di Bali yang dibekap ibunya yang belum tuntas. Anak-anak yang jadi korban ideologi orang tua. Juga peristiwa politik yang menggugah

Dua puluh tahun lalu, 12 Mei 1998, peristiwa mencekam dan berdarah terjadi di kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, saat mahasiswa melakukan demonstrasi menentang pemerintahan Soeharto. Empat mahasiswa tewas dalam penembakan terhadap peserta demonstrasi yang melakukan aksi damai, yaitu Elang Mulia Lesmana, Hafidin Royan, Heri Hartanto, dan Hendriawan Sie. Sementara itu, dokumentasi Kontras menulis, korban luka mencapai 681 orang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Tragedi Trisakti menjadi simbol dan penanda perlawanan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Baru. Setelah tragedi itu, perlawanan mahasiswa dalam menuntut reformasi semakin besar, hingga akhirnya memaksa Presiden Soeharto untuk mundur pada 21 Mei 1998. Kerusuhan yang bernuansa rasial sebenarnya sempat terjadi sehari setelah Tragedi Trisakti, yaitu pada 13-15 Mei 1998. Namun, kerusuhan itu tidak mengalihkan perhatian mahasiswa untuk tetap bergerak dan menuntut perubahan.

Terasa kontras sekali perjuangan anak-anak itu. Apakah setelah 20 tahun reformasi Indonesia sudah semakin “sehat”?

Presiden ke-3 RI BJ Habibie mengatakan, meski sudah 20 tahun reformasi, Indonesia malah dijajah politik identitas. Politik identitas tersebut diketahui menguat setelah Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu. “Itu yang menjajah kita. Kita diadu domba,” ujar Habibie di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Senin (21/5/2018). Padahal korban politik identitas itu kata Habibie adalah rakyat Indonesia sendiri.

Men Coblong setuju dengan pemikiran itu. Politik identitas telah merasuki beragam “keluarga” yang makin hari merasa hidup ini terlalu berat untuk dinikmati dengan rasa syukur. Lihatlah! Banyak berita tidak masuk akal merambah dinding-dinding rumah keluarga yang privat. Kita bisa dengan mudah membaca via Line, bagaimana seorang anak tega membakar habis rumah orang tuanya sampai rata dengan tanah hanya karena alasan orang tuanya tidak bisa membelikan ponsel.

Di sisi lain, seorang anak SD menghamili anak SMP. Apakah yang sesungguhnya keliru dari cara-cara pendidikan di sekolah-sekolah kita? Merunut komentar di media sosial, ayah yang menuntun keluarganya menuju “jalan surga” sesungguhnya sudah memiliki benih-benih pemikiran anak sejak masih sekolah di sekolah menengah, dia tidak mau ikut upacara bendera. Hal ini diceritakan teman sekolahnya.

Jadi, bibit-bibit kekacauan itu sesungguhnya juga harus mulai menjadi tanggung jawab sekolah formal, untuk mendidik dan memahami arti menjadi manusia Indonesia yang sesungguhnya. Manusia Indonesia yang sadar bahwa mereka majemuk, dengan beragam perbedaan yang tidak bisa lagi dijadikan diskusi-diskusi tidak masuk akal.

Suatu hari ketika menjadi juri membuat buku ajar, Men Coblong juga kaget ada staf yang jelas digaji oleh negara dan bergerak di bidang pendidikan justru tidak menghormati perbedaan dan kemajukan. Padahal dia seorang pejabat tinggi di sebuah institusi pendidikan. Orang itu alergi memberi ucapan selamat hari raya bagi pegawai atau bawahannya yang berbeda keyakinan. Bagaimana mungkin orang-orang dengan pemikiran dan liku-laku seperti ini bisa lulus tes dan menduduki jabatan tinggi? Apakah dia bukan orang Indonesia?

Men Coblong benar-benar heran dengan beragam persoalan-persoalan di negeri ini. Di tengah dua puluh tahun merayakan reformasi, merayakan keterbukaan. Apa yang sesungguhnya berubah ketika saat ini politik identitas justru menjadi jalan untuk melempengkan kekuasaan.

Siapakah korban-korbannya? Anak-anak.

Lihatlah kasus keluarga-keluarga yang memilih “mati” demi masuk surga. Seorang guru yang mencabut nyawa tiga anaknya. Anak yang membakar rumah hanya alasan sepele. Bocah SD yang menghamili anak SMP. Sadarkah para “militan” yang masih membawa panji-panji identitas untuk duduk nyaman di kursi kekuasaan?

Men Coblong masih merasakan betapa getirnya wajah orang tua para pejuang reformasi untuk perubahan negeri ini mengantar jasad anak-anak mereka ke dalam liang lahat. Dua puluh tahun telah berlalu. Apa sesungguhnya yang berubah di negeri ini? Masihkah tega mengorbankan anak-anak? [b]

Tags: esaiPolitikSejarah
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Men Coblong

Men Coblong

Men Coblong — Mantan buruh pers koran lokal. Ibu seorang anak lelaki.

Related Posts

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

Demokrasi di Ujung Tanduk: Penangkapan Aktivis dan Normalisasi Represi

10 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Herbalova, Pendokumentasian Tanaman Obat dari Imaji Anak-anak

Mengapa Laki-Laki Lebih Mudah Menangis karena Sepakbola daripada Cinta?

4 January 2026
Aksi Protes Pemilik Sawah di Jatiluwih Pasang Seng dan Plastik

Konflik Pertanahan di Bali: Ketimpangan Petani Gurem dan Properti

10 December 2025
Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

Aku Sawah: Ruang Hidup yang Diperebutkan

8 December 2025
Ruang Baca di Tengah Menjamurnya Konsep Book Cafe

Menyelami Masa Lalu Melalui Fiksi Sejarah

25 October 2025
Next Post
Kroncong Jancuk Hadirkan Nuansa Baru Musik Bali

Kroncong Jancuk Hadirkan Nuansa Baru Musik Bali

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

Gender dan Kesetaraan Performatif di Bali

17 January 2026
Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

Literasi Digital dan Pencegahan Cyberbullying bagi Pelajar di Denpasar

16 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia