• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, February 12, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Cara Kemas Makanan Menarik dan Tanpa Plastik

Diana Pramesti by Diana Pramesti
17 May 2023
in Kabar Baru, Kuliner, Lingkungan
0
0
Jajanan Olahan Teman Sayur – Anggara Mahendra

Tahun 2020 saat pandemi begitu keras memberi kita pelajaran dan perubahan, saya menghabiskan banyak waktu di rumah. Memikirkan hal apa yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu di rumah. Saat itu, saya banyak membuat kue dan masak makanan sendiri yang akhirnya mempertemukan saya pada kesempatan untuk membeli sayur dan buah di Teman Sayur.

Pembatasan sosial dan kekhawatiran saat berada di tempat umum membuat saya berpikir kreatif mencari alternatif metode berbelanja. Teman Sayur kebetulan menyediakan cara pra-pesan sayur dan buah segar yang saya butuhkan saat itu.

Saya masih ingat pesanan pertama yang saya beli dikemas dengan kardus bekas dengan cap Teman Sayur di secarik kertas. Hingga akhirnya kemasan pakai ulang mereka habis, barulah mereka membuat kemasan tas kertas yang dibubuhi cap. Jika diingat-ingat, mereka bahkan tidak ragu untuk menggunakan tas kertas atau kain dan kardus bekas untuk kemasan mereka pada awal-awal mereka memulai usaha ini.

Tempe berbentuk segitiga yang dibungkus dengan daun pisang membuat saya tidak bisa lagi menunda kesempatan untuk memesan. Aroma khas daun pisang yang segar dan alami berpadu dengan wangi kedelai serta ragi jamur Rhizoma oryzae yang bereaksi dengan suhu panas sungguh merupakan sajian mewah. Selain itu, bentuk segitiganya sangat menarik karena saat itu kali pertama saya melihatnya. Proses transaksi inilah yang menjadi interaksi pertama saya dengan Teman Sayur. Di hari-hari selanjutnya membawa saya pada banyak momen reflektif dan belajar, salah satunya tentang betapa kreatifnya mereka mengemas sayur, tempe, dan berbagai kudapan olahan dari hasil panen Teman Sayur dengan ramah lingkungan.

Sayur, buah, dan olahan hasil panen Teman Sayur yang saya terima sebagian besar dikemas dengan daun dan tas kertas. Ini bukan kali pertama saya menerima kemasan kertas dan daun yang sederhana saat berbelanja, tapi mereka bisa membuatnya berkesan. Penanda identitas ‘Teman Sayur’ dibuat kecil saja dengan cap, turut menambah kesan alami tanpa usaha yang berlebihan. Seperti hal ini adalah kebiasaan yang biasa saja.

Jaje Apem Gula Aren yang mereka pasarkan dengan jumlah terbatas juga dikemas dengan daun pisang atau daun pandan. Perpaduan bahan-bahan alami yang dihasilkan dari kebun sendiri semakin nikmat ditambah aroma dari daun pisang. Apakah hanya perasaan saja? Saya yakin tidak, mereka pun pernah menulis, “Kami salut dengan para leluhur kita yang menemukan cara mengemas makanan dengan daun pisang. Selain karena mudah didapat, ternyata daun pisang mengandung banyak zat baik untuk tubuh. Seperti kandungan polifenol, sejenis antioksidan untuk melawan banyak masalah dalam tubuh. Tapi yang paling signifikan adalah aroma yang menggugah rasa.”

Selain Jaje Apem Gula Aren, ada donat labu atau donat kentang, moci, jaje lupis, dan kaliadrem turut melengkapi sajian olahan Teman Sayur. Tak hanya rasanya yang enak dan mengingatkan pada jajanan bikinan nenek dan ibu, kemasannya juga dibuat agar minim sampah. Daun pisang jadi begitu penting dan tepat fungsi disandingkan dengan kudapan itu. Hal yang menarik, moci yang merupakan jajanan khas Jepang, dibuat dengan bahan-bahan lokal hasil panen (labu atau ubi ungu) dan dibungkus daun pisang. “Menarik sekali perpaduan yang terjadi, mana enak lagi. Kepikiran aja Kak Kris ini,” begitu yang saya pikirkan dalam hati saat menikmati moci itu.

Jajanan dengan kemasan daun tentu bukan hal baru. Di pasar atau di toko kue akan mudah kita jumpai. Hal yang tidak semua orang miliki adalah kesadaran untuk membuatnya tampak indah–bagaimanapun mereka tetap berupaya untuk memasarkan produknya, selagi mempertimbangkan ketahanan dan keberlanjutannya.

Hal-hal yang (tampak) kecil dilakukan Teman Sayur di atas barangkali sesuatu yang sederhana, pengetahuan umum, dan sudah dilakukan sejak lama oleh para leluhur kita. Melihat mereka melakukannya dengan kesadaran akan upaya untuk mengurangi sampah adalah inisiatif yang keren!

Saya tahu, dengan kemampuan mereka, bisa saja mereka membuat kemasan wah dari kertas melalui proses desain dan cetak yang panjang. Tapi mereka memilih untuk mengutamakan kemasan alami yang dekat dengan mereka, murah, dan mudah didapat. Pilihan kertas buat mereka jadi opsi kedua jika tidak memungkinkan dikemas dengan daun-daunan.

Beberapa kali saya membaca narasi caption pada unggahan Teman Sayur di Instagram. Buat mereka, makanan adalah tentang memori. Tidak hanya tentang mengolahnya, tetapi juga mengemas dan menyajikannya. Mengingat kembali memori itu membuat saya kagum betapa cara-cara tradisional dan alami sudah ada sejak lama, jauh sebelum kata-kata sustainable atau berkelanjutan familiar kita dengar belakangan ini. Lalu melihat Teman Sayur melakukannya seperti kebiasaan saja, membuat saya ingin menuliskannya sampai di sini.

kampungbet
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Diana Pramesti

Diana Pramesti

Mahasiswa tingkat akhir di Universitas Padjadjaran, kini tinggal sementara di Jakarta, asal dari Denpasar.

Related Posts

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

Ahli Tegaskan Bahaya Pengecualian Wajib Amdal dalam Sidang Gugatan Petani Batur

7 February 2026
Perlawanan Kebijakan Politik dalam Karya Seni Ogoh-Ogoh 2025

Banjar, Ogoh-ogoh, dan “Gaya gagah, pesu kapah, mani mati kanggoang kremasi”

6 February 2026
Next Post
Beginilah Dampak Virus Corona pada Pariwisata Bali

Ketika Wisata Menjelma Budaya (baru)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

Catcalling bukan Pujian, Ketika Ruang Publik tak Lagi Aman Bagi Perempuan

10 February 2026
Melindungi Sawah, Mempertahankan Jati Diri Bali

Bali untuk Belajar, tapi tidak bagi Anak-anaknya

9 February 2026
Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

Respon Anak Muda soal Museum Bali dan Asesmen Nol Kilometer Kota di Jalan Jalin

8 February 2026
Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

Clicktivism: Memaknai Kembali Demokrasi di Ruang Digital

7 February 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia