• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Tuesday, January 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Bebas Merkuri: Sektor Kesehatan Harus Menjadi Pionir

Anton Muhajir by Anton Muhajir
4 August 2010
in Kabar Baru, Lingkungan
0
0

Teks Bali Fokus, Foto Flickr

Dampak merkuri terhadap kesehatan manusia tidak dapat terpulihkan.

Data global United Nations Environment Programme (UNEP) menunjukkan bahwa pada tahun 2008 sekitar 3.800 ton merkuri digunakan di berbagai sektor, seperti ASGM (21 persen), Produksi VinlyChlorideMonomer (20), Chlor-alkali (13), perawatan gigi (10), baterai (10), peralatan pengukuran dan kontrol (9), elektronik (5) dan lampu hemat energi (4).

Pada tahun 2009 dalam UNEP Governing Council di Nairobi, negara-negara seluruh dunia termasuk Indonesia, sepakat untuk mengambil inisiatif dalam penghapusan merkuri dan menyepakati adanya perjanjian yang mengikat untuk merkuri.

Sebab, dampak merkuri pada kesehatan manusia sangat bahaya. Ketika merkuri terlepas ke lingkungan, baik melalui udara, air, maupun media lainnya, bahaya merkuri terpapar pada kesehatan manusia, hewan dan ekosistem. Konsentrasi merkuri yang tinggi dalam tubuh manusia dapat mengganggu sistem saraf, menurunkan intelejensia, menyebabkan kelumpuhan, dan menghambat pertumbuhan anak.

Di dalam tubuh setiap orang, terdapat merkuri yang masuk melalui berbagai cara: makanan, udara, air, dan paparan langsung. Sekitar 80 persen uap merkuri yang dihirup melalui paru-paru masuk ke dalam darah dan kemudian menyebar ke organ lain seperti otak dan ginjal.1 Setiap kali terjadi tumpahan, uap merkuri di udara baru luruh setelah 6 bulan sampai dengan 1,5 tahun (WHO, 2008).

Sarana- sarana pelayanan kesehatan berkontribusi melepas merkuri sekitar 5 persen melalui pembuangan air limbah dan 10 persen melalui insinerator (WHO, 2008).

Setiap pembersihan satu kilogram merkuri dari lingkungan dapat menghemat biaya-biaya sosial, lingkungan dan kesehatan manusia sekitar US$ 12,500 (UNEP, 2005). “Sektor Kesehatan harus menjadi menjadi pionir dalam penghapusan merkuri,” kata Yuyun Ismawati dari BALIFOKUS.

Menurut Yuyun, pemahaman tentang bahaya merkuri, mengenali gejala-gejala keracunan merkuri, dan mencegahnya sejak dini perlu dimulai dari sektor Kesehatan. “Para profesional, tenaga medis maupun para-medis serta para produsen dan pemasok, harus menjadi orang pertama yang kenal bahaya merkuri agar dapat membantu orang lain,” katanya.

Saat ini, sarana pelayanan kesehatan menjadi ancaman baru akibat masih abai terhadap risiko penggunaan fasilitas kesehatan yang mengandung merkuri. Di sisi lain, sampai saat ini tidak ada panduan, arahan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan SOP penanganan tumpahan merkuri di sarana-sarana kesehatan.

Hampir di semua rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan dipraktikkan daur ulang merkuri tanpa panduan dan perlindungan yang memadai. Termometer yang pecah terkadang langsung dibuang ke tempat sampah biasa, dibakar di insinerator atau diberikan kepada pemulung. Merkuri di sektor kesehatan beresiko langsung terhadap pasien maupun pekerja kesehatan.

Sementara itu Faye Ferrer dari Health Care Without Harm mengatakan bahwa phasing-out merkuri di negara-negara utara dan selatan sudah berlangsung sejak tahun 1997. Seluruh negara bagian di US, negara-negara Uni Eropa, dan beberapa negara berkembang di Afrika, Latin Amerika dan Asia juga telah melakukan phasing-out merkuri di sektor kesehatan. Indonesia juga dapat melakukannya agar kesehatan manusia dan lingkungan dapat dilindungi.

“Sudah banyak alternatif alat kesehatan yang bebas merkuri, lebih aman, dan memiliki tingkat akurasi yang sama,” ujarnya.

Produksi dan penggunaan merkuri harus dihentikan sebelum tahun 2020. WHO bersama Health Care Without Harm, sepakat menetapkan target pada tahun 2017 untuk mengurangi penggunaan termometer dan sphygmomanometer yang mengandung merkuri paling tidak sampai dengan 70 persen.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi
Yuyun Ismawati, BALIFOKUS, 0812 381 9665, yuyun@balifokus.asia
Selamet Daroyni, Institut Hijau Indonesia, 0815 84 19 77 13, selametdaroyni@gmail.com
Huzna Zahir (YLKI), 0812 800 25 30, konsumen@rad.net.id

Tags: DiskusiLingkunganLSMmerkuri
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

Krisis Sampah di Bali: Contoh Baik di Desa Ada, kenapa Pemerintah Pilih Bakar Sampah?

30 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

Siaga Banjir! Panduan Praktis untuk Warga Bali di Musim Hujan Ekstrem

16 December 2025
Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

Energi Terbarukan di Pulau Bali Hanya Bagus di Atas Kertas, tapi Kenapa Sulit Terwujud

26 November 2025
Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

Pulau Surga yang Kehilangan Harmoni

16 November 2025
Next Post

Pengurus Serikat Pekerja Garuda Terancam PHK

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

Mandaragiri: Saat Leluhur Membaca Bahasa Bumi

19 January 2026

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

Petani Batur Datangi Kementerian Kehutanan dan Kementerian Investasi

17 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia