• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Thursday, January 22, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Banyak Lowongan, Tapi kok Banyak Pengangguran

Anton Muhajir by Anton Muhajir
21 November 2010
in Kabar Baru, Opini, Sosial
0
0

Teks dan Foto Anton Muhajir

“Banyakan gengsi. Tidak mau kerja nyuci piring,” jawab Luh Manik, kakak ipar saya pekan lalu.

Saya sedang makan di warung soto karangasem tempat dia jualan di Jalan Nangka Selatan, Denpasar. Siang itu Luh Manik sendirian. Dia melakukan semua pekerjaan seorang diri mulai dari meracik soto, melayani pelanggan, hingga cuci piring.

Sudah sekitar tiga bulan Iluh, panggilannya di keluarga besar kami, bekerja tanpa pembantu. Sebelumnya ada ibu berumur kira-kira 35 tahun yang membantunya melayani pelanggan dan cuci piring. Namun, setelah bekerja sekitar enam bulan, ibu-ibu dengan satu anak itu berhenti begitu saja.

Iluh kini bekerja sendiri. Dia gagal lagi mencari pekerja, yang sebenarnya berperan penting untuk membantunya di warung.

Tapi, dia lebih beruntung dibandingkan dengan mertua saya, I Nengah Widana dan Ni Nengah Ariani. Pasangan pedagang soto sapi ini sampai sekarang tak juga mendapatkan pekerja di warungnya. Maka, ibu mertua saya pun harus bekerja sendiri. Tidak ada pembantu.

Mereka pernah punya pekerja. Tapi juga tak lama. Sejak masih jual soto di Pasar Badung lalu pindah di dekat Pasar Satria hingga jualan di rumah hingga saat ini, mereka tetap juga tak dapat pekerja.

Komentar bapak mertua saya kurang lebih sama. “Anak-anak sekarang kegedean gengsi. Tak mau kerja susah. Mau kerja santai tapi tidak punya modal,” katanya.

Tapi, susahnya cari pekerja ini juga terjadi di tempat kerja yang lebih sedikit butuh kerja fisik.  Ya, tidak hanya susah mencari kasar seperti pelayan di warung soto, mencari pekerjaan yang lebih “halus” pun tak jauh berbeda. Salah satu indikator gampangnya, lihatlah betapa banyak iklan lowongan kerja di koran yang terus dilakukan berulang-ulang.

Tapi, ini hanya hitung-hitungan sekilas, bukan berdasarkan riset serius tentang susahnya cari pekerja profesional. Poinnya, menurut saya, peluang pekerjaan di Bali, khususnya Denpasar, sebenarnya banyak. Lihatlah betapa banyak pekerja dari luar Denpasar atau Bali yang datang berduyun-duyun berebut gula. Kalau tak ada gula, semut tak akan datang begitu saja.

Ironisnya, ketika peluang demikian banyak, pengangguran di Bali justru naik. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2010 lalu, jumlah pengangguran di Bali naik menjadi 3,57 persen dari sebelumnya 2,93 persen dibanding total jumlah angkatan kerja sebanyak 2,2 juta.

Menurut dari yang ditulis Bali Post, per Maret 2010 ada 75.635 orang menganggur di Bali. Rinciannya, 11.718 orang penggangguran (15,49 persen) berkualifikasi lulusan universitas, 7.079 orang (9,36 persen) berkualifikasi akademi/diploma, 17.032 orang (22,52 persen) berkualifikasi SMK, 21.482 orang (28,40 persen) berkualifikasi SMA, 9.080 orang (12,00 persen) berkualifikasi SMP dan 9.244 orang (12,22 persen) berkualifikasi SD ke bawah.

Kalau banyak peluang pekerjaan, kenapa masih saja banyak pengangguran? Itu juga salah satu fakta aneh. Kalau menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan (Disnakertransduk) Provinsi Bali Drs. I Made Artadana, M.Si, masih banyaknya penganggur itu karena jumlah tenaga kerja memang lebih banyak dibanding peluang pekerjaan.

Tapi, mertua saya, Pak Ngah berpendapat yang lebih mengena. “Anak-anak muda sekarang lebih malas. Mereka tidak mau kerja keras. Carinya pekerjaan yang santai tapi mereka tak punya modal,” katanya.

Ada benarnya. Pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi atau menguras tenaga, misal, berdagang memang tak terlalu menarik bagi anak-anak muda. Kakak ipar saya, misalnya, tak suka berdagang soto seperti keluarga besarnya. Begitu pula dengan sepupu-sepupu saya yang lain.

Padahal, di keluarga besar kami yang perantau dari Karangasem, berdagang soto sapi inilah yang mengangkat ekonomi keluarga. Maka, semua paman saya jualan soto sapi ini. Kini cuma satu dua yang melanjutkan usaha ini. Lainnya tak terlalu tertarik.

Luh Manik juga mengatakan hal sama. “Anak-anak sekarang lebih senang jadi penjaga toko handphone daripada dagang soto,” katanya. Ini tak merujuk pada keluarga kami saja tapi juga pada para penganggur lain di Bali dan di mana saja.

Gengsi memang jadi salah satu sebabnya. Berwiraswasta seperti dagang soto, meskipun bisa menghasilkan pendapatan jauh lebih besar, jelas dianggap lebih “rendah” dibanding menjaga toko telepon seluler.

Namun, selain gengsi, akibat lain dari banyaknya pengangguran ini juga karena kurangnya akses informasi dari para penganggur. Mereka mungkin tertarik bekerja pada bidang tertentu, namun informasi mereka tentang pekerjaan tersebut agak minim.

Solusinya? Aduh, serasa saya Kepala Dinas Tenaga Kerja saja. 🙂 Mungkin dengan tak lagi melihat gengsi ketika mencari pekerjaan. Selalu ada tahapan di mana tiap pekerja menjadi bawahan. Kecuali mendapat jabatan karena warisan, ya, lain lagi.

Cara lainnya dengan rajin bergaul mencari informasi lowongan. Baca lowongan pekerjaan, cari info di internet, dan semacamnya. Saya yakin bahwa makin banyak informasi kita punya maka makin banyak pilihan bagi untuk melakukan sesuatu termasuk mencari pekerjaan.

Ada solusi paling gampang: membuat pekerjaan sendiri. Tapi, ini perlu kantong dan muka tebal. Dan itu yang susah. [b]

Tags: BaliOpiniPengangguranSosialTenaga Kerja
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Anton Muhajir

Anton Muhajir

Jurnalis lepas, blogger, editor, dan nyambi tukang kompor. Menulis lepas di media arus utama ataupun media komunitas sambil sesekali terlibat dalam literasi media dan gerakan hak-hak digital.

Related Posts

Siwaratri sebagai Ruang Kontemplasi Menghadapi Krisis Batin Kehidupan Modern

18 January 2026
Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

Tebe Modern hingga Inovasi Sumur Resapan untuk Menghadapi Banjir

15 January 2026
Para Perempuan Petani yang Perjuangkan Hak Tanah

Desa Bukan Ruang Kosong: Membaca Koperasi Merah Putih dari Bali

13 January 2026
Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

Ruang Sipil di Bali di Bawah Tekanan: Ketika Kritik Dianggap Ancaman

5 January 2026
Bus Sekolah Gratis di Desa Tembok Barter Sampah Plastik

Kenapa Kita (Ayah) Takut Mengambil Rapor Anak?

23 December 2025
Kemah Manja di Bali Jungle Camping Padangan

Terasering Subak sebagai Mitigasi Banjir Berbasis Lanskap

22 December 2025
Next Post

Waspada: Penipuan Berkedok Malkist Roma

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Ratusan Titik di Bali Alami Bencana

Menghitung Konversi Tutupan Lahan Bali Menjadi Lahan Terbangun

21 January 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Finansialisasi Desa-desa di Bali

20 January 2026
Mosi Tidak Percaya adalah Pemuda yang Bersuara

Aksi Agustus: Dewan Pers Menugaskan Ahli Pers Memantau Kasus Kekerasan pada Jurnalis di Bali

20 January 2026
Permasalahan Petani Hutan di Bali

Permasalahan Petani Hutan di Bali

19 January 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia