Berawal dari tawaran menjadi house band di Bali, kuartet instrumental ini mengembangkan musik psikedelik melalui improvisasi, suasana tropis, dan pencarian bersama. Pada November 2026, mereka membawa perjalanan itu ke Joyland Festival.
“Tahun ini nyampe Jakarta kali ya? Joyland boleh banget tuh!”

Celetukan itu muncul saat empat personel ASKEN berkumpul dan ngopi santai. Mereka mengamini keinginan untuk tampil di Joyland. Sekitar sebulan kemudian, pihak festival menghubungi mereka. Bagi ASKEN, kabar itu terasa seperti momen ajaib. Namun perjalanan menuju panggung tersebut dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: tawaran menjadi house band dan kesempatan bermain bersama.
ASKEN terbentuk pada awal 2024. Keempat personelnya, Ilham Sri Haryanto pada synth, Markus Cahyadi Wibowo pada gitar, Raymond Pieter pada bass, dan Adrian Bagja pada drum serta perkusi, sebelumnya hanya berteman dan sering nongkrong. Mereka sama-sama merantau dari Bandung ke Bali. Sebuah venue kemudian menawarkan mereka posisi house band dengan konsep jamming dan improvisasi. Dari situ, pertemanan mereka berubah menjadi proyek musik.
Mereka tidak merancang ASKEN dengan genre tertentu sejak awal. Kesamaan selera musik menjadi titik temu, sementara pendekatan tiap personel terhadap instrumennya tetap berbeda. Psychedelia lalu menjadi benang merah yang membantu mereka bergerak ke arah yang sama. Referensi mereka melompat dari karya Pink Floyd pada era Syd Barrett dan album Ege Bamyasi dari Can, hingga cinematic soul Piero Umiliani. Bio ASKEN juga menyebut groove soul era 1970-an dan 1980-an serta eksperimen tropis sebagai bagian dari lanskap musik mereka.

Cara mereka menciptakan lagu bertumpu pada intuisi dan interaksi. “Press record and play. RAW dan hanya mengandalkan intuisi,” begitu mereka menggambarkan prosesnya. Hampir semua lagu lahir dari jamming. Setelah sesi selesai, mereka mendengarkan ulang rekaman dan memilih bagian yang bisa dikembangkan. Menurut mereka, sekitar 70 persen materi muncul dari improvisasi, sementara sisanya berasal dari diskusi sebelum masuk studio.
Proses itu membuat musik ASKEN tumbuh dari suasana yang dibangun bersama. Tiap personel berimprovisasi, tetapi tetap menjaga arah dan mood yang sama. Mereka tidak mengejar satu formula tetap. Seiring waktu, mereka merasa makin memahami cara bermain satu sama lain dan menemukan titik temu tentang musik yang ingin dibuat.

Bali ikut membentuk perjalanan tersebut. Keempatnya datang dari Bandung, kota dengan kehidupan urban yang berbeda dari lingkungan tropis tempat mereka kemudian menetap. Pemandangan sehari-hari di Bali, termasuk orang-orang yang berselancar saat matahari tenggelam, bisa berubah menjadi gagasan lagu. “Selancar Sore”, salah satu lagu dalam EP yang sedang mereka siapkan, berangkat dari momen seperti itu.
Judul-judul lagu lain menunjukkan cara ASKEN menangkap pengalaman dan suasana. “Abassia Pluvial” mengambil inspirasi dari periode hujan dan kelimpahan air yang menumbuhkan kehidupan baru. Bagi mereka, gagasan itu berhubungan dengan pemulihan dan pembaruan dalam hidup. “Apply Sunscreen” punya penjelasan yang lebih jenaka dan langsung: sebuah imbauan agar orang memakai tabir surya untuk menghindari kanker kulit.
Mereka juga mengubah judul “C’est Nestapa” menjadi “Nestapa” agar lebih mudah diingat. Lagu itu menggambarkan naik turunnya fase kehidupan dan menjadi pengingat bahwa kesulitan merupakan bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan. Namun, ASKEN tidak ingin mengunci pendengar pada satu tafsir. Judul memberi gambaran tentang mood, sementara makna akhirnya mereka serahkan kepada orang yang mendengarkan.

Dalam waktu dekat, ASKEN menyiapkan EP berisi empat lagu: “Selancar Sore”, “Selami Malam”, “Hermit’s Lullaby”, dan “Panon Poek”. Mereka menargetkan rilisan penuh pada pertengahan November 2026. Setelah itu, mereka berencana menjalankan tur Bali-Jawa, mulai menggarap album, dan mengembangkan konsep video klip yang sudah disiapkan.
Panggung juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. ASKEN menyebut kesempatan menjadi band pembuka untuk Jack Johnson dan Dialog Dini Hari sebagai momen yang sulit mereka bayangkan sebelumnya. Keduanya termasuk childhood heroes mereka. Mereka mencatat pernah membuka penampilan Xavier Rudd pada 14 September 2024 dan Jack Johnson pada 18 Juni 2025, keduanya di Uluwatu Surf Villa, Bali.
Joyland menjadi kesempatan berikutnya untuk memperkenalkan musik mereka kepada pendengar yang lebih luas. ASKEN melihat musik instrumental modern belum cukup akrab bagi banyak orang di Indonesia. Karena itu, mereka ingin membawa warna baru ke festival, dengan materi dan aransemen yang telah mereka siapkan secara khusus. Mereka juga menyadari pengaturan energi panggung besar akan berbeda dari venue kecil, terutama karena jumlah penonton dan tata suara yang lebih luas.
Harapan mereka sederhana: penonton pulang dengan rasa ingin tahu terhadap musik instrumental Indonesia. ASKEN membayangkan lagu-lagunya menemani rutinitas pendengar, termasuk perjalanan pulang ketika tubuh sudah lelah. “Lagu ASKEN yang Nestapa cocok nih buat nemenin perjalanan pulang,” adalah salah satu gambaran yang mereka harapkan muncul di kepala pendengar. Musik tanpa lirik memberi ruang bagi setiap orang untuk membawa cerita mereka sendiri ke dalam lagu.
Di Bali, ASKEN merasa format instrumental mereka memberi warna berbeda di tengah banyak band yang memakai lirik sebagai bentuk utama ekspresi. Mereka juga melihat tantangan untuk menjangkau pendengar di luar pulau, sebab industri musik Indonesia masih banyak berpusat di Jakarta dan kota-kota besar. Berbasis di Bali memberi mereka akses kepada pendengar dari berbagai negara, tetapi untuk membangun perhatian di luar pulau, mereka merasa perlu bergerak lebih aktif.
Perjalanan ASKEN belum selesai di Joyland. Mereka berangkat dari sesi jamming yang tumbuh menjadi band, menemukan cara kerja bersama, lalu menyiapkan materi baru untuk dibawa ke panggung yang lebih besar. Jika ada anggapan bahwa lagu instrumental mereka hanya berisi intro panjang, ASKEN sudah punya jawaban: “Di lagu kami ada chorus-nya juga lho, enggak semuanya intro.”






