Anak Durhaka Selingkuh dengan Bapaknya

Bagi sebagian orang, kapitalisme hanya menguntungkan segelintir orang kaya.

Sistem ini diwujudkan melalui free trade yang didukung trans-nasional corporation (TNC) maupun lembaga internasional semacam International Monetery Fund (IMF) dan World Trade Organization (WTO).

Fair trade lahir dari kejayaan kapitalisme sebagai perlawanan atas free trade. Karena itu fair trade bisa disebut sebagai anak durhaka kapitalisme.

Dalam praktiknya, fair trade bisa dilihat dari dua perspektif: sebagai gerakan dan sebagai model bisnis. Sebagai gerakan, fair trade terhimpun di International Federation of Alternative Trade (IFAT). Organisasi payung gerakan fair trade sedunia ini bermain di advokasi kebijakan internasional. Pada pertemuan tahunan WTO, IFAT selalu muncul. Sejak di Cancun Mexico hingga di Hongkong tahun lalu mereka hadir sebagai suara alternatif untuk mewujudkan perdagangan yang lebih adil.

Sebagai model bisnis, fair trade teguh memegang sembilan prinsip fair trade. Misalnya produk fair trade tidak boleh dihasilkan oleh tenaga kerja anak, tidak menggunakan bahan baku kayu langka, serta tidak melakukan pembayaran tidak layak. Produk yang dianggap memenuhi standar fair trade akan mendapat sertifikat.

Masalahnya sejauh mana fair trade bisa menjaga jarak dengan kapitalisme yang dianggap hanya menguntungkan segelintir orang itu?

Pertanyaan itu muncul ketika melihat Mitra Bali, sebagai LSM sekaligus badan usaha yang menerapkan prinsip fair trade, juga menjual produknya di mall. Sejak 2005 lalu Mitra Bali memang menjual produknya di Centro, pusat perbelanjaan di Kuta.

Mall, tidakkah salah satu ikon kapitalisme dan agen perdagangan bebas? Menjual produk fair trade di mall, tidakkah sama dengan perselingkuhan antara anak durhaka itu dengan bapak kandungnya?

Agung Alit, Direktur Mitra Bali, mengakui kalau memang belum ada batas tegas sejauh mana hubungan antara fair trade dengan free trade itu diperbolehkan. “Sekarang kan tergantung siapa memanfaatkan siapa. Jadi konteksual saja,” kilahnya.

Pilihan untuk menjual produk di mall, lanjutnya, juga sebagai bentuk perlawanan itu. “Melawan kapitalis ya dengan menjadi kapitalis,” seru penerima Ashoka Fellowship, penghargan di bidang kerja sosial ini.

Menurut Gung Alit, mall mempunyai pembeli dan citra baik, dua hal yang penting untuk pemasaran produk kerajinan. Maka menjual produk fair trade di mall harus dilihat dari kaca mata kepentingan pemasaran. Buktinya, penjualan retail produk fair trade Mitra Bali mengalami peningkatan hingga 35 persen sejak produk dijual juga di mall.

Meski mengalami peningkatan penjualan retail, menjual produk di mall juga melahirkan masalah. Banyak produk fair trade yang ditiru. Padahal salah satu prinsip yang dilakukan di Mitra Bali selama ini adalah penghormatan terhadap hak cipta desain produk. Desain produk itu tidak boleh dikerjakan perajin lain tanpa seizin penciptanya. Namun peniru desain produk di mall bukan perajin binaan Mitra Bali sehingga Mitra Bali sendiri tidak bisa berbuat banyak. Parahnya lagi peniru desain itu kemudian menurunkan harga.

Selain perselingkuhan fair trade dengan free trade sertanya maraknya penjiplakan desain produk itu tadi, gaung fair trade sebagai sebuah gerakan juga masih sepi.

Misalnya Nengah Pundoh, perajin yang bekerja sama dengan Mitra Bali sejak 2004 pun kurang mengerti tentang fair trade. “Saya tahunya ya fair trade itu bersifat membantu dan membayar layak,” kata perajin yang juga petani di Desa Abuan, Kecamatan Kintamani, Bangli ini.

Bapak dua anak ini memang beberapa kali mendapat bantuan dari Mitra Bali. Selain bantuan membuat desain produk juga bantuan modal. Kini dia bisa membangun ruangan sekitar 2 x 2 meter persegi untuk tempat memajang produk kerajinan berupa patung gajah, kucing, maupun binatang lain. Di luar dua hal itu, tidak ada lagi yang dipahami lebih lanjut oleh Pundoh tentang fair trade.

Padahal, menurut Anak Agung Ari Putra, Koordinator Produksi Mitra Bali, tiap bulan ada artisan gathering di mana salah satu bahasannya adalah tentang fair trade sebagai gerakan. Misalnya tentang perlunya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan. Selain melalui artisan gathering, diskusi tentang fair trade juga dilakukan berkala ketika ada tim produksi yang datang ke tempat perajin.

Masalahnya kunjungan ini juga sering dilakukan saat ada order produk saja. “Jadi perajin berhubungan dengan kami ya selama ada order. Kalau tidak ada jarang berhubungan,” kata Ari. Meski demikian, Ari yakin kalau semua perajin yang bekerja sama dengan Mitra Bali tidak ada yang melanggar prinsip-prinsip fair trade. Sebab tiap tahun selalu dilakukan evaluasi oleh tim Mitra Balu maupun pihak lain. Fair trade itu telah dilakukan perajin meski mereka tak sepenuhnya paham apa itu fair trade. [b]