• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, April 20, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Akibat Orang Tua Mengeksploitasi Anaknya

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
12 March 2010
in Kabar Baru, Sosial
0
0

Teks dan Foto Luh De Suriyani

Selama tiga dekade, Bali dinilai gagal menanggulangi gepeng dan eksploitasi anak di jalanan. Hasil riset dua lembaga menyebutkan pelaku eksplotasi anak dan kekerasan adalah orang tua atau orang dewasa dari desa yang sama. Sementara itu DPRD Bali berencana membuat Perda penanggulangan gepeng.

Hal ini terungkap dalam diskusi soal penanganan korban-korban kekerasan anak dan mengkritis Ranperda gepeng di kantor Komisi Penanggulangan Anak Indonesia (KPAID) Bali, Kamis. Diskusi ini diikuti semua instansi yang terkait dan LSM, seperti Satpol PP, kepolisian, Dinas Sosial, anggota dewan, dan kepala adat. KPAI Bali mempresentasikan hasil risetnya terhadap gepeng dan pekerja anak yang menjadi tukang suun (buruh angkut) di Pasar Badung selama akhir 2009.

Diketahui, sedikitnya terdapat 300 tukang suun dan gepeng anak yang beroperasi di Pasar Badung. Hanya 31 orang anak berusia 7-18 tahun yang berhasil diwawancara mendalam. Ratusan anak-anak ini bekerja dalam tiga shift selama 24 jam. “Sebanyak 95% tidak pernah sekolah, sisanya pernah sekolah kelas 1-2 SD saja,” ujar dr Sri Wahyuni, Ketua KPAID Bali.

Semua anak tinggal bersama saudara atau teman di kos-kosan di Denpasar, namun kondisinya mengenaskan. “Mereka menyewa satu kamar kecil berisi 3-5 orang, dan beracampur antara anak dan dewasa,” kata Sri. Di sisi lain, seluruh pekerja anak dan orang tuanya ini tak bisa mengakses program kesehatan gratis, Jaringan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) karena tak punya KTP dan kartu keluarga.

Anak-anak ini harus menyetorkan sebagian penghasilan pada orang tua atau wali yang menampung di Denpasar. Kekerasan dialami nyaris tiap hari dari teman seprofesi dan orang dewasa karena rebutan lahan pekerjaan.

Solusi penanganan yang ditawarkan KPAI adalah melakukan pendampingan, dukungan pendidikan di luar jam kerja anak-anak, dan memberikan alternatif keterampilan tambahan.

Sementara presentasi kedua dilakukan organisasi Im An Angel (IAA) soal pekerja anak di sekitar kawasan wisata Kuta, Badung. Diperkirakan sedikitnya ada 100 pekerja anak saja yang beraktivitas sejak sore hingga dini hari. Nyaris semuanya juga buta huruf.

Bedanya, di kawasan Kuta ini para pekerja anak dinilai terorganisir atau memiliki bos yang melindungi. Kelompok-kelompok anak yang terlihat berjualan gelang ini tersebar di Seminyak, Legian, dan sekitar Pantai Kuta. “Ini bentuk perbudakan anak yang dibiarkan karena sarat kepentingan beberapa pihak,” ujar Asana Viebeke Lengkong, pendiri IAA. Organisasi donor ini dihidupi oleh ekspatriat dan donatur yang dilakukan dalam event-event fund rising di Kuta. Menurutnya ia kerap melaporkan situasi perbudakan anak ini ke Kantor Lurah Kuta namun belum berhasil diatasi.

“Ada beberapa sudut pantai yang terlihat banyak orang asing dewasa mengajak atau mendekati anak-anak jalanan itu. Ini ancaman pedofili yang serius,” ujarnya.

Ratusan anak-anak yang ditemui di pasar tradisional, jalanan, dan Kuta sebagai pekerja anak atau menggepeng disebut seluruhnya warga Bali yang berasal kebanyakan dari Karangasem.

“Menurut hasil identifikasi kami, hanya ada sekitar 80 kepala keluarga di Karangasem yang menjadikan pengemis dan pekerja anak sebagai profesi turun menurun selama tiga dekade ini,” tambah Viebeke. Ia menyebutnya experience beggars yang tumbuh dari temprary beggars sebelumnya.

Kondisi ini, diakui Dinas Sosial dan Satpol PP sulit diatasi. “Kita bekerja parsial, karena itu kami sudah membuar riset akademis rencana pembuatan Perda Gepeng,” ujar Ida Bagus Pancima, Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial Dinsos Bali.

Naskah akademis ini sudah selesai dibuat tim hukum dari Fakultas Hukum Universitas Udayana. Lalu didukung percepatannya oleh DPRD Bali, untuk dianggarkan pada 2011. Pemerintah mengakui formula koordinasi antar kabupaten mandul dan egosentris. Pemkot Denpasar misalnya selalu mengusir gepeng keluar dari Denpasar. Kabupaten Karangasem dinilai harus bertanggung jawab pada masalah sosialnya sendiri.

Namun, Ranperda Gepeng ini dinilai terlalu terburu-buru karena Perda terkait yang sudah ada seperti Perda soal Pencegahan Perdagangan Orang di Bali malah belum disosialisasikan. “Tidak ada anggaran untuk itu tahun ini,” keluh Pancima.

Bahkan, dua anggota DPRD dari Provinsi Bali dan Kabupaten Badung yang ikut diskusi tidak mengetahui ada Perda soal perdagangan orang yang disahkan 2009 lalu oleh DPRD sebelumnya. “Kami memang tidak pernah membahas serius soal gepeng ini,” ujar I Gede Sudarma, anggota DPRD Bali yang membidangi kesejahteraan rakyat ini. [b]

Tags: Anak JalananBaliGepengSosial
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

Banjar Saraswati Mengurai yang Tersisa, Menyemai yang Bermakna

7 April 2026
Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

Patahan Tektonik dan Keyakinan: Jembatan Jawa–Bali bukan Solusi

24 March 2026
Siapkah Nyepi Digital?

Siapkah Nyepi Digital?

23 March 2026
Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

Nyepi Jeda Sehari untuk Memberi Ruang pada Alam Bali

17 March 2026
Ruang Healing di Pesisir yang Berubah

Mendamaikan Nyepi dan Takbiran di Bali 2026

16 March 2026

Patologi Atensi: Kenapa Otak Dangkal dan Malas Kontemplasi

6 March 2026
Next Post
Pantai Lebih yang Terus Berkurang

Pantai Lebih yang Terus Berkurang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Compost Bag Dipilih sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organik Rumah Tangga

Pemkot Denpasar Rencanakan Distribusi 176 Ribu Compost Bag pada 2026

19 April 2026
Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

Pekerja Luar Ruangan Berisiko Tinggi Heat Stress ketika Panas Ekstrem

18 April 2026
[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan

Bali dan Histeria Festival

17 April 2026
Pulau Bali pun Rentan Tenggelam

El Niño “Godzilla”: Ketika Monster Iklim Mengancam Pulau Dewata

16 April 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia