• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Monday, June 8, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Gaya Hidup Agenda

Sejumlah Warga Bali akan Mendoakan Pelaku Bom Bali

Luh De Suriyani by Luh De Suriyani
5 November 2008
in Agenda
0
0

Oleh Luh De Suriyani

Pesan perdamaian terus digaungkan sejumlah kelompok warga di Bali jelang eksekusi pelaku bom Bali. Kelompok lintas iman, National Integration Movement (NIM) mengundang publik untuk turut dalam doa perdamaian dan menyuarakan pesan agar kekerasan atas nama agama dihentikan.

“Doa bersama ini akan dilaksanakan sesaat setelah eksekusi. Doa-doa akan dilantunkan sesuai dengan keyakinan agama-agama di Indonesia untuk mendoakan arwah pelaku bom Bali agar tidak membawa kemarahan,” ujar Eksekutif Direktur NIM Wayan Sayoga, Selasa kemarin.

Doa ini rencananya akan dilaksanakan di markas NIM, Anand Krishna Centre, Jalan Pura Mertasari no. 27, Sunset Road Area, Kuta. NIM adalah komunitas yang terdiri dari beragama keyakinan dan agama, etnis, dan golongan. Mereka kerap turun ke jalan untuk mengkampanyekan kerukunan dan toleransi.

“Kami tidak membenci para pelaku bom Bali, tetapi kami juga tidak menghargai tindakan-tindakan yang kejam. Karena alasan inilah kami merasa bahwa hukuman mati bagi para pelaku bom Bali dalam waktu dekat ini akan mengirimkan pesan yang jelas bagi para pendukung mereka bahwa kekerasan bukanlah suatu jalan keluar. Namun, kami menerima perlunya hukuman mati tersebut untuk menegakkan hukum dalam kehidupan bermasyarakat,” urai pesan perdamaian NIM.

Sayoga meminta kepada masyarakat Indonesia dan dunia untuk turut menyuarakan pesan perdamaian.

Sementara itu, janda korban bom, Nyoman Rancini mengatakan eksekusi tidak akan mampu mengobati kepedihakan semua korban bom dan keluarganya. “Saya hanya sedikit lega jika eksekusi telah usai karena jejak kebencian hilang,” katanya.

Rancini yang ditinggalkan Ketut Sumerawat saat ini harus menghidupi tiga anak perempuannya dengan berdagang acung, menawarkan kopi atau rokok pada pembeli di Pelabuhan Benoa.

Ia mengaku mulai risau dengan pengajuan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan keluarga Amrozy dan Ali Ghufron kemarin di Pengadilan Negeri Denpasar. “Saya ingin semuanya cepat berlalu,” pintanya.

Hal yang sama diharapkan seorang ibu rumah tangga, Ayu Adi. “Televisi mestinya jangan terlalu memberitakan gerak-gerik pelaku berlebihan. Ini membuat keresahan. Biarkan pelaku mendapat hukumannya dengan tenang dan kita doakan saja,” pinta Ayu, ditemui di warungnya, daerah Denpasar Utara.

Sebagai umat Hindu, ia mempercayai adanya karmaphala dan kelahiran kembali. Karena itu ia tidak terlalu peduli kapan eksekusi dilakukan. “Seseorang yang melakukan perbuatan buruk pasti mendapat buahnya di kehidupan lain,” ujar perempuan dua anak ini.

Gema perdamaian memang mengisi peristiwa peringatan bom Bali tiap tahunnya pada 12 Oktober. Tahun ini, gema perdamaian yang dihadiri lebih dari 5000 warga Bali mengkampanyekan sikap toleransi dan menghormati keragaman di Indonesia dan dunia. [b]

Tags: AgamaAgendaJaringanToleransi
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
Luh De Suriyani

Luh De Suriyani

Ibu dua anak lelaki, tinggal di pinggiran Denpasar Utara. Anak dagang soto karangasem ini alumni Pers Mahasiswa Akademika dan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana. Pernah jadi pemimpin redaksi media advokasi HIV/AIDS dan narkoba Kulkul. Menulis lepas untuk Mongabay.

Related Posts

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

Ini Kisahmu: Ni Pollok Gadis Bali

14 July 2023
Cerita Rasa

Cerita Rasa Festival: Rintisan Festival Desa di Jembrana

6 August 2022
In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

In Jazz We Trust, Perayaan Jazz secara Hibrida

29 April 2021
Pelaksanaan kremasi di Krematorium Santha Yana Jl Cekomaria, Denpasar. Pelaksanaan kremasi dianggap lebih murah dan praktis dibandingkan ngaben. Foto Anton Muhajir.

Dukung Krematorium Berarti Pendukung Hare Krisna?

3 April 2021
Umat Hindu Madura di Bongso Wetan menggunakan tradisi Jawa dalam ritualnya. Foto Fully Syafi.

Menariknya Akulturasi Hindu Madura di Tanah Jawa

26 March 2021
Beginilah Uniknya Nyepi di Desa Kedisan

Beginilah Uniknya Nyepi di Desa Kedisan

16 March 2021
Next Post

Menyemai Benih, Melahirkan Matahari Baru

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Wisata di Denpasar, Tiga Tempat Menarik dalam Satu Area

Refleksi Aksi For HATI Bali 2026 dalam Menjaga Masa Depan Bali

8 June 2026
Risiko Kesehatan ketika Marak Pembakaran Sampah Terbuka

Hindari Penggunaan Bahan Ini dalam Banten

8 June 2026
Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

Gersang Dahulu, Tanam Bambu Kemudian. Air pun Mengalir

7 June 2026

Menepi Sejenak di Serayu Pottery Ubud 

6 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia