Kelangkaan BBM di Bali: Jejak Kapal Pertalite
Oleh Aqwam F. Hanifan

Pertamina menyebut Pertalite langka di Bali karena konsumsi melonjak dan satu kapal terlambat akibat masalah jangkar. Catatan kapal di pelabuhan menunjukkan hal lain: pasokan ke Bali sudah menipis sejak September, sebulan sebelum antrean.
Update per 17 Oktober 2026:
Sampai 17 Oktober, catatan pelabuhan belum menunjukkan tambahan Pertalite yang berarti untuk Bali. Tambahan besar yang tercatat justru solar. Data diambil ulang data Manggis dan Benoa pagi ini.
- “Kapal jangkar” GRIYA CIREBON ternyata membawa solar, bukan Pertalite
Kapal ini tiba di Manggis 12 Okt pukul 21.30 dari Cilacap dan membongkar solar 26.219.
Angka ini nyaris sama dengan “tambahan 26.200 KL” yang dijanjikan Pertamina untuk 12, 14, dan 16 Oktober. Di ANTARA, jenis BBM-nya tidak disebut. Artinya, kapal yang keterlambatannya dijadikan alasan saat Pertalite habis kemungkinan besar adalah kapal solar. Batasannya: GRIYA CIREBON dikaitkan dengan pernyataan Dirut hanya lewat kecocokan jam tiba. Dirut sendiri tidak menyebut nama kapal.
2. Tidak ada tanker Pertalite besar baru di Manggis sesudah 11 Oktober
Pertalite terakhir yang dibongkar di Manggis tetap PRIMA XP (11 Okt). Pergerakan sesudahnya hanya pemindahan stok yang sudah ada di Bali ke Benoa, bukan pasokan baru:
ANDHIKA ARISA memuat Pertalite 1.442 dan Biosolar 847 di Manggis, lalu tiba di Benoa 14 Okt.
ASIAN RIGEL memuat Pertalite 2.891 di Manggis, lalu tiba di Benoa 15 Okt.
3. Kiriman dari luar Bali ke Benoa (Sanggaran)
KLASOGUN dari Surabaya, tiba 12 Okt. Saat saya ambil 15 Oktober, catatannya memuat Pertalite 857 ton (sekitar 1.150 KL) dan Biosolar 1.791 ton. Per hari ini, isian muatan itu kosong lagi. Nomor PKK dan waktu responsnya sama, jadi ini catatan yang sama yang muatannya terhapus. Penyebabnya belum bisa dipastikan, bisa koreksi agen, bisa juga gangguan sistem. Kedua salinan sudah saya simpan sebagai bukti di raw/bukti-2026-10-17/ beserta hash SHA-256.
PIS ROKAN, tanker Pertamina berukuran 6.000 DWT dari Balikpapan, dijadwalkan tiba di Benoa 14 Okt. Kapal ini belum masuk catatan bongkar, jadi muatannya belum diketahui. Lagi-lagi dari Balikpapan, bukan Jawa.
Gambaran kasarnya: sejak 12 Oktober, Pertalite baru dari luar pulau yang tercatat masuk ke Bali hanya sekitar 1.150 KL dari KLASOGUN, dan catatan itu pun sekarang terhapus. Sebagai pembanding, kebutuhan versi Pertamina adalah 2.200 KL per hari. Muatan PIS ROKAN belum diketahui, dan kapal yang masih di pelabuhan biasanya baru muncul di catatan setelah berangkat. Jadi angka ini masih bisa bertambah.
Selengkapnya di halaman Liputan Mendalam https://balebengong.id/krisis-bbm-bali/







