Liputan Mendalam · Lingkungan English
BaleBengong, media warga berbagi cerita BaleBengong, media warga berbagi cerita
Foto: Hallo Denpasar
Liputan Mendalam

Kelangkaan BBM di Bali: Jejak Kapal Pertalite

Jangkar yang Disalahkan, Tangki yang Dikeringkan

Pertamina menyebut Pertalite langka di Bali karena konsumsi melonjak dan satu kapal terlambat akibat masalah jangkar. Catatan kapal di pelabuhan menunjukkan hal lain: pasokan ke Bali sudah menipis sejak September, sebulan sebelum antrean.

Oleh Aqwam F Hanifan · 14 Oktober 2026
Gulir ke bawah ↓

Antrean di Kapal

Senin, 12 Oktober 2026, pukul setengah tujuh malam. Antrean di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) Kapal, Mengwi, sudah keluar dari halaman SPBU dan memanjang ke jalan raya Denpasar–Gilimanuk. Wartawan detikBali yang berada di sana mencatat, pengendara yang masuk antrean pada jam itu baru sampai di depan mesin pengisian pukul 19.50.

Gede Ari salah satunya. Ia warga Tabanan dan baru pulang kerja dari Seminyak. Sebelum ke Kapal, ia sudah mendatangi beberapa SPBU di sekitar Dalung, Kuta Utara. "Sudah keliling di sekitar Dalung, masih ramai makanya saya ke sini."

Di Jembrana, ujung barat Bali, keadaannya lebih buruk. Tiga SPBU di Kota Negara kehabisan bensin. Putu Suryacita, 31 tahun, salah satu warga, mendorong sepeda motornya cukup jauh, sampai harus menelepon teman untuk membantu. "Tumben kali ini habis semua. Biasanya ada saja Pertamax di salah satu SPBU," katanya.

Nyoman Werni, buruh proyek dan ibu tiga anak, diminta petugas membeli Pertamax Turbo, bensin termahal di SPBU. Ia ikut antre. Namun, Pertamax Turbo pun habis sebelum gilirannya tiba. "Besok di mana cari bensin untuk kerja?"

Besok paginya, Selasa, 13 Oktober, antrean muncul di Klungkung. Pertalite habis di SPBU Besang, Siku, dan Batu Tabih. Warga sudah datang sejak pukul tujuh pagi untuk membeli Pertamax. "Hampir tidak pernah kondisinya separah ini," kata Budiarta kepada detikcom.

Di Badung, seorang pengemudi ojek daring memilih membeli Pertamax yang lebih mahal sebelum tangkinya kosong. "Masih satu strip, tapi saya takut kehabisan BBM di tengah jalan," katanya kepada ATNews. "Beli Pertamax sajalah daripada ditinggal penumpang," ujarnya.

Antrean kendaraan memadati jalan menuju SPBU saat Pertalite langka di Bali, Oktober 2026. Foto: Hallo Denpasar

Anggota Komisi III DPRD Bali, I Made Rai Warsa, meminta Pertamina terbuka. "Jelaskan dengan jujur akan ketersediaan BBM," katanya.

Pemerintah dan Pertamina memberi tiga penjelasan.

Gubernur Bali I Wayan Koster menyalahkan warga yang membeli berlebihan karena takut kehabisan. "Pasokannya cukup tersedia di depo, di Manggis dan di Pesanggaran hari ini hadir," katanya pada 13 Oktober 2026. Menurut Koster, truk tangki terjebak macet dalam perjalanan ke SPBU.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyebut pemakaian Pertalite naik sekitar 12 persen, menjadi 2.200 kiloliter per hari, karena pengguna Pertamax pindah ke Pertalite.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, meminta maaf. Ia menyebut satu kapal yang seharusnya bersandar pukul 06.30 WITA pada 12 Oktober 2026 baru bisa membongkar muatan sekitar pukul 22.00 WITA karena masalah jangkar.

Ketiga penjelasan itu menyebut masalah yang datang tiba-tiba. Kami menguji apakah masalahnya memang tiba-tiba, dengan memeriksa kapal-kapal yang membawa BBM ke Bali.

Laporan ini membaca catatan resmi kedatangan dan bongkar-muat kapal di pelabuhan-pelabuhan Bali selama dua tahun, Oktober 2024 sampai 14 Oktober 2026. Catatan itu milik otoritas pelabuhan di bawah Kementerian Perhubungan. Catatan itu memuat kapal apa yang datang, dari mana, kapan, dan membawa apa. Isinya diketik oleh agen kapal ketika kapal hendak membongkar muatan. Data pelabuhan menceritakan hal yang tidak disampaikan para pejabat Pertamina dan Gubernur Bali.

Apa yang sebenarnya terjadi dan ditutupi?

Bali tidak punya kilang minyak. Semua bensin yang dijual di Bali datang lewat laut.

Pintu utamanya adalah Terminal BBM Manggis di Karangasem, di Bali bagian timur. Dalam catatan pelabuhan, terminal ini masuk wilayah Pelabuhan Padangbai. Dari Agustus 2025 sampai September 2026, hampir 8 dari 10 bagian bensin yang dikirim ke Bali dari luar pulau dibongkar di Manggis. Sisanya dibongkar di Terminal Sanggaran, Denpasar, yang dalam catatan pelabuhan masuk wilayah Pelabuhan Benoa. Sanggaran juga mendapat kiriman dari Manggis lewat kapal tanker kecil. Terminal Sanggaran berada tak jauh dari Banjar Pesanggaran, Desa Pedungan, Denpasar Selatan.

Pertalite datang ke Manggis dengan kapal tanker besar, sebagian besar dari depot dan kilang Pertamina di Jawa: Merak, Balongan, Tuban, dan Tanjung Priok. Dalam dua tahun terakhir, kapal seperti itu datang rata-rata sekali setiap 9 sampai 10 hari.

Kalau kelangkaan disebabkan kapal terlambat, seperti diutarakan pejabat provinsi dan Pertamina, jarak antara satu kapal dan kapal berikutnya seharusnya lebih panjang dari biasanya. Faktanya hanya sebagian. Dari 11 ke 24 September memang ada jarak 13 hari, lebih lama dari biasanya. Namun, sesudah itu jadwal kembali normal. GREEN PLUS membongkar Pertalite di Manggis pada 24 September. PHOENIX CROWN datang 9 hari kemudian, 3 Oktober. PRIMA XP datang 8 hari setelahnya, 11 Oktober. Dalam dua minggu terakhir sebelum antrean, tidak ada kapal Pertalite yang terlambat.

Menjelang antrean, kapalnya datang tepat waktu. Yang berubah adalah dari mana kapal itu datang dan berapa yang dibawanya.

Perkiraan tibaKapalAsalPertalite (kiloliter)
14 AgustusPHOENIX CROWNMerak31.846
28 AgustusGREEN PLUSMerak22.002
4 SeptemberPHOENIX CROWNMerak17.928
11 SeptemberGREEN PLUSMerak22.013
24 SeptemberGREEN PLUSBalikpapan15.786
3 OktoberPHOENIX CROWNBau-Bau10.357
11 OktoberPRIMA XPBalongan18.000

Dalam 14 bulan terakhir, separuh kapal tanker Pertalite yang datang ke Manggis membawa 16 ribu sampai 22 ribu kiloliter, dengan nilai tengah 19 ribu. Tiga kapal terakhir sebelum antrean, GREEN PLUS, PHOENIX CROWN, dan PRIMA XP, membawa 10 ribu sampai 18 ribu kiloliter, semuanya di bawah nilai tengah itu. Muatan sekecil itu bukan yang pertama. Pada Juli 2026, GREEN PLUS dua kali datang dengan 8 ribu dan 10 ribu kiloliter, dan tidak ada antrean.

Tiga kapal terakhir yang membongkar Pertalite di Manggis sebelum antrean, dari kiri: GREEN PLUS (24 September, 15.786 kiloliter), PHOENIX CROWN (3 Oktober, 10.357 kiloliter), dan PRIMA XP (11 Oktober, 18.000 kiloliter). Foto diambil di Balikpapan, 2024–2026. Foto: Pak Agen/ShipSpotting.com

Muatan PRIMA XP, 18.000 kiloliter, sama dengan angka yang disebut Pemerintah Provinsi Bali untuk kapal yang tiba 11 Oktober.

Dalam sebulan sebelum antrean, 12 September sampai 11 Oktober, tiga kapal membongkar sekitar 44 ribu kiloliter Pertalite di Manggis. Pada periode sama tahun lalu, 12 September sampai 11 Oktober 2025, tiga kapal membawa 57 ribu kiloliter. Turun hampir seperempat. Sebulan sebelumnya, 13 Agustus sampai 11 September 2026, empat kapal membongkar hampir 94 ribu kiloliter, jumlah 30 hari tertinggi dalam 14 bulan, sesudah antrean Agustus.

Kalau dirata-rata, Pertalite yang masuk Manggis pada bulan sebelum antrean hanya sekitar 1.470 kiloliter per hari. Pertamina menyebut seluruh Bali membutuhkan 2.200 kiloliter per hari. Pasokan Pertalite ke Manggis jauh di bawah kebutuhan Bali.

Selama lebih dari setahun, semua Pertalite yang dibongkar di Manggis datang dari Jawa: Merak, Balongan, Tuban, Tanjung Priok, Cilacap, Semarang, Surabaya, Banyuwangi, dan Situbondo.

Dua kiriman terakhir sebelum antrean justru datang dari tempat lain. GREEN PLUS, yang tiba 24 September, berangkat dari terminal Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebelumnya, kapal ini selalu datang dari Jawa, kebanyakan dari Merak.

PHOENIX CROWN mengambil rute yang lebih panjang. Kapal ini meninggalkan Manggis pada 6 September dengan tujuan Balikpapan. Ketika kembali ke Manggis pada 3 Oktober, pelabuhan terakhir yang disinggahinya adalah Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Bau-Bau adalah pelabuhan yang menerima BBM, bukan pengirim.

Artinya, dalam tiga minggu menjelang antrean, Bali tidak lagi dipasok dari depot-depot di Jawa yang biasa mengirim ke Manggis. Pasokan datang dari Balikpapan, dan sebagian kemungkinan merupakan sisa muatan setelah kapal singgah di Bau-Bau. Pertamina belum menjelaskan mengapa.

Argumen Pertamina bahwa antrean Pertalite terjadi karena pengguna Pertamax beralih ke Pertalite juga patut dipertanyakan. Catatan pelabuhan menunjukkan pasokan Pertamax ke Bali juga turun, bahkan lebih tajam ketimbang Pertalite.

Dalam sebulan sebelum antrean, kapal-kapal yang sama membongkar sekitar 9.900 kiloliter Pertamax di Manggis. Sebulan sebelumnya, 30 ribu. Pada periode yang sama tahun lalu, 29 ribu. Pasokan Pertamax ke Manggis kini tinggal sepertiga dari tahun lalu. Pertamax serendah itu pernah juga tercatat pada Maret dan April 2026.

GREEN PLUS, yang pada 28 Agustus membawa 10 ribu kiloliter Pertamax, pada 24 September hanya membawa 2.238 kiloliter. PRIMA XP juga hanya membawa sekitar 2.500 kiloliter.

Itu cocok dengan apa yang dialami warga. Di Jembrana, Putu Suryacita heran karena Pertamax habis di semua SPBU. Nyoman Werni diarahkan ke Pertamax Turbo, lalu Pertamax Turbo pun habis.

Pasokan solar juga turun. Dalam sebulan sebelum antrean, Manggis menerima 60 ribu kiloliter solar. Pada periode yang sama tahun lalu, angkanya 141 ribu kiloliter. Pasokan solar ke Manggis turun 57 persen.

Kerumitan Masalah di Pelabuhan Manggis dan Sanggaran

Manggis tidak hanya melayani Bali. Dari terminal ini, kapal-kapal tanker kecil membawa Pertalite dan solar ke Badas di Sumbawa, Bima, Ampenan dan Lembar di Lombok, hingga Maumere di Flores. Sejak Agustus 2025, catatan pelabuhan mencatat 115 kali pemuatan Pertalite di Manggis untuk tujuan di luar Bali, sebagian besar ke Badas.

Pengiriman itu tetap berjalan ketika pasokan ke Manggis menipis. Pada 20, 25, dan 30 September serta 4 Oktober, kapal ANDHIKA ARISA memuat sekitar 950 kiloliter Pertalite tiap kali untuk dibawa ke Badas. Pada 5 Oktober, FADILLA memuat 775 kiloliter Pertalite untuk Badas. Pada 6 Oktober, lima hari sebelum SPBU di Bali mulai kosong, SUKSES GLOBAL memuat 1.933 kiloliter Pertalite, juga ke Badas.

Totalnya, dalam sebulan sebelum antrean, sekitar 7.800 kiloliter Pertalite dikirim dari Manggis ke Nusa Tenggara. Jumlah itu sebenarnya sudah lebih kecil dibanding sebulan sebelumnya, 16.900 kiloliter, dan dibanding periode yang sama tahun lalu, 17.400 kiloliter. Pertamina tampaknya sudah mengurangi kiriman ke luar Bali. Namun, setelah dikurangi kiriman itu, Pertalite yang tersisa untuk Bali dari Manggis hanya sekitar 36 ribu kiloliter dalam sebulan, atau 1.210 kiloliter per hari.

Jumlah itu 55 persen dari kebutuhan harian yang disebut Pertamina, 2.200 kiloliter. Sebulan sebelumnya, Pertalite yang tersisa untuk Bali dari Manggis sekitar 2.560 kiloliter per hari.

Selisih antara yang masuk dan yang terjual harus ditutup dari stok di tangki Manggis dan Sanggaran. Berapa stok itu, catatan pelabuhan tidak mencatatnya. Gubernur Koster menyebut pasokan di depo cukup. Data pelabuhan menunjukkan isi depo itu terus terkuras selama sebulan, karena yang masuk lebih sedikit dari yang keluar.

Angka 30 hari seperti ini naik-turun, tergantung berapa kapal yang kebetulan tiba dalam jendela itu. Dalam 14 bulan terakhir, pasokan Pertalite untuk Bali pernah turun ke sekitar 1.000 kiloliter per hari tanpa disusul antrean, misalnya pada April 2026. Jadi pasokan yang rendah saja tidak cukup menjelaskan antrean Oktober. Bedanya, kali ini pasokan yang rendah datang bersamaan dengan hal lain: kiriman dari jalur yang belum pernah dipakai, kiriman langsung ke Sanggaran yang tidak tercatat, dan, menurut Pertamina sendiri, pemakaian Pertalite yang naik 12 persen.

Denpasar dan Badung, daerah dengan antrean terpanjang, sebagian besar dilayani Terminal Sanggaran di Benoa. Menurut Pertamina, pada 28 Agustus Sanggaran menyalurkan 424 kiloliter Pertalite dalam sehari.

Mobil tangki di Terminal BBM Sanggaran, Denpasar, yang melayani SPBU di Denpasar dan Badung. Foto diambil saat kunjungan Presiden Joko Widodo, 3 Desember 2021. Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev

Sanggaran mendapat Pertalite dari dua jalur: kapal tanker kecil dari Manggis, dan kapal yang datang langsung dari luar Bali, seperti dari Surabaya, Banyuwangi, atau Tanjung Priok. Jalur kedua inilah yang hilang menjelang antrean.

Pada periode yang sama tahun lalu, 12 September sampai 11 Oktober 2025, kapal-kapal dari luar Bali membongkar sekitar 11.300 kiloliter Pertalite langsung di Benoa. Sebulan sebelum antrean tahun ini, 13 Agustus sampai 11 September 2026, jumlahnya sekitar 8.000 kiloliter, antara lain dari LINEO 101 dan SUKSES GLOBAL yang datang dari Surabaya. Dalam sebulan sebelum antrean, 12 September sampai 11 Oktober 2026, tidak ada satu pun kiriman Pertalite langsung dari luar Bali yang tercatat di Benoa. Dalam 14 bulan, hanya pada periode inilah 30 hari berlalu tanpa kiriman langsung yang tercatat.

Seluruh Pertalite yang tercatat dibongkar di Benoa dalam sebulan itu dibawa oleh satu kapal tanker kecil, ASIAN RIGEL, yang memuatnya di Manggis. Kapal ini tiga kali bongkar, totalnya sekitar 7.100 kiloliter. Pada periode yang sama tahun lalu, Benoa menerima 14.100 kiloliter dari delapan kali bongkar.

Jika kiriman langsung ke Benoa ikut dihitung, Bali menerima sekitar 1.700 kiloliter Pertalite per hari pada periode yang sama tahun lalu. Tahun ini, sekitar 1.210 kiloliter. Turun hampir 30 persen, padahal menurut Pertamina pemakaiannya naik.

Pada 27 September, ASIAN RIGEL membongkar 2.873 kiloliter Pertalite di Benoa. Kedatangan berikutnya, 6 Oktober, hanya membawa 1.878 kiloliter. Di antara dua tanggal itu, sembilan hari berlalu tanpa catatan bongkar Pertalite di Benoa. Biasanya, kapal pembawa bensin bongkar di Benoa setiap dua hari.

Pada Mei sampai Juli 2026, Benoa menerima 33 ribu sampai 51 ribu kiloliter bensin per bulan, baik dari kapal kecil asal Manggis maupun kiriman langsung dari luar Bali. Pada Agustus jumlahnya turun menjadi sekitar 24 ribu, dan pada September 23 ribu. Solar yang dikirim langsung ke Benoa dari luar Bali pada September hanya 1.273 kiloliter. Biasanya belasan sampai puluhan ribu kiloliter.

Angka Benoa ini belum bisa dipegang sepenuhnya. Pada September, 12 dari 36 kapal tanker yang singgah di Benoa tidak mengisi jumlah muatannya. Empat di antaranya, PLAJU, MPMT XII, BALONGAN, dan OLYVIA T, tercatat atas nama PT Pertamina Trans Kontinental, anak usaha Pertamina. PLAJU dan MPMT XII biasanya membawa avtur untuk bandara. BALONGAN, yang tiba 28 September dari Balikpapan, tidak mencatat muatannya sama sekali. Pada Oktober, hanya dua dari delapan tanker yang mengisi jumlah muatan. KLASOGUN tidak mengisinya, padahal menurut Pertamina kapal ini membawa Pertalite dan Biosolar ke Sanggaran pada 13 Oktober.

Yang tidak tiba-tiba

Pemerintah dan Pertamina menjelaskan antrean Bali dengan tiga hal: warga yang membeli berlebihan, pemakaian Pertalite yang naik, dan satu kapal yang tertahan masalah jangkar. Ketiganya menggambarkan masalah yang datang mendadak, dalam hitungan hari atau jam.

Catatan pelabuhan menunjukkan masalah yang tumbuh selama sebulan. Kapal-kapal ke Manggis tetap datang sesuai jadwal, tetapi untuk pertama kali dalam 14 bulan pasokan diambil dari Balikpapan, bukan dari depot di Jawa, dan muatannya di bawah biasa. Pertamax dan solar ikut berkurang. Kiriman langsung ke Sanggaran, terminal yang melayani Denpasar dan Badung, tidak tercatat sama sekali. Dalam sebulan sebelum antrean, Pertalite yang masuk Bali hanya sekitar 1.210 kiloliter per hari, sedangkan menurut Pertamina sendiri Bali membutuhkan 2.200 kiloliter.

Kapal yang terlambat karena jangkar mungkin memang ada. Catatan pelabuhan mencatat GRIYA CIREBON, kapal tanker terbesar yang datang ke Manggis bulan ini, berangkat dari Cilacap dan dijadwalkan tiba pada 12 Oktober pukul 21.30, dekat dengan waktu "sekitar pukul 22.00" yang disebut Direktur Utama Pertamina. Namun kapal itu tiba ketika SPBU di Bali sudah kosong sejak sehari sebelumnya. Keterlambatan beberapa jam baru berakibat sebesar itu karena stok sudah terkuras oleh pasokan yang kurang selama sebulan.

GRIYA CIREBON, kapal tanker terbesar yang datang ke Manggis bulan ini, dijadwalkan tiba 12 Oktober 2026 pukul 21.30, sehari setelah SPBU di Bali mulai kosong. Foto diambil di Balikpapan, 2 Desember 2020. Foto: Pak Agen/ShipSpotting.com

Pertamina menjadwalkan tambahan 26.200 kiloliter BBM dengan kapal yang tiba 12, 14, dan 16 Oktober. Kapal-kapal itu mungkin cukup untuk mengurai antrean minggu ini. Pertanyaan yang lebih besar belum dijawab: mengapa tiga kapal terakhir ke Manggis membawa muatan di bawah biasanya? Mengapa pasokan dipindahkan ke Balikpapan? Mengapa kiriman langsung ke Sanggaran berhenti? Berapa sebenarnya stok di tangki Manggis dan Sanggaran ketika Gubernur menyebut pasokan cukup?

Data pengiriman dan stok BBM per provinsi tidak bisa diunduh dari situs Pertamina maupun BPH Migas. Tanpa data itu, warga hanya mendengar penjelasan setelah antrean terjadi. Catatan kapal di pelabuhan menunjukkan bahwa tanda-tandanya sudah terlihat sejak pertengahan September.

Di Jembrana, Nyoman Werni pulang tanpa bensin setelah Pertamax Turbo pun habis. Pertanyaannya malam itu sederhana: "Besok di mana cari bensin untuk kerja?" Selama Pertamina belum menjelaskan mengapa pasokan ke Bali dibiarkan menipis sebulan penuh, pertanyaan yang sama bisa muncul lagi.