
Okamaha menghadirkan Sunset Economy, album berisi 13 lagu yang mempertemukan cerita personal dengan perhatian pada identitas Bali. Dirilis melalui Okamaha Record pada 2026, album ini bergerak di antara folk, indie pop, dan alternative, dengan lirik
berbahasa Indonesia dan Inggris.
Di dalamnya, cinta, kehilangan, dan kerinduan berdampingan dengan pertanyaan tentang akar budaya. “Pantai Tanpa Nama” membawa suasana tenang dan nostalgia pesisir, sementara “Batas Budaya” serta “Semeton, Apa yang Tersisa?” menempatkan hubungan dengan Bali sebagai bagian penting dari cerita Okamaha.
Menyusul Through Time And Distance (2025), Sunset Economy melanjutkan perjalanan solonya yang aktif sejak 2022. Dari aransemen akustik hingga format full-band, Okamaha membangun ruang dengar yang intim: dekat dengan pengalaman sehari-hari, sekaligus memberi tempat bagi cerita tentang rumah.
Lahir di Denpasar pada 16 Juni 1996, Okamaha memulai perjalanan musiknya bersama sejumlah band, termasuk Shine Me Again, Anolian, dan For Sirens. Karier solo kemudian memberinya ruang untuk mengembangkan arah penulisan dan ekspresi musikalnya sendiri.
Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, mengangkat cinta, kehilangan, kerinduan, serta identitas budaya Bali. Tema-tema tersebut hadir melalui pendekatan yang personal, dengan aransemen yang bergerak dari gitar akustik hingga permainan full-band.
Bagi pendengar yang baru mengenalnya, “Pantai Tanpa Nama”, “Batas Budaya”, dan “Semeton, Apa Yang Tersisa?” menjadi pintu masuk ke sisi musik Okamaha yang terhubung dengan pesisir, akar budaya, dan rumah.










