
Oleh Wayan Sekar Pradnyadari
Minggu, 6 September 2026. Pagi itu kami bangun dengan sambutan dinginnya Desa Pedawa, sangat kontras dengan suhu di Kota Denpasar. Udara di sini masih sangat sejuk, bahkan dengan puasnya kami meraup udara bersih yang sungguh tak akan kami dapatkan di kota.
Pukul 7.00 WITA kami berangkat menuju Rumah Adat Mesegali. Bangunan dengan dominasi ulatan bambu dan dikelilingi pohon durian itu tampak lebih ramai dari biasanya.

Tujuh belas orang yang terdiri dari perwakilan desa-desa hulu Bali yakni Desa Cempaga, Desa Tigawasa, Desa Gobleg, Desa Munduk dan Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng berkumpul bersama dengan anak muda Komunitas Kayoman untuk trekking menyusuri jejak air dan vegetasi yang tersebar di Desa Pedawa. Sementara lima orang anak muda, termasuk saya, tinggal di kawasan yang menerima cadangan air di hilir, yakni Denpasar dan Gianyar.
“Kita bukan yang formal-formalan ya. Kita akan sharing santai saja, jadi feel free untuk berpendapat.”
Bli Sad, salah satu penggagas Komunitas Kayoman membuka kegiatan sembari berbagi singkat tentang kondisi desa dan kegiatan yang akan berjalan hari ini.
Sebelum memulai perjalanan, peserta dibekali dengan satu booklet yang berisi panduan singkat dan lembar catatan temuan yang dapat diisi selama kegiatan trekking berlangsung.

Dipandu oleh Yuli Supriyandana atau lebih sering disapa Bli Yuli, salah satu penggerak Kayoman, kami berjalan kaki menanjaki jalan kecil dengan pemandangan pohon cengkeh di sisi kanan dan kirinya. Di tengah perjalanan, kami juga berjumpa dengan warga desa yang sedang berkumpul untuk memetik cengkeh. Memang saat ini sedang musim panen.
Mendekati sumber air Gelunggang atau lebih sering disebut Kayuan Gelunggang, jenis tanaman yang dijumpai tampak berbeda. Tanaman bambu dan aren mulai terlihat di beberapa bagian.

Kami sampai setelah melewati jalan turunan yang cukup panjang. Kondisi Kayuan Gelunggang tampak teduh ditutupi pohon-pohon kayu besar. Aroma lembab dari lumut dan tanah basah menyeruak indera penciuman. Satu pura berdiri di tengah, di bawah kayu pule yang menjulang tinggi dengan pipa besar dan kecil melintang di kedua sisi.

Di tengah kondisi kemarau, Kayuan Gelunggang masih mengalirkan air. Pada pipa kecil, air mengucur walaupun debitnya tak terlalu besar.
“Sekarang kondisinya sudah hampir 3 bulan lebih kekeringan dan airnya sudah sedikit. Dan ini juga debit airnya sedikit. Dulu pohon-pohon besar di atasnya ini masih, tapi sekarang sudah beralih fungsi menjadi durian, cengkeh. Bahkan dulu pernah ditanami kopi, jadi masih ada pohon perindang. Itu masih aman.”

Beberapa bagian kawasan sumber mata air di Desa Pedawa berada di lahan milik pribadi. Hanya beberapa are saja yang masuk kawasan milik desa dan Kayuan Gelunggang adalah salah satunya.
“Kami sudah memetakan sekitar 85 titik sumber air yang ada di Desa Pedawa. Tetapi hanya 10% sekitar sembilan sampai sepuluh mata air yang masih berfungsi baik sepanjang tahun seperti Gelunggang ini. Yang lainnya sudah kering atau hampir kering.”

Bli Yuli bercerita, selain digunakan untuk aktivitas sehari-hari dan sumber daya ekonomi, air ini juga digunakan sebagai sarana ritual.
“Nah, begitu juga airnya difungsikan untuk menyiramkan taulan atau batu besar yang disucikan. Kemarin waktu usaba ngelemekin yang harus nedunang Ida Batara yang berupa taulan yang dipuja di Pedawa, itu harus memakai air Sabih dan air Gelunggang ini.”

Kami memperhatikan sekitaran Kayuan Gelunggang yang dipenuhi dengan ragam tanaman. Beberapa memang ditanam oleh Komunitas Kayoman, penanaman besar ini dilakukan pada tahun 2017 guna menjaga keberlangsungan dan keselamatan sumber mata air.
Kegiatan Komunitas Kayoman biasanya terbagi menjadi dua. Saat kemarau, mereka akan melakukan pemeliharaan bibit. Mulai dari merabas, memasangi pohon anjir atau ara, dan mengukur tinggi pohon.
Jika musim penghujan tiba, Kayoman akan mulai menanam dan mengganti tanaman yang mati. Bersama dengan Yayasan Wisnu, mereka berhasil mengidentifikasi beberapa jenis tanaman tersebut, seperti tanaman klampuak, kayu sambuk, celebung, majegau, aren dan juga lateng.

Tanaman bambu juga banyak terlihat selama perjalanan. Tak hanya berguna untuk menyimpan air, bambu juga dipercaya oleh masyarakat Pedawa memiliki nilai spirit dan dijadikan sebagai sarana upacara. Kurang lebih ada 35 jenis bambu yang teridentifikasi.
Bli Sad menambahkan bahwa beberapa tanaman sudah hampir punah. Pohon-pohon besar yang berada di sekitar aliran sungai kini banyak yang ditebang, baik untuk dijual kayunya maupun akibat alih fungsi lahan, juga karena pohon-pohon besar ini menghalangi paparan sinar matahari untuk tanaman-tanaman perkebunan.
“Jadi, ini keprihatinan kami sebenarnya dan ada kewajiban moral untuk membangkitkan tanaman-tanaman tersebut. Misalnya kayu apuk dan pingas yang sudah sulit dijumpai. Padahal tanaman-tanaman itu adalah jenis fikus yang bagus untuk menyimpan air.”

“Nah, saya minta supaya semuanya cuci, meraub ya! Meraub mencuci muka.”
Bli Yuli mengajak rombongan turun untuk membasuh wajah dengan air Kayuan Gelunggang. Ayu dan Elman, dua peserta trekking, ikut merasakan segarnya air yang mengalir dari sumber tersebut.

Setelah menikmati segarnya air Gelunggang, kami kembali mendaki jalur yang cukup terjal untuk menuju ke pembibitan Komunitas Kayoman. Selama perjalanan, pohon salak berjejer rapi di sebelah kiri kami. Hanya perlu menempuh waktu 5 menit, kami telah sampai di lokasi pembibitan.
Lokasi pembibitan Kayoman berada di salah satu rumah warga yang juga bagian dari penggerak Kayoman. Bli Sila namanya. Rumah itu sangat sederhana, namun memiliki kebun yang luas.

Setibanya di rumah Bli Sila, kami disambut teh dan kopi hangat, ditemani jaje sengait. Rasanya tak lengkap jika berkunjung ke Pedawa tanpa mencicipi jaje sengait. Jajanan lokal berbahan ubi dan gula aren. Bagi warga Pedawa, aren bukan hanya tanaman yang membantu menyimpan air, tetapi juga menjadi sumber penghidupan.

Selepas beristirahat, Bli Sila mengajak kami menengok rumah pembibitan Kayoman. Tempat ini dipilih karena terletak di tengah Pedawa dan mudah dijangkau dari lima dusun tempat 30 anggota Kayoman tersebar.
Di dalam lokasi pembibitan, puluhan polybag tersusun rapi. Ada yang kosong, ada pula yang sudah berisi bibit tanaman. Ada yang pendek, ada pula yang sudah tinggi. Lokasi pembibitan ini tak terlalu besar tapi masih dapat dilalui beberapa orang.
Kayoman memutuskan melakukan pembibitan sendiri sejak tahun 2018 setelah kecewa menerima bantuan bibit dari dinas yang tidak sesuai dengan harapan dan setelah menyadari bibit dari luar daerah sering tidak beradaptasi dengan ketinggian Pedawa yang berkisar 400–1.100 meter di atas permukaan laut.

“Contoh, kami memerlukan tanaman dingin, tetapi yang dikasi adalah sawo pecik. Itu yang menjadi kendala kami sehingga menjadikan dasar sampai kita membuat bibit sendiri.”
Kami memperhatikan beberapa bibit tanaman di rumah pembibitan ini. Ada pohon ara atau loa, pohon cempaka, kemudian pohon bunut dengan ragam ukuran dan kayu apuh.
Selain itu ada juga jenis pohon majegau yang banyak ditemukan di kawasan Bali Barat. Jenis ini memiliki daun yang lebih berwarna hijau. Jika daunnya berwarna kekuningan, makan jenis majegau ini banyak ditemukan di daerah Bali Timur.

Tak ketinggalan, Bli Yuli juga menjelaskan tentang bibit aren yang kerap dijuluki menara of power.
“Makanya dikatakan menara of power. Di atasnya mengeluarkan air, di bawahnya juga mengeluarkan air.”
Kayoman juga melakukan pembibitan untuk pohon bambu. Satu pohon bambu mampu mengeluarkan air sekitar 4 liter per batang. Itulah mengapa kerap kali kita melihat banyak pohon bambu yang ditanam di bantaran sungai.

Selanjutnya ada pohon gintungan, salah satu pohon yang cepat tumbuh. Selain sebagai tanaman konservasi, getah pohon gintungan juga dimanfaatkan sebagai bahan pewarna hitam.
Bibit yang layak tanam memiliki kriteria tertentu, yaitu 80 cm ke atas. Tinggi ini dipilih karena akan lebih mudah bagi bibit tersebut untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, terutama dari gulma.

“Pernah kita melakukan penanaman, ukuran bibitnya di bawah 80 cm. Akhirnya begitu gulmanya tumbuh banyak, bibit tertimbun dan mati. Minimal 80 cm ke atas itu baru kita keluarkan dan layak tanam.”
Namun pengecualian untuk tanaman aren dan bambu, walaupun belum menyentuh tinggi 80 cm, bibit ini sudah dapat di tanam. Aren memiliki kemampuan adaptasi yang kuat sebaliknya bambu lebih fleksibel dalam menyerap makanan.

Beranjak dari lokasi pembibitan, di bagian depan Bli Sila sudah siap mempraktekkan cara menanam bibit-bibit tersebut. Lengkap dengan sekam, kotoran hewan (kohe), tanah dan polybag kami diajak untuk membuat media tanam.
“Untuk pencampurannya tidak baku ya. Cuma kami melakukan pencampuran satu banding satu. Satu kohe, satu tanah, dua sekam. Bisa juga dua kohe, dua tanah, satu sekam. Tergantung musimnya. Kalau musim hujan, biasanya kami memperbanyak sekam untuk menjaga kelembaban. Perlu diperhatikan untuk sekamnya harus sekam bakar.”

Kami mencoba memasukkan campuran yang sudah dibuat oleh Bli Sila ke dalam polybag. Masing-masing peserta membuat satu media tanam. Prosesnya tak memakan waktu lama. Bli Sila juga menjelaskan bahwa media tanam sudah siap ditanami bibit ketika gulma mulai tumbuh.
“Kalau sudah tumbuh gulma, jadi bibit bisa dipindahkan ke media tanam gitu. Kalau belum, usahakan jangan karena media tanam masih bersifat panas.”

Bibit yang siap tanam kemudian disalurkan lewat skema yang mereka sebut program Asuh Kayuan, kerja sama dengan UMKM atau perusahaan yang memberi insentif tahunan kepada petani yang berkomitmen menjaga sumber air di lahannya
Kami kembali lagi ke lokasi pembibitan untuk memindahkan bibit-bibit ke media tanah yang sudah matang. Senangnya, kami juga mendapatkan satu bibit untuk dirawat hingga siap ditanam. Setiap bibit yang ditanam peserta hari itu pun diberi tag bertuliskan nama mereka masing-masing. Namun bibit tersebut baru dapat ditanam saat musim hujan.
Di sela sesi pembibitan, kami juga singgah melihat alat-alat pengolahan gula aren. Prosesnya panjang, dari nebuang tangkai bunga aren hingga menunggu 35 hari sebelum nugelang (memotong tangkai), lalu ngiris atau ngesek (proses menyadap nira). Alat-alatnya juga memiliki nama sendiri, seperti pengelantian untuk mengaduk gula, sugen untuk wajan, klakat sebagai tempat menaruh gula yang mengeras, hingga kemiri yang ditaburkan agar gula lebih cepat kental.

Menjelang siang, kami kembali ke titik awal berkumpul. Kembali melalui tanjakan yang tinggi serta kebun-kebun dengan hamparan pohon cengkeh. Jalan yang dilalui pun bersih, tak kami lihat sampah yang berserakan di sekeliling.
Tiba di Mesegali, kami beristirahat, makan siang dan masuk ke sesi diskusi santai nyambi ngopi. Agar menambah semangat, kami memulai diskusi dengan bermain. Peserta dibagi dua kelompok besar untuk bermain peran Tim Hulu dan Tim Hilir yang dipandu oleh 2 fasilitator.

Tim hulu sebagai penjaga sumber merumuskan pertanyaan yang diberikan fasilitator, yaitu apa saja yang sudah dijaga dan apa yang dibutuhkan dari hilir. Sebaliknya sebagai tim hilir mereka merangkum manfaat apa yang diterima dari hulu dan apa yang ditawarkan sebagai imbal jasa lingkungan.
Sebagai masyarakat hulu mereka merumuskan tanggung jawabnya dengan menanam pohon kembali, menjaga kawasan hutan, tidak menebang hutan sembarangan, tidak menyedot air dari danau, pembatasan penggunaan sumur bor, meminimalisir alih fungsi lahan, menetapkan peraturan untuk pembangunan villa yang dekat dengan sumber mata air, dan menjalankan pemujaan ke sumber air sebagai bentuk syukur.

Di lain sisi, tim hilir sebagai pengguna menyepakati beberapa langkah yang dapat dilakukan, seperti membatasi pemakaian air hanya untuk kebutuhan MCK, ikut turun tangan menanam pohon bila tenaga dari hilir dibutuhkan, mengusulkan skema kerja sama melalui sumbangan agar hulu dapat menjaga dan memperbaiki mata airnya, sekaligus tetap menjalankan ritual di titik-titik sumber air.
Sesi ini diperdalam oleh Bli Sad yang mengingatkan bahwa keterkaitan antara hulu dan hilir tak hanya berhenti pada air saja. Mengurai konsep Dang Kahyangan (pelinggih) di Pedawa yang hampir seluruhnya berafiliasi ke kawasan hulu, Tamblingan.

Tak terasa waktu sudah menyentuh sore, diskusi kemudian ditutup dengan refleksi dari perwakilan tiap desa. Bli Elman, mewakili generasi muda BRASTI Desa Munduk berpendapat bahwa sebagai generasi penerus desa kita memiliki keterhubungan melalui lilitan karya.
“Kita jadi belajar bahwa hubungan hulu dan hilir saling terikat lewat lilitan karya. Rasa syukur yang tertuang dalam ritual, yang bahan-bahannya harus diambil dari alam yang kita jaga sendiri.”
Bli Elman menegaskan bahwa dukungan dari desa-desa hilir dalam bentuk hasil bumi yang dihaturkan ke pura adalah bentuk konkret dari imbal jasa lingkungan yang sudah lama berjalan tanpa perlu disebut demikian.
Melalui perjalanan singkat dan diskusi ini, kami mencoba merefleksikan kegiatan konservasi yang sebenarnya dapat ditelaah lewat ritual yang telah terjalin antar desa. Bahwa tanaman-tanaman yang dibibitkan oleh Kayoman tak semata untuk menyimpan air, namun lebih dari itu juga menjadi bahan-bahan ritual serta penghidupan bagi warga desa.
(Liputan ini didukung oleh CIMB Niaga dan Indonesian Institute of Journalism (IIJ) melalui Sustainability Journalism Fellowship 2026)










