
Sebelum menulis tulisan ini, saya sengaja untuk menelpon beberapa teman dan juga kakak saya yang berada di Kabupaten Flores Timur. Memang, saya sendiri tidak pernah pulang walaupun kakek dan nenek memilih untuk menetap di sana. Percakapan awal yang dilontarkan oleh kakak saya lewat telepon. “Di sini, tidak bisa panen adek. Hujan sampai sekarang belum turun, kering semua”.
Mendengar hal tersebut, saya cukup sedih, karena masyarakat Flores Timur sangat bergantung pada hasil panen, sedangkan kekeringan masih saja melanda daerah ini. Dari sana, saya pun mulai penasaran mengapa daerah ini selalu mengalami kemarau dan kekeringan berkepanjangan? bagaimana masyarakat bisa bertahan hidup di tengah krisis yang ada ini?
Kemarau yang tidak lagi sama seperti sebelumnya
Kemarau selalu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Flores Timur. Sejak lama, wilayah di ujung timur Pulau Flores ini dikenal memiliki karakter iklim yang lebih kering dibandingkan banyak daerah lain di Indonesia. Karena itu, masyarakat membangun pengetahuan sendiri untuk beradaptasi dengan musim.
Ada beberapa pengetahuan lokal yang ada di masyarakat Flores Timur untuk meminta hujan seperti; Nena Uran Wai, Wato Wuluk, dan juga persembahan kurban. Pengetahuan itu diwariskan dari generasi ke generasi dan selama bertahun-tahun menjadi pedoman dalam menentukan waktu tanam maupun mengelola sumber air. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pengetahuan tersebut mulai kehilangan kepastiannya.
Hujan tidak lagi datang mengikuti pola yang dikenali masyarakat. Ada musim ketika hujan turun sangat terlambat, ada pula waktu ketika hujan hanya berlangsung singkat sebelum kemarau kembali mengambil alih. Akibatnya, banyak petani kesulitan menentukan awal masa tanam, sementara sumber-sumber air yang selama ini menjadi penopang kehidupan mengering lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Perubahan pola musim tersebut sejalan dengan berbagai temuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dalam obrolanku bersama Faisal Fathani mengenai fenomena El Niño, beliau menyebutkan bahwa ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menghangat, pusat pertumbuhan awan bergeser menjauhi Indonesia. Dampaknya, curah hujan di banyak wilayah Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur, mengalami penurunan sehingga meningkatkan potensi kekeringan meteorologis.
Kerentanan Flores Timur semakin besar karena wilayah ini memang berada di kawasan dengan musim kemarau yang relatif panjang. Dalam prediksi musim kemarau, BMKG menempatkan Nusa Tenggara sebagai salah satu wilayah yang lebih dahulu memasuki musim kemarau dibandingkan sebagian besar daerah lain di Indonesia. Pada saat fenomena El Niño terjadi, kondisi tersebut dapat memperpanjang periode kering dan menekan ketersediaan air permukaan maupun air tanah.
Dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya curah hujan. Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian tadah hujan, ketidakpastian musim berarti meningkatnya risiko gagal panen. Tanaman pangan seperti jagung dan padi lebih rentan mengalami kekeringan, sementara peternak harus menghadapi berkurangnya ketersediaan pakan dan air bagi ternaknya.
Di sejumlah desa, pemerintah daerah bahkan harus mendistribusikan air bersih ketika sumur dan mata air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga. “Untuk daerah flores timur sekarang, sudah ada 5 kecamatan yang terkena dampak dari kekeringan yang sekarang. Ada kecamatan Tanjung Bunga, Lewolema, Ile Boleng, Witihama, dan Kelubagolit,” ucap Faisal. Selain itu, karena sudah ada 5 kecamatan yang terdampak, maka sudah mulai ada distribusi air ke wilayah-wilayah tersebut.
Pengetahuan lokal masyarakat sebagai bentuk mitigasi di tengah krisis yang ada
Bagi masyarakat Flores Timur, kemarau bukanlah peristiwa yang asing. Jauh sebelum istilah perubahan iklim dikenal luas, masyarakat telah memiliki cara sendiri untuk membaca alam. Sama seperti yang dijelaskan di atas, ada banyak sekali pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat ini seperti Leta Urang, Nena Uran Wai, Wato Wuluk, Persembahan Kurban, Leta Urang. “Kami dari dulu diajarkan nenek moyang, ibuk bapak terdahulu. Minta ke leluhur, kita hidup berdampingan, kalo hujan sudah tidak ada makanan yang kita makan pun tidak ada,” kata Tuan Tanah Suku Puka.
Selama bertahun-tahun, pengetahuan tersebut membantu masyarakat hidup berdampingan dengan iklim Flores yang memang cenderung kering. Namun, perubahan yang terjadi beberapa tahun terakhir membuat banyak tanda alam tidak lagi mudah dibaca. Musim hujan datang lebih lambat, curah hujan semakin tidak menentu, sementara kemarau berlangsung lebih panjang. Apa yang dahulu menjadi pedoman kini sering kali tidak lagi memberikan kepastian. “Wolo Moe, hujan goke kadang-kadang. Kita juga tidak tau sampai kapan begini.”
Sayangnya, ruang pengetahuan sekarang dipenuhi oleh beragam informasi yang tidak selalu benar. Melalui media sosial, pesan berantai WhatsApp, hingga percakapan sehari-hari, muncul berbagai narasi yang menyebut kemarau panjang hanyalah siklus alam biasa atau perubahan iklim sekadar isu yang dibesar-besarkan. Tidak sedikit warga yang akhirnya menerima penjelasan tersebut karena terdengar sederhana dan sesuai dengan pengalaman mereka yang sejak lama hidup di wilayah kering.
“Sa ada dengar tetangga dorang sekitar sini bilang kalo di kita pu daerah sebenarnya air tu ada terus. Jo mereka bilang panen pasti dapat ini tahun, tapi apa, sekarang saja kebun kering,” imbuh Marsi, warga Kecamatan Tanjung Bunga. Di sinilah aku sendiri melihat disinformasi hadir sebagai informasi yang tidak memiliki dasar ilmiah, tetapi beredar begitu cepat dan perlahan memengaruhi cara masyarakat memahami krisis yang mereka alami. Akibatnya, pembicaraan mengenai penyebab kekeringan sering kali berhenti pada anggapan bahwa semua ini hanyalah kemarau biasa, tanpa melihat perubahan iklim sebagai faktor yang memperparah kondisi tersebut.
Namun, di tengah ketidakpastian musim, masyarakat memilih merespons dengan cara yang berbeda. Ada satu ritus yang sangat menarik menurutku. Namanya Tube Ile, yakni ritus persembahan kepada Gunung Lewotobi. Tube ile sendiri adalah ritual memberi makan Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Lewotobi Perempuan, sekaligus permintaan maaf atas ulah manusia yang mengusik ketentraman alam. “Setelah kami buat ritus lalu terjadi hujan, itu dari pandangan kearifan lokal bahwa leluhur sudah menyetujui apa yang kami minta,” kata Tuan Tanah suku Lein.
Lanjutnya, hujan lebat selama beberapa jam sejak dua hari itu bukan sekadar tanda, namun bukti bahwa adat menjadi relasi antara manusia dengan Tuhan, alam dan leluhur. Ritual untuk Gunung Lewotobi Perempuan dan Gunung Lewotobi Laki-Laki atau bahasa adat setempat disebut ‘Ile Bele’ (gunung besar). Ada banyak yang harus disiapkan, dan pantangan yang dilaksanakan. Namun, itu juga merupakan salah satu bentuk mitigasi lokal yang masyarakat ini tahu, untuk mengatasi kekeringan yang melandai mereka
Benih yang berhasil tumbuh di tanah gersang
Ketika tanaman pangan seperti jagung semakin sering mengalami gagal panen akibat minimnya curah hujan, beberapa petani mulai kembali menanam sorgum. “Itu awal ketika saya diberi oleh tetangga saya Helen, seporsi wotak blo’ong. Yang kemudian saya tahu itu sorgum, yang diberi parutan kelapa. ketika saya minta benih, ternyata terbatas. Dan saya akhirnya berburu benih, sebenarnya sederhana karena saya rasa sorgum itu enak, saya pengen. Dan baru-baru ini saya tahu kalau sorgum ini tahan segala kondisi, tahan kekeringan, dan sebagainya mulai dari situ saya mulai mengembangkan komunitas ini untuk bantu petani yang gagal panen, pertama di Manggarai Barat, lanjut Ende, dan baru terakhir saya kembangkan di tempat saya tinggal Flores Timur,” ucap Maria Lolerta.

Kembalinya sorgum tidak hanya menunjukkan upaya masyarakat mencari alternatif pangan di tengah krisis yang dialami. Lebih dari itu, ia memperlihatkan bagaimana masyarakat terus beradaptasi menghadapi perubahan cuaca dan Iklim yang terjadi. Masyarakat Flores Timur menyebutnya “Tanah Ekan Mulai Rusa” yang artinya bumi mulai rusak.
Selanjutnya lagi, ternyata obrolanku bersama ibu ini mulai semakin panjang, beliau bergabung ke dalam Yayasan Yaspensel milik Keuskupan Agung Larantuka untuk membantu petani yang mengalami kekeringan dan gagal panen. Menurut Maria, untuk sekarang ada 22 desa di Kabupaten Flores Timur dan Lembata yang mengembangkan sorgum. “Yang pertama ada di Desa Lewotobi (Kelompok Petani Sehati), Desa NuruBelen, Desa Adabang, dan 19 desa lainnya. “Saya menanam sorgum karena senang saja, dan dengan kondisi iklim seperti sekarang, padi, jagung semua tidak ada yang berhasil. Dan kebanyakan petani-petani kami disini 100% gagal panen, jadi saya memutuskan untuk mulai menanam sorgum,” kata Jeffri Hanus salah satu petani sorgum yang berhasil aku hubungi karena kakakku.
Pada akhirnya, masyarakat di sana pun akhirnya mulai beralih ke sorgum meskipun komoditas lain mati, bahan makanan pokok yang dihasilkan tetap stabil. Dari situ aku akhirnya mengerti, ternyata adaptasi terhadap perubahan iklim yang paling pertama menanggapi adalah masyarakat. Sekarang tinggal kembali lagi kepada pihak-pihak yang ada biar masalah seperti hal ini tidak menjadi beban yang hanya berat sebelah bagi petani saja dan bisa menciptakan inovasi yang terbarukan lagi nantinya.
Akses informasi yang benar dan kearifan lokal
Tantangan terbesar yang aku sadari setelah menulis hal ini ternyata masyarakat Flores Timur bukan sekadar menghadapi kemarau yang semakin panjang, melainkan memastikan bahwa setiap orang memiliki akses terhadap informasi yang benar disertai dengan pengetahuan yang ada. Anak zaman sekarang mungkin belum sepenuhnya menyadari misalnya pengetahuan lokal ataupun kearifan lokal bakal akan menyelamatkan mereka. Dan itu pelajaran penting yang bisa ku ambil kali ini, jika kamu kekurangan air dimanapun itu, gunakanlah apa yang sudah diajarkan oleh orang tua. Mungkin, dari sana kita bisa menemukan inovasi yang lebih baru lagi untuk mengembangkan desa kita masing-masing.
(Tulisan ini merupakan karya peserta Workshop Menangkal Disinformasi Iklim berkolaborasi dengan IDJN dan IMS)










