Oleh: I Gusti Agung Ratnatha P., I Gede Bayu Premana, I Kadek Agus Permana, Ni Wayan Geony Stutresni, I Gusti Ayu Putu Ratih
SMA Negeri 1 Bebandem merupakan Sekolah Menengah Atas yang terletak di wilayah Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali. SMA Negeri 1 Bebandem berdiri pada tahun 2003 dan memiliki luas sekitar 15.100 meter persegi (1,51 hektare). Sekolah ini berdiri di lingkungan yang masih sangat asri, yakni sekolah yang dikelilingi oleh perbukitan, Gunung Agung, dan pepohonan yang hijau.

Keindahan dan suasana alami yang dimiliki sekolah ini tentu harus dijaga dengan baik. Salah satu cara yang paling mendasar adalah dengan mengelola sampah yang dihasilkan warga sekolah setiap harinya, terlebih lagi sampah organik yang jumlahnya cukup banyak. Menyadari hal tersebut, SMA Negeri 1 Bebandem telah menerapkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis sumber, di mana penanganan sampah dilakukan sejak sampah itu dihasilkan, bukan setelah menumpuk menjadi satu.
Langkah ini sangat disambut baik oleh pihak sekolah. Menurut Pak Adi selaku guru Bahasa Bali yang mengajar di SMA Negeri 1 Bebandem, beliau sangat menyambut baik dan mendukung program yang telah berjalan ini, karena keberadaannya sangat efektif untuk membantu mengurangi jumlah sampah organik yang menumpuk di lingkungan sekolah sehari-hari.

Lebih lanjut, Pak Agus selaku guru Agama Hindu yang juga mengajar di sekolah ini menjelaskan bagaimana sistem pengelolaan ini berjalan di SMAN 1 Bebandem. “Caranya dengan membuat program sampah berbasis sumber, para siswa setiap pagi sebelum Tri Sandya, melakukan proses pembersihan, mereka mengumpulkan sampah organik di tempat-tempat yang telah disediakan dan kemudian akan dibawa petugas kebersihan ke bagian barat untuk dilakukan proses pengolahan menjadi pupuk organik untuk digunakan pada tanaman di sekolah,” jelasnya.
Pak Agus juga menambahkan, selain sampah organik, penanganan sampah jenis lain juga sudah diatur dengan baik. “Nah kalau sampah anorganik, sebelum adanya pembatasan penggunaan plastik, sekolah ini sudah menerapkan yang namanya bank sampah yang dikelola oleh ekstrakurikuler kewirausahaan untuk dijual dan uangnya dikelola oleh ekstrakurikuler tersebut.”

Dari penerapan program ini, terdapat banyak manfaat yang kini sudah dapat dirasakan secara langsung. “Menurut beliau yang pertama tentunya sekolah menjadi bersih, kedua pupuk yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik dapat digunakan pada tanaman, sehingga tidak perlu lagi mendatangkan pupuk dari luar sekolah. Di sisi lain selain digunakan untuk tanaman di sekolah, pupuk tersebut juga dapat diperjualbelikan baik kepada pihak luar maupun para guru yang berminat membeli pupuk tersebut,” ungkap Pak Agus.
Suasana positif program ini juga dirasakan langsung oleh para siswa. Sebagai salah satu siswi di sekolah tersebut, Gung Diva menyampaikan tanggapannya, “Program pengolahan sampah organik di sekolah sangat bermanfaat. Saya menjadi lebih disiplin dalam menjaga kebersihan dan membantu menyuburkan tanaman di sekolah. Saya merasa senang dan lebih peduli terhadap lingkungan.”

Program pengelolaan sampah ini ternyata sudah berjalan cukup lama. “Program ini pertama kali dijalankan dari tahun 2023, di mana awalnya merupakan pemenuhan tugas dari salah satu guru terkait pengolahan sampah, sekaligus sekolah memprogram pengolahan sampah sedini mungkin dan dapat dijadikan contoh oleh anak-anak untuk diterapkan di rumahnya,” tambah Pak Agus.
Dengan adanya program ini, diharapkan kebiasaan memilah dan mengelola sampah tidak hanya menjadi kewajiban di sekolah saja, melainkan juga menjadi budaya yang dibawa pulang ke rumah masing-masing siswa. Sehingga kelestarian lingkungan seperti halnya lingkungan sekolah yang asri ini tetap terjaga dengan baik secara berkelanjutan.

Tulisan ini merupakan karya peserta Kelas Jurnalisme Warga di SMA Negeri 1 Bebandem










