• Beranda
  • Pemasangan Iklan
  • Kontak
  • Bagi Beritamu!
  • Tentang Kami
Saturday, June 13, 2026
  • Login
BaleBengong.id
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip
No Result
View All Result
BaleBengong
No Result
View All Result
Home Kabar Baru

Popeda Instan Asal Ternate Berlayar dengan Identitas Kreatifnya

I Gusti Ayu Septiari by I Gusti Ayu Septiari
13 June 2026
in Kabar Baru, Kuliner
0
0
Popeda instan Kagounga

Tak asing dengan popeda?

Makanan satu ini khas Indonesia Timur. Bahan dasarnya dari sagu, memiliki tekstur kenyal, lengket, dan berwarna putih bening. Di tanah Ternate, Maluku Utara, makanan ini menjadi makanan pokok pengganti nasi. Biasanya disajikan bersama kuah kuning yang kaya rempah dan lauk seperti ikan.

Jika berkunjung ke Indonesia Timur, makanan ini sangat mudah ditemukan. Lain halnya di Indonesia bagian lain, makanan ini hanya bisa ditemukan di tempat makan yang menyajikan kuliner autentik daerah. Pasalnya, sagu sebagai bahan utama popeda cukup sulit ditemukan.

Kelangkaan sagu ini yang membuat Aiya Lee, pria asal Ternate, merindukan popeda ketika merantau ke Bali. Ia mencoba mencari tepung sagu dari toko ke toko, pasar ke pasar, tapi tak satu pun yang menjual tepung sagu.

Aiya pun mengakali mengganti tepung sagu dengan tepung kanji yang memiliki tekstur mirip. “Sebenarnya rasanya dan bentuknya juga sama, nggak ada beda. Cuma kayak aku ngerasa makan makanan palsu,” kata Aiya.

Pertemuan yang membuahkan popeda instan

Setelah tujuh tahun merantau di Bali, Aiya memutuskan untuk pulang ke Ternate. Di sana ia bertemu dengan Heri, pria asal Ternate yang merantau di Bogor. Ternyata, Aiya dan Heri memiliki kesamaan. Di tanah rantau mereka merindukan cita rasa popeda yang membuat mereka mengganti tepung sagu dengan tepung kanji.

Kerinduan popeda di perantauan membuat Aiya dan Heri membuat satu produk popeda instan di bawah merek Kagounga. Heri yang berlatar belakang industri pangan mulai memformulasikan popeda instan sejak awal tahun 2023. Selama satu tahun ia mencari resep yang tepat, hingga akhirnya produk tersebut diluncurkan tahun 2024.

Pemerintah Kota Ternate yang mengetahui rencana Aiya dan Heri memberikan stimulan modal pada Juni 2024 untuk membeli kemasan dan melakukan peluncuran pertama. “Kita beli kemasan di marketplace, dikirim ke Ternate seadanya juga. Kita juga masih produksi manual apa adanya dengan mesin-mesin yang sangat manual sekali,” jelas Aiya.

Peluncuran popeda instan secara terbatas dilakukan pada 10 Agustus 2024. Aiya mengungkapkan saat itu mereka hanya mengundang rekan terdekat dan beberapa media. Tak disangka, perwakilan kesultanan juga hadir pada acara itu.

“Ternyata booming. Orang-orang pada kaget, pada bingung, pada bangga. Akhirnya orang mulai ngasih spotlight ke kita,” ujar Aiya.

Setelah peluncuran resminya, Aiya lantas mendapatkan dukungan dari Sultan Ternate. Pasalnya, popeda instan yang diproduksi oleh Kagounga mengangkat identitas Maluku Utara pada umumnya dan Ternate pada khusunya.

“Saya memberikan restu, silakan gunakan nama itu (Kagounga),” kata Aiya, menirukan Sultan Ternate.

Kata Kagounga (dibaca Kagunga) diambil dari nama perahu Agung Kesultanan Ternate. Aiya menjelaskan, dalam armada perang Kesultanan Ternate, tiap perahu memiliki tiga tingkatan. Di tingkatan terbawah ada kora-kora yang digunakan prajurit ketika melakukan ekspansi wilayah atau urusan diplomasi secara maritim. Di tingkatan kedua ada juanga yang digunakan oleh para kapitan. Tingkat paling tinggi adalah kagunga yang hanya boleh dinaiki sultan.

“Kalau misalnya kalian menganalogikan brand ini sebagai perahu, maka angkutlah semua identitas Ternate dan layarkan ke mana pun kalian pergi dengan segala baik-baiknya,” kata Aiya, kembali menirukan pesan Sultan Ternate.

Kagounga tekankan identitas Maluku Utara

Satu paket popeda instan berisi tiga kemasan bahan yang berbeda-beda, yaitu sayuran, pati sagu, dan kuah kuning. Ada pula satu lembar kertas yang berisi cara penyajian popeda. Satu lembar lainnya semacam photo card yang menjadi identitas Kagounga.

Cara memasak popeda instan cukup mudah, hanya perlu menuangkan bahan dan melarutkannya dalam air di atas nyala api kompor. Memasak pati sagu harus dilakukan sesuai dengan cara penyajian untuk mendapatkan tekstur sagu yang tepat. Sementara kuah kuning popeda instan memiliki rasa khas, tidak seperti kuah instan pada umumnya, rasa ikannya cukup autentik.

Proses uji coba selama setahun penuh tidak bisa dikatakan mudah dan lancar. Heri fokus memikirkan cara agar kuah kuning popeda bisa awet dan tetap terasa autentik. “Itu kita lakukan selama setiap minggu, kadang intervalnya bisa seminggu sekali, bisa dua minggu sekali, sebulan sekali untuk mencari tahu bahwa ini layak atau tidak,” jelas Aiya.

Sementara itu, Aiya yang latar belakangnya pemasaran mempersiapkan desain kemasan popeda. Mereka pun melibatkan dua anak muda dari Maluku Utara untuk desain kemasan. Berbeda dengan kemasan produk lain yang memiliki warna mencolok, desainer grafis yang dipilih Kagounga menggunakan warna kalem, yaitu hijau dan putih.

“Kita butuh sesuatu yang beda untuk bisa stand out di etalase. Jadi dipilih warna putih, mengambil dasar warna sagu,” kata Aiya. Aiya dan Heri juga melibatkan seniman asal Maluku Utara untuk berkolaborasi membuat photo card untuk popeda.

Salah satu photo card Kagounga

Hingga tulisan ini diterbitkan, setidaknya ada 20 karya seni yang dirilis Kagounga melalui popeda instan. Karya seni tersebut berbentuk photo card yang menyuarakan identitas Maluku Utara. Tiga karya pertama mengangkat tentang tiga gunung di Maluku Utara. Ada pula karya seni visual yang menggambarkan kekayaan biota laut Maluku Utara. “Banyak sekarang pembeli kita tuh mereka makan popeda instan terus mereka beli lagi untuk koleksi gambarnya,” kata Aiya.

Aiya mengaku, Kagounga berkolaborasi sepenuhnya dengan masyarakat Maluku Utara, termasuk petani lokal. Sagu dan rempah yang digunakan diambil langsung dari petani, sedangkan ikan untuk kuah kuning dibeli langsung di nelayan. Bahkan, rumah produksi dipindahkan ke Kampung Nelayan, sehingga bahan bakunya berasal dari tangan pertama.

Melalui popeda instan, Aiya dan Heri ingin menjadikan makan popeda sebagai tren. “Show your true colors,” begitu slogan Kagounga. Slogan itu hadir dari keresahan mereka terhadap hilangnya jati diri anak muda saat ini sebagai orang Indonesia.

Aiya menjelaskan banyak anak muda saat ini yang rela mengubah penampilan mereka. Orang Maluku Utara dikenal dengan rambut keriting, warna kulit coklat, dengan dialeknya yang kasar. Melalui pemasaran Kagounga, Aiya dan Heri ingin mengubah persepsi bahwa orang Indonesia Timur juga memiliki identitas yang khas.

Kagounga pun memilih strategi pemasaran yang menonjolkan identitas Maluku Utara, menggunakan model anak muda yang asalnya dari Maluku Utara. “Kita pakaiin mereka kebaya, kita foto tanpa make up, yang cowok kita suruh shirtless, tunjukin badan karena memang orang laki-laki kalau mau berkebun ya nggak pakai baju,” ujar Aiya menjelaskan ciri khas orang Maluku Utara.

Berjalan dua tahun diluncurkan, Kagounga makin melebarkan sayapnya. Pada acara Ubud Food Festival (UFF) 2026, Kagounga sempat hadir dalam tiga segmen. Salah satunya panggung Fast Forward. Di sana mereka menyampaikan presentasi singkat tentang kearifan lokal pohon sagu yang memiliki gender dan ritual adat saat memanennya. Kagounga juga mengisi kelas memasak berbayar di Sayan, Ubud difasilitasi Javara, perusahaan yang mempromosikan pangan lokal yang terkurasi. Selain itu popeda dimasak bersama anak-anak muda Bali dalam diskusi kuliner di cafe buku di Ubud, Litlle Talks.

Saat ini, Aiya menjelaskan, Kagounga tengah melakukan ekspansi pasar ke Bali dan telah memiliki satu agen representatif di daerah Denpasar. Bali dipilih sebagai prioritas pasar luar Ternate karena dinilai sangat cocok jika ingin mengenalkan produk ini ke pasar yang lebih luas. 

Tags: maluku utarapangan lokal indonesiapopedapopeda intansagu
Liputan Mendalam BaleBengong.ID
I Gusti Ayu Septiari

I Gusti Ayu Septiari

Suka mendengar dan berbagi

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Temukan Kami

Kelas Literasi BaleBengong
Melali Melali Melali
Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu? Seberapa Aman Perilaku Digitalmu?

Kabar Terbaru

Popeda Instan Asal Ternate Berlayar dengan Identitas Kreatifnya

Popeda Instan Asal Ternate Berlayar dengan Identitas Kreatifnya

13 June 2026

Kota Makin Sesak, Sepeda Masih Berebut Ruang

12 June 2026

Perpustakaan yang Menjaga Ingatan Pulau

12 June 2026
Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

Janji Menteri LH: Tindak Kerusakan Mangrove Hingga Benahi Tata Kelola Sampah

11 June 2026
BaleBengong

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia

Informasi Tambahan

  • Iklan
  • Peringatan
  • Kontributor
  • Bagi Beritamu!
  • Tanya Jawab
  • Panduan Logo

Temukan Kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Liputan Mendalam
  • Berita Utama
  • Opini
  • Travel
  • Lingkungan
  • Sosok
  • Budaya
  • Sosial
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Arsip

© 2024 BaleBengong Media Warga Berbagi Cerita. Web hosted by BOC Indonesia