
Oleh: Agung Sudarsa
Dari Puputan Badung 1906 ke Tantangan Bali Abad ke-21
Pada 20 September 1906, rakyat Badung memperlihatkan kepada dunia bahwa harga diri, kehormatan, dan kedaulatan tidak dapat diperjualbelikan. Ketika pasukan kolonial Belanda memasuki Denpasar, Raja Badung I Gusti Ngurah Made Agung bersama keluarga kerajaan, para ksatria, pemangku, dan rakyat memilih jalan puputan: perlawanan total hingga titik penghabisan. Mereka kalah secara fisik, tetapi menang secara moral dan spiritual.
Seratus dua puluh tahun kemudian, Bali menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak lagi berupa meriam dan senapan, tetapi berupa tekanan pembangunan yang sering mengabaikan daya dukung lingkungan, alih fungsi lahan pertanian, eksploitasi sumber daya air, penguasaan kawasan pesisir, serta berbagai proyek yang berpotensi mengancam ruang hidup masyarakat dan kesucian alam Bali.
Musuh yang dihadapi bukan lagi tentara kolonial, melainkan cara pandang yang menempatkan alam semata-mata sebagai komoditas ekonomi. Jika dahulu tanah Bali hendak dikuasai oleh kekuatan kolonial, kini sebagian ruang hidup Bali terancam oleh kekuatan modal yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan ekologis dan budaya Bali.
For HATI Bali dan Lahirnya Puputan Moral
Dalam konteks inilah kehadiran Forum Pemerhati Pembangunan Bali (For HATI Bali) dapat dimaknai sebagai bentuk “Puputan Zaman Now”. Tentu bukan puputan dalam arti mengangkat senjata atau mengorbankan nyawa, melainkan puputan moral, intelektual, ekologis, dan spiritual.
Puputan abad ke-21 diwujudkan melalui keberanian menyampaikan kebenaran kepada pengambil kebijakan, mengingatkan pemerintah terhadap amanat konstitusi dan tata ruang, menjaga kawasan suci, mempertahankan lahan pertanian produktif, melindungi hutan dan sumber mata air, serta mengawal pembangunan agar tetap berpihak kepada generasi mendatang.
Jika para pejuang Puputan Badung mempertaruhkan tubuh fisiknya demi kehormatan Bali, maka generasi sekarang dipanggil untuk mempertaruhkan kenyamanan dirinya demi kelestarian Bali. Perjuangan hari ini tidak dilakukan dengan keris, melainkan dengan argumentasi ilmiah, advokasi kebijakan, pendidikan publik, dan partisipasi aktif masyarakat.
Menjaga Bali bukan Menolak Pembangunan
Sering kali kritik terhadap proyek-proyek tertentu dianggap sebagai sikap anti pembangunan. Padahal yang diperjuangkan bukanlah penolakan terhadap pembangunan, melainkan pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bali membutuhkan investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi. Namun semua itu harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, pelestarian budaya, serta penghormatan terhadap masyarakat lokal. Pembangunan yang mengorbankan sawah, sumber air, kawasan suci, dan ruang hidup masyarakat pada akhirnya akan merugikan Bali sendiri.
Aksi For HATI Bali, sebuah Gerakan Kebangkitan Bali dalam audiensi dengan Pansus TRAP 3 Juni tahun 2026 menunjukkan bahwa masyarakat tidak menolak kemajuan. Mereka hanya mengingatkan bahwa kemajuan harus memiliki arah dan etika. Pembangunan yang sejati adalah pembangunan yang mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan budaya.
Tri Hita Karana, Pancamaya Kosha, dan Kesadaran Ekologis
Dari perspektif filosofi Bali, perjuangan menjaga alam merupakan implementasi nyata Tri Hita Karana, yaitu menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesama (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).
Dalam perspektif Pancamaya Kosha, perjuangan ini mencerminkan perjalanan kesadaran manusia. Pada tingkat Annamaya Kosha, manusia berfokus pada kebutuhan fisik dan ekonomi. Namun ketika kesadaran berkembang menuju Vijnanamaya Kosha, manusia mulai mempertimbangkan kebijaksanaan, tanggung jawab moral, dan dampak jangka panjang dari setiap tindakan. Pada tingkat ini, muncul kesadaran bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri. Kerusakan lingkungan pada akhirnya adalah kerusakan terhadap diri sendiri. Karena itu, menjaga Bali bukan sekadar aktivitas sosial atau politik, melainkan juga praktik spiritual.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Fritjof Capra yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan saling terhubung dalam satu jaringan kehidupan. Apa yang terjadi pada satu bagian sistem akan memengaruhi keseluruhan sistem.
Puputan Zaman Now: Berjuang Agar Bali Tetap Menjadi Bali
Semangat Puputan Badung mengajarkan bahwa ada nilai-nilai yang tidak boleh diperjualbelikan. Pada tahun 1906 nilai itu bernama kemerdekaan dan martabat. Pada tahun 2026 nilai itu bernama keberlanjutan lingkungan, kedaulatan ruang, perlindungan kawasan suci, dan masa depan generasi mendatang.
Aksi For HATI Bali merupakan pengingat bahwa perjuangan menjaga Bali belum selesai. Bentuknya memang berubah, tetapi esensinya tetap sama: mempertahankan apa yang dianggap luhur dan bernilai bagi kehidupan bersama.
Puputan zaman now bukanlah mati demi Bali. Puputan zaman now adalah keberanian untuk berpikir kritis, bersuara jujur, bertindak bertanggung jawab, dan terus mengawal arah pembangunan agar tetap sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Bali tidak hanya diwarisi dari masa lalu. Bali juga dipinjam dari masa depan. Karena itu, menjaga Bali sesungguhnya adalah menjaga warisan leluhur sekaligus memenuhi tanggung jawab kepada generasi yang akan datang.
Inilah makna terdalam puputan pada zaman sekarang: bukan mengakhiri hidup demi Bali, melainkan mengabdikan hidup untuk memastikan Bali tetap menjadi Bali.








