
Chef Wan menyampaikan pandangannya mengenai tantangan pelestarian kuliner Peranakan dalam sesi Peranakan Kitchens: Where Cultures Become Cuisine di Ubud Food Festival 2026.
“Honestly speaking, Peranakan cuisine is actually a dying cuisine.”
(Sejujurnya, kuliner Peranakan adalah kuliner yang sedang menuju kepunahan.)
Pernyataan itu dilontarkan Chef Wan dalam sesi Peranakan Kitchens: Where Cultures Become Cuisine di Ubud Food Festival 2026. Bagi chef sekaligus duta kuliner Malaysia tersebut, ancaman terhadap kuliner Peranakan bukan terletak pada kurangnya popularitas, melainkan semakin sedikitnya generasi muda yang mewarisi pengetahuan memasak, resep keluarga, dan tradisi yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas komunitas Baba-Nyonya.
Menurut Chef Wan, kuliner Peranakan tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang migrasi dan perjumpaan budaya di Asia Tenggara. Ia menelusuri asal-usul komunitas Peranakan hingga kedatangan pedagang Tiongkok ke kawasan Nusantara dan Semenanjung Malaya pada abad ke-15. Seiring waktu, sebagian pendatang menetap, menikah dengan masyarakat lokal, dan membentuk komunitas baru yang kemudian dikenal sebagai Baba-Nyonya.
Dari percampuran budaya tersebut lahirlah tradisi kuliner yang menggabungkan berbagai pengaruh. Teknik dan bahan masakan Tiongkok berpadu dengan rempah-rempah, santan, serta cita rasa khas Melayu yang berkembang di wilayah Malaka, Singapura, Penang, hingga sebagian Indonesia.
Bagi Chef Wan, makanan selalu berubah mengikuti perjalanan manusia. Perdagangan, migrasi, hingga hubungan antarmasyarakat turut membentuk apa yang tersaji di meja makan saat ini. Menurutnya, tidak ada kuliner yang benar-benar lahir dalam ruang tertutup. Berbagai hidangan yang dikenal saat ini merupakan hasil pertemuan dan pertukaran budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Pandangan serupa juga terlihat dalam kuliner Peranakan. Meski berakar pada tradisi Tionghoa, banyak hidangannya memperlihatkan pengaruh kuat budaya Melayu. Bahkan, menurut Chef Wan, sejumlah masakan Peranakan memiliki kemiripan dengan kuliner Melayu dan Indonesia karena sejarah panjang interaksi masyarakat di kawasan ini.
Chef Wan menuturkan bahwa dirinya berasal dari keluarga Peranakan yang telah berlangsung selama lima generasi. Melalui ibunya, nenek, hingga buyutnya, ia mengenal berbagai hidangan yang tidak hanya menjadi santapan sehari-hari, tetapi juga bagian dari sejarah keluarga. Baginya, makanan bukan sekadar soal rasa, melainkan juga sarana mewariskan ingatan, nilai, dan identitas budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Meski memiliki sejarah panjang, Chef Wan menilai kuliner Peranakan kini menghadapi tantangan besar dalam proses pewarisannya. Menurutnya, semakin sedikit generasi muda yang tertarik mempelajari masakan tradisional yang selama ini menjadi bagian dari identitas komunitas Baba-Nyonya.
“More and more young people nowadays don’t know how to even cook simple food (Semakin banyak generasi muda saat ini yang bahkan tidak mengetahui cara memasak makanan sederhana),” ujarnya.
Kekhawatiran itu tidak hanya ia lihat di masyarakat secara umum, tetapi juga dalam keluarganya sendiri. Chef Wan bercerita bahwa generasi sebelumnya masih mampu memasak beragam hidangan Peranakan yang diwariskan turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, pengetahuan tersebut mulai menyusut. Jika dahulu satu generasi menguasai belasan hingga puluhan resep keluarga, kini banyak anggota keluarga yang hanya mengetahui satu atau dua hidangan.
Menurutnya, banyak resep tradisional yang perlahan menghilang bukan karena tidak lagi disukai, melainkan karena tidak ada yang mempelajarinya. Ketika generasi yang lebih tua meninggal dunia, berbagai pengetahuan memasak yang selama ini diwariskan secara lisan ikut menghilang bersama mereka. Selain itu, di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, tidak banyak anak muda yang bersedia meluangkan waktu untuk mempelajari proses tersebut.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Chef Wan khawatir kuliner Peranakan hanya akan bertahan sebagai nama atau kenangan, sementara pengetahuan dan praktik memasaknya semakin jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika dahulu memasak menjadi bagian dari rutinitas keluarga, kini semakin banyak orang yang memilih makan di luar atau menggunakan bumbu siap pakai. Beragam pasta rempah dan bumbu siap pakai kini dapat ditemukan dengan mudah di pasaran. Bagi sebagian orang, produk tersebut membantu menghemat waktu. Namun, di sisi lain, kemudahan itu juga
Ketika proses memasak tradisional mulai ditinggalkan, pengetahuan yang menyertainya juga berisiko ikut menghilang. Chef Wan menilai semakin sedikit orang yang bersedia menjalani proses panjang dalam menyiapkan masakan tradisional, mulai dari berbelanja bahan di pasar hingga meracik bumbu secara manual. Perubahan kebiasaan tersebut kini semakin umum terjadi seiring gaya hidup yang mengutamakan kepraktisan.
Sementara itu, di tengah berbagai tantangan tersebut, Chef Johnson Wong menilai pelestarian kuliner Peranakan tidak cukup dilakukan hanya dengan mendokumentasikan resep atau mengajarkan teknik memasak. Menurutnya, yang tak kalah penting adalah memahami sejarah, budaya, dan cerita yang melatarbelakangi setiap hidangan.
“You have to understand the culture (Kita harus memahami latar belakang budayanya),” ujarnya.
Chef Johnson menjelaskan bahwa banyak masakan Peranakan lahir dari pertemuan berbagai budaya yang berlangsung selama berabad-abad. Karena itu, memahami sebuah hidangan berarti juga memahami perjalanan masyarakat yang menciptakannya, termasuk nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menilai generasi muda akan lebih mudah terhubung dengan kuliner tradisional ketika mereka mengetahui cerita di balik sebuah resep dan alasan hidangan tersebut dimasak dengan cara tertentu.
Menurutnya, menjaga kuliner Peranakan bukan sekadar mempertahankan cita rasa. Pelestarian juga berarti merawat ingatan, sejarah, dan identitas budaya yang hidup di balik setiap hidangan.
Dalam banyak keluarga Peranakan, dapur bukan sekadar tempat memasak. Di sanalah cerita keluarga diwariskan, tradisi dijaga, dan identitas dibentuk dari generasi ke generasi. Namun ketika waktu, kesibukan, dan budaya serba instan semakin mendominasi kehidupan sehari-hari, ruang pewarisan itu perlahan menyempit. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi apakah kuliner Peranakan mampu bertahan, melainkan siapa yang akan melanjutkan cerita di balik setiap hidangan ketika generasi yang menyimpannya tak lagi ada.



