
Bali Bicara Pejalan Kaki menjadi ruang penting untuk membahas bagaimana jalan dan trotoar dirancang sebagai bagian dari mobilitas berkelanjutan. Dalam banyak diskusi tentang pedestrian, perhatian biasanya tertuju pada lebar trotoar, estetika kawasan, atau integrasi dengan transportasi publik. Namun ada satu perspektif yang sering luput diperhatikan, yaitu pengalaman pejalan kaki dari sudut pandang orang dengan disabilitas netra.
Bagi orang dengan disabilitas netra, berjalan di ruang kota adalah pengalaman yang berbeda. Jika sebagian besar orang membaca jalan dengan mata, maka orang dengan disabilitas netra membaca jalan melalui langkah kaki, tongkat, tekstur permukaan, serta suara lingkungan di sekitarnya. Dengan kata lain, jalan tidak dilihat, tetapi dirasakan. Oleh karena itu, kualitas infrastruktur pedestrian bagi orang dengan disabilitas netra tidak hanya diukur dari keberadaan trotoar, tetapi dari sejauh mana trotoar tersebut dapat dinavigasi secara mandiri dan aman.
Di banyak tempat, trotoar sebenarnya sudah tersedia. Namun keberadaan trotoar belum tentu berarti aksesibilitas telah terpenuhi. Jalur pemandu bagi orang dengan disabilitas netra sering kali terputus, berubah arah tanpa logika, atau bahkan berakhir tanpa petunjuk yang jelas. Tidak jarang jalur tersebut tertutup kendaraan yang parkir, pedagang kaki lima, atau berbagai hambatan fisik seperti tiang, papan reklame, dan fasilitas jalan lainnya. Kondisi ini membuat perjalanan yang seharusnya sederhana menjadi penuh risiko.
Isu ini juga berkaitan erat dengan konsep konektivitas first mile dan last mile yang sering dibahas dalam perencanaan transportasi berkelanjutan. Transportasi publik tidak hanya soal ketersediaan bus, halte, atau sistem angkutan massal (first mile). Akses menuju halte, proses menyeberang jalan, hingga perjalanan dari titik pemberhentian menuju tujuan akhir harus dapat dilalui dengan aman oleh semua orang, termasuk orang dengan disabilitas (last mile). Tanpa jalur pedestrian yang inklusif, akses terhadap transportasi publik menjadi terbatas bagi sebagian masyarakat.
Karena itu, desain pedestrian yang inklusif perlu memperhatikan beberapa aspek dasar. Jalur pemandu harus dirancang secara konsisten dan terhubung dari satu titik ke titik lainnya. Trotoar perlu dijaga agar bebas hambatan dan memiliki permukaan yang aman. Penyeberangan jalan perlu dilengkapi sistem yang membantu orientasi, termasuk sinyal yang dapat diakses oleh orang dengan disabilitas. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap kemandirian mobilitas.
Selain aspek desain, proses perencanaan juga perlu membuka ruang partisipasi bagi orang dengan disabilitas. Pengalaman sehari-hari dalam menggunakan ruang kota memberikan perspektif yang sering kali tidak terlihat dalam proses perencanaan yang hanya berbasis gambar atau standar teknis. Melibatkan orang dengan disabilitas dalam audit trotoar, uji coba jalur pedestrian, maupun diskusi kebijakan dapat membantu menghasilkan solusi yang lebih tepat dan realistis.
Penting pula dipahami bahwa desain yang ramah disabilitas sebenarnya memberikan manfaat yang jauh lebih luas. Lansia, anak-anak, orang yang membawa barang, bahkan wisatawan yang tidak familiar dengan lingkungan kota juga akan terbantu oleh infrastruktur pedestrian yang jelas, aman, dan mudah dinavigasi. Dengan demikian, pendekatan inklusif tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi meningkatkan kualitas ruang kota secara keseluruhan.
Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Bali memiliki peluang besar untuk menunjukkan bahwa ruang jalan tidak hanya indah dan menarik, tetapi juga adil dan dapat diakses oleh semua orang. Trotoar yang inklusif, jalur pejalan kaki yang aman, serta ruang publik yang mudah dinavigasi akan memperkuat citra Bali sebagai destinasi yang ramah bagi semua pengunjung dan warganya.
Pada akhirnya, ketika kita berbicara tentang hak pejalan kaki, kita juga perlu memastikan bahwa hak tersebut benar-benar berlaku bagi semua orang. Kota yang adil adalah kota yang memungkinkan setiap warganya termasuk mereka yang tidak dapat melihat jalan yang dilaluinya untuk bergerak secara mandiri, aman, dan bermartabat di ruang publik.
sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet sangkarbet





![[Matan Ai] Bali dan Pembusukan Pembangunan](https://balebengong.id/wp-content/uploads/2025/01/KOLOM-MATAN-AI-oleh-I-Ngurah-Suryawan-by-Gus-Dark1-120x86.jpg)